Dimenangkan tetapi Belum Memenangkan

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
Dalam suatu pertandingan sepak bola tentu ada wasit yang memimpin jalannya pertandingan. Dan wasit harus bertindak adil bagi kedua tim. Wasit berlaku tidak adil, tujuannya salah satu tim dimenenangkan. Tim yang lain menjadi kalah. Berlaku tidak adilnya wasit memenangkan satu tim terhadap yang lain.

Demikian juga kita. Kita selalu dimenangkan hingga saat ini. Dalam sebuah pertandingan yang kita ikuti setiap hari kita selalu dimenangkan. Bahwa sebetulnya setiap hari kita ikut dalam pertandingan.
Dalam sebuah pertandingan ada yang kalah dan ada yang menang. Kita kalah jika kita tidak berdaya menghadapi lawan kita. Lawan kita adalah diri kita yang malas. Diri kita yang ragu-ragu. Diri kita yang khawatir. Itu sebagian musuh kita. Itu lawan kita. Lawan yang selalu berusaha mengalahkan kita. Musuh yang selalu mengikuti kemana kita berada. Kemana kita hendak bepergian. Harapan yang ingin kita raih. Mereka semua itu selalu-dan selalu mengikuti kemana harapan dan cita-cita ingin kita raih pun mereka ikut serta. Seakan-akan mereka tahu kemana kita hendak bepergian.

Saat pagi hari musuh kita utama adalah malas bangun pagi. Malas bagun pagi ini selalu menghantui diri kita. Masih dingin. Lebih enak bangun agak siang sedikit. Tambah tidur sebentar saja akibatnya jam bangun terlambat. Persiapan mendadak dan terjadilah kekacauan seisi rumah ribut tidak tanggung-tanggung. Itulah saat dimana musuh mengalahkan diri kita. Musuh mengharapkan diri kita mengalami kekacauan saat persiapan di pagi hari. Kalau pagi hari sudah terisi dengan kekacauan bisa jadi sepanjang hari kita akan selalu diselimuti kecacauan yang tiada pernah berhenti. Seakan-akan semuanya tidak beres.

Meskipun dalam sehari musuh menang terhadap didiri kita dan kita merasa hari ini benar-benar kacau tanpa kita sadari kita dimenangkan oleh Sang Wasit.

Dimenangkan oleh Sang Wasit karena kita dimampukan untuk menyelesaikan tugas, pekerjaan dan tanggung jawab yang diembankan kepada kita. Sang Wasit sangat tidak mau kita benar-benar dikalahkan oleh musuh kita. Atau dalam bahasa pertandingan kita kalah telak. Sang Wasit masih memberikan kesempatan kepada kita untuk menunjukkan perlawanan kita yang berarti terhadap musuh. Bentuk perlawanan kita, kita masih tetap dapat mengerjakan sampai selesai, kita tidak sampai kita berhenti di tengah jalan atau ditengah pertandingan. Sang Wasit benar-benar tidak ingin kita terhenti di tengah pertandingan kehidupan. Pertandingan kehidupan yang terus berjalan dari waktu-ke waktu dan musuh kehidupan terus menerus menyerang dan melawan kehidupan kita. Tujuan mereka sangat jelas, kita terhenti di tengah pertandingan kehidupan. Dan akhirnya kita merasa seorang diri tiada teman yang mau membantu akhirnya kita putus asa.

Sadarkah kita bahwa kita dimenangkan oleh Sang Wasit ? Tujuan Sang Wasit tidak rela kita kalah ditengah pertandingan kehidupan. Harapan Sang Wasit kepada diri kita adalah kita sesegera mungkin mengambil tindakan strategis untuk menghadapi usaha-usaha musuh. Waktu yang tersedia menurut kita tidak layak atau tidak mencukupi untuk mengambil sikap strategis. Waktunya sangat terbatas menurut perhitungkan kita sehingga kita sering-sering terlambat untuk mengambil sikap sehingga kita saat itu belum memenangkan pertandingan. Kita dalam kurun waktu yang sangat terbatas dan waktu yang sangat tidak layak di minta Sang Wasit untuk mengambil sikap strategis. Sikap strategis adalah melepaskan diri kita untuk kemudian kita serahkan seluruh ketakberdayaan kita kepadaNYa. 

Dengan kita menyerahkan keberadaan diri kita maka bukan kita lagi yang mengarahkan diri kita tetapi DIA yang menjalankan diri kita untuk memenangkan pertandingan kehidupan. Kemenangan yang paling hakiki bukanlah kita dapat mengalahkan musuh atau lawan kita tetapi ketika kita mampu membuat keputusan untuk menyerahkan diri sesegera mungkin kepada DIA. Kemenangan hakiki adalah ketika ketika melepaskan keterikatan diri kepada keragu-raguan dan kekhawatiran diri kita sendiri. Kita merasa waktu sangat minim, jelas tidak mungkin …. Tetapi bagi DIA pintu kemenangan kita masih belum tertutup selama kita cepat mengambil keputusan untuk DIA.

Mari, kita telah dimenangkan olehNya untuk itu mari kita memenangkan pertandingan kehidupan demi DIA. Amin. 

Malang, 02 Oktober 2003

Koko
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."