• PDF

Hidup itu ... Menanam

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Senin, 27 April 2009 16:20
  • Ditulis oleh Kukuh Widyat
  • Sudah dibaca: 1315 kali
Anda pernah menolong orang di pinggir jalan. Atau Anda pernah membantu menyeberangkan seorang kakek atau nenek. Lainnya Anda tidak pernah bisa menolak jika ada orang atau teman minta bantuan pertolongan Anda. Juga yang Anda sewaktu hendak berangkat kerja Anda menghampiri teman sekerja yang tidak memeiliki kendaraan untuk berangkat bersama-sama. 

Anda menanam benih hidup ketika Anda menolong orang yang tidak Anda kenal dan itu untuk pertama kalinya. Kalau Anda selalu tidak bisa menolak teman Anda buth pertolongan,
Anda memelihara benih kehidupan. Tetapi jika ada teman lain yang mengatakan, tidak usah ditolong. Itu ulat yang hendak merusak benih hidup Anda.

Segala kebaikan yang kita lakukan dalam kehidupan ini entah pada keluarga atau orang lain sekali pun, Anda menanam benih. Sepanjang hari Anda menebar benih hidup Anda di sekitar Anda. Dimana Anda berada Anda menebar benih. 

Benih itu tidak ada yang besar ukurannya. Benih itu kecil. Sederhana. Sehingga menebar benih hidup itu tidak perlu yang besar-besar tetapi butuh menebar benih yang kecil, sederhana dan Anda dapat melakukannya. Apalah artinya kita menebar benih sementara kita tidak mampu/tidak bisa menebarkannya. Seperti contoh, ada orang kecelakaan tetapi Anda ingin menolong dengan melakukan operasi. Bukan itu yang dimaksudkan. 

Benih yang kita tanam sering tidak selalu kebaikan tetapi keburukan. Keburukan karena benih itu lahir dari kedosaan, hawa nafsu, dan ego. 

Semakin nyatalah sekecil apa pun yang kita lakukan hingga saat ini, kita telah menabur benih hidup. Benih hidup mana yang telah kita tanam. Buah dari benih hidup dapat dirasakan saat ini. Jika Anda merasakan kedamaian saat ini maka Anda merasakan benih hidup kebaikan yang pernah Anda tanam. Kalau saat ini Anda merasakan kekhawatiran maka Anda merasakan benih hidup yang tidak baik yang pernah Anda sebar. 

Jika Anda membaca tulisan paling tidak Anda menanam benih hidup kebaikan, namun bisa jadi Anda tidak setuju. Tetapi bolehlah Anda bersikap demikian tetapi buah benih hidup yang Anda tanam dengan membaca ini buahnya tidak sekarang. Dan itu pasti akan ada ulat, hama yang terus berusaha merusak benih hidup tersebut agar tidak berbuah kebaikan. 

Kita tidak akan pernah tahu benih hidup akan berbuah kapan. Tetapi ingat yang Anda rasakan sampai detik ini merupakan benih hidup yang pernah Anda tanam entah kapan. 

Marilah kita sedikit demi sedikit memulai kembali menanam benih hidup kebaikan mengingat lahan yang akan kita terbari benih hidup masih luas. Karena kita tidak tahu juga entah kapan kita tak berdaya menebar, menanam benih hidup kebaikan. 

* * * *

Hak Saya Mana ?

Dalam hal pekerjaan pertanyaan di atas seringkali muncul terlebih ketika dalam pekerjaan timbul permasalahan. Salah satunya kita sudah bekerja tetapi kita masih belum juga menerima hak kita sebagai pekerja. Kita menyampaikan pertanyaan itu dengan menggunakan pengeras suara “ Mana hak kita sebagai pegawai ?” “Mari, kita menuntut hak kita kepada pimpinan !”

Konteks menutut hak tidak hanya terbatas dalam bidang pekerjaan saja. Antara pegawai dengan perusahaan. Kewajiban pegawai adalah bekerja dengan baik demi kemajuan perusahaan dan hak pegawai adalah menerima gaji. Hubungan yang demikian tanpa kita sadari terbawa saat kita mengadakan komunikasi dengan SANG PEMIMPIN PERUSAHAAN KEHIDUPAN (SPPK). Kewajiban kita sudah melaksanakan berdoa setiap hari, setiap pagi, setiap malam, masih juga menerima penderitaan, musibah, dibenci orang dan lain-lain. Sudah berdoa memohon pekerjaan masih juga belum mendapatkan pekerjaan. Sudah berdoa masih belum sembuh juga dari sakit. Itu merupakan gambaran kecil dari kewajiban yang sudah kita laksanakan tetapi masih juga tidak terkabulkan permohonan kita. Kita sudah melaksanaan kewajiban saat kita menuntut hak kita. Bukankah ada firman “mintalah (penderitaan) maka akan diberikan (kemuliaan) kepadamu “. 

Bisa jadi SPPK mengatakan “mintalah penderitaan maka akan diberikan kemualiaan kepadamu.” Tetapi yang kita dengar hanya “mintalah maka akan diberikan kepadamu” –karena saat mendengarkan firman tersebut sambil ngobrol maka dengan penuh percaya diri kita melaksanakan kewajiban dan “menagih” janji SPPK, karena kita sudah melaksanakan kewajiban. Tetapi sebetulnya pendengaran kita yang tidak beres. Dan firman tersebut disebarluaskan ke penjuru dunia dengan menggunakan pengeras suara “mintalah maka akan dinerikan kepadamu”. Dan itu disuarakan berulang kali. 

Kita sudah menyebarkan ajaran SPPK ke penjuru pelosok sebagai bukti bahwa kita loyal dan melakasakan kewajiban. Saatnya kita menuntut hak kita agar di kabulkan permohonan kita. Secara beramai-ramai kita berdoa memohon agar supaya hak kita dikabulkan. Kita men-demo SPPK secara beramai-ramai agar mengabulkan permohonan hak kita. 

Dengan penuh percaya diri kita berteriak-teriak ada firman “mintalah maka akan diberikan kepadamu,” sekarang kita meminta hak kita. Saat emosi kita memuncak dengan tuntutan hak SPPK mengeluarkan kartu trufnya. Dihadapan para demontran memutar kaset rekaman saat SPPK menyampaikan ajarannya. Diantara pendemo ada yang ikut mendengarkan ajarannya. Dan yang ikut itulah sebagai pelopor gerakan men-demo kepada SPPK. Sampailah pada penayangan SPPK menyampaikan firman “mintalah penderitaan maka akan diberikan kemuliaan kepadamu.” Dan pada tanyangan tersebut nampak jelas pelopor demo tidak mendengarkan ajaran SPPK tetapi malahan asyik berbicara dengan teman yang ada disebelahnya. 

Maka menunduklah semua peserta demo tidak terkecuali kita sebagai pelopor demo. 

Dalam tayangan rekaman tersebut dengan jelas disampaikan, keistimewaan manusia dibandingkan makhluk ciptaan yang lain adalah kita diberi hak sedangkan ciptaan yang lain tidak diberi hak. Dan hak kita yang paling besar dan paling dihargai adalah hak kita untuk memilih ikut serta menderita, malu, dicemooh, dicaci demi DIA. Dan hak tersebut menjadikan kewajiban bagi DIA untuk memberikan kemuliaan kepada kita. Itu secara otomatis. Tetapi kalau bukan hak itu yang kita pilih persoalannya menjadi lain. 

Maka berbahagialan kita yang menderita karena kita sedikit ikut merasakan sebagian kecil dari penderitaan Sang Penebus. 

Dan kewajiban kita satu-satunya adalah menurut kepadaNya. Dan kewajiban DIA kepada kita adalah memberikan kemuliaan berupa “disembuhkan” dari sakit. Dalam kondisi kesehatan yang sangat-sangat minim menurut pengamatan dokter kita masih diberi kekuatan untuk berdoa setiap pagi berpuluh-puluh kali sampai melewati batas perkiraan dokter masa hidup kita. Dan sampailah kita sadar bahwa kita tidak hanya disembuhkan tetapi dihidupkan kembali. Menurut dokter hidup kita hanya 2 bulan tetapi sudah lebih dari 2 bulan kita berdoa. Bukankah kita “hidup” kembali ? 

* * * *

Malang, 28 Agustus 2003

Koko

 

 

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."