Menerima Kegagalan, Menuai Keberhasilan

Penilaian Pengunjung: / 1
TerjelekTerbaik 
Rupanya-rupanya banyak orang yang menolak kegagalan, tidak mengakui kegagalan. Penolakan itu dikemas sedemikian rupa dalam bentuk alasan-alasan. Alasan-alasan tersebut tidak lain untuk menutupi kegagalannya.

Mengakui kegagalan merupakan hal yang paling sulit dan tidak mengenakkan. Karena kegagaan merupakan hal yang paling tidak ingin dialami oleh setiap orang. Karena dengan mengakui kegagalan maka orang lain menilai bahwa diri kita ternyata tidak mampu, tidak bisa, bahkan bodoh. Hal yang paling berbahaya dengan kondisi diri yang tetap terus menutupi kegagalan maka dalam jangka waktu tertentu sangat tidak berguna. Bahkan sebagian besar orang yang mengalami kegagalan seakan dunia ini berakhir.


Tetapi ada yang terlupakan dalam konteks kegagalan, yaitu bersedia menerima kegagalan. Keuntungan menerima kegagalan adalah pintu kita masuk dalam evaluasi diri. Evaluasi diri bahwa kegagalan bukanlah akhir segalanya.

Jika kegagalan bukanlah akhir segalanya maka evaluasi ada hal perlu diperbuat. Memang kita telah gagal bukan berarti berhenti.Titikl. Sampai disitu saja tetapi merupan saat yang tepat untuk mengevaluasi. Evaluasi adalah kesempatan untuk menilai ulang kemampuan yang telah kita pergunakan

Kemampuan apa yang harus tetap dipertahankan, kekuatan apa yang perlu ditingkakan atau bahkan kelemahan apa yang perlu diubah menjadi faktor penguat .Karena keberhasilan bukan karena faktor kekuatan, keunggulan saja tetapi faktor kelemahan, ketakberdayaan jika diformulasi maka akan menjadi faktor penting dalam mencapai keberhasilan. Dengan syarakat bahwa kelemahan dan ketakberdayaan itu dievaluasi dengan cermat, tepat dan sungguh-sungguh.

Saat evaluasi inilah kesempatan untuk menyadari bahwa disamping kita mempunyai kemampuan, kekuatan dan kelebihan ternyata kita mempunyai segudang kelemahan, segunung kecerobohan. Kesadaran inilah momen yang tepat untuk bangkit.

Bangkit tidak dengan tangan kosong tetapi bangkit berdiri tegak membawa bekal evaluasi diri, bekal kekuatan bertambah dan kemampuan baru. Bekal ini pula yang membawa semangat baru dalam usaha kita untuk mencapai keberhasilan. Bekal ini pula yang menjadikan kita bertambah peka.

Kepekaan ini mengkondisikan kita, pikiran dan hati serta pengenalan diri menjadi tajam dalam perjalanan mencapai keberhasilan. Ketajaman bahwa untuk berhasil tidak hanya kepercayaan diri bahwa kita mampu tapi ketajaman untuk selalu menjaga diri dan mempertahankan diri kita. Mempertahankan diri dalam jalur keberhasilan.

Bekal evaluasi diri yang selalu diolah memproses kita menjadi lebih dan semakin peka. Kepekaan-kepekaan ini pula yang akan mendorong kita menuai keberhasilan-keberhasilan. Kesediaan selalu mengevaluasi diri merupakan pendorong kita menuai dan menuai keberhasilan.

* * * *

Malang, 23 Oktober 2003

Koko
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."