• PDF

Hidup: Tidak untuk dipikirkan tetapi dirasakan

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Senin, 27 April 2009 16:18
  • Ditulis oleh Kukuh Widyat
  • Sudah dibaca: 1739 kali

Hidup itu suatu kenyataan. Tetapi kenyataan inilah yang membuat kita sangat putus asa. Karena hidup ini berjalan antara harapan dan realitas sangat berbeda. Mengapa hidup ini banyak menghadapi banyak masalah. Masalah yang satu belum selesai muncul masalah baru lagi. Dan itu berjalan terus beringan seperti truk gandengan. 

Seperti kita lapar. Solusinya adalah kita perlu makan. Tetapi kita tidak punya uang untuk membeli makanan. KIta punya uang tetapi makanan yang kita beli kira-kira makanan itu membuat saya sakit atau tidak. Karena kita makan terlalu banyak sampai perut terasa sakit. 

itulah pikiran-pikiran kita yang membuat kita semakin kebingungan. Dengan pikiran kita dibawa pada seribu kemungkinan yang tidak ada jawaban yang pasti. Dengan pikiran kita berjalan menggunakan logika yang sudah melekat dalam pikiran kita. Pikiran itulah yang memaku diri kita terjebak pada rumusan matematis 1+1=2. Dengan pikiran kita dibawa pada keraguan pikiran kita benar atau tidak. Dengan pikiran akan memunculkan seribu satu kemungkinan yang jauh dari perkiraan dan pengertian kita. Bukankah pengertian kita sangat terbatas meskipun kita sudah bergelar profesor, mempunyai jabatan yang tinggi. 

Yakinkah anda dengan analisa pikiran kita bahwa itu akan menjawab realita yang sangat jauh dari pengertian kita? Yakinkah Anda dengan pikiran kita hidup akan semakin tenang? Ternyata Tidak! Coba rasakan. Coba dievaluasi setiap mengahadapi permasalah jika kita selesaikan melalui pikiran maka kita semakin tidak tenang . 

Dengan pikiran kita akan selalu menolak kenyataan hidup yang sangat menyakitkan. Kita tidak bisa menerima kenyataan menggunakan pikiran. Dengan pikiran akan terpola ... semestinya tidajk begini jadinya... Bukan ini yang aku pikirkan ... Itulah reaksi kalau kita menggunakan pikiran. Perasaan hati kita akan mengeras, beku, dan kaku. 

Tetapi dengan menggunakan perasaan hati, kita akan lebih bisa menerima setiap kenyataan yang kita alami. KIta akan merasa lebih tenang, damai. Dengan merasakan kenyataan hidup kita berjalan seperti air mengalir. Dengan merasakan kenyataan maka kita diajarkan untuk menikmati kenyataan hidup. Menikmati kita akan menemukan makna kenyataan hidup. Dengan menikmati kita akan mampu mensyukuri ternyata kenyataan pahit ini membawa hikmah bahwa kita perlu mensyukurinya. Bukannya menolak, bahkan berontak dengan kenyataan. Bukankah kita hidup bersama Tuhan Yesus bukan untuk dipikirkan tetapi untuk dirasakan. Ternyata Tuhan Yesus Maha Kasih. 

Ikut Tuhan Yesus mengajarkan kita untuk tidak memikirkan tetapi merasakan nikmat dan karunia hidup yang telah ditebus melalui kayu salib. Amin.

Malang 25 Juli 2003

*) Penulis, dapat dihubungi langsung di Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."