Belajar Taat dari Bunga Mawar

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
Saya akan menyumbang jika uang saya lebih. Atau uang saya belum cukup untuk membantu. Yang lain, dana saya belum ada untuk menymbang. Ungkapan-ungkapan sederhana itu pernah kita dengar dalam konteks memberikan bantuan, sumbangan kepada orang lain. Sebagain orang menilai “kita dapat membantu sesama jika kita memiliki uang sisa”. Secara logika ukuran tersebut masuk akal, karena darimana kita memberi sumbangan jika kebutuhan kita belum terpenuhi semuanya, atau bahkan masih kurang ? Logika-logika seperti itu semakin menguat disaa-saat ini dimana harga kebutuhan meningkat tetapi pemasukan statis. Jika logika demikian yang dipakai maka semakin banyak orang berkekurangan dan semakin bertambah orang yang egois.

Bunga mawar hanya satu yang ia miliki bau harum dalam dirinya. Tetapi bunga mawar rela memberikan bau harum di sekelilingnya. Bunga mawar sangat taat untuk membagikan harumnya bunga di sekitarnya. Dia tanpa pamrih untuk berbagi dari yang dia miliki. Mawar tidak menunggu untuk berbagai. Saatnya berbagai dia membagikan harum bunga kepada yang lain.

Ketaatan bunga mawar itulah yang patut diteladani. Kedua, berbagi tanpa pamrih, berbagi tanpa meminta imbalan dari orang yang kita beri. Sudah lepaskan saja, tidak usah ditunggu, tidak usah dinanti-nanti balasannya. Perjalanan kita lebih banyak untuk menungggu imbalan dari orang yang pernah kita bantu. Bukankah kita perlu belajar taat pada bunga mawar yang sangat taat membagikan harumnya pada sekitarnya ?

Artinya bahwa bagikanlah meskipun yang kita punya sedikit dan kecil. Jika menunggu banyak dan besar maka sampai kapan banyak dan besar yang kita punya. Bukankah manusia jika sudah banyak dan besar lebih banyak terlena oleh banyak dan besar segala yang dipunya. Selain itu bisakah manusia membatasi diri untuk mengatakan berhenti, sudah cukup ?

Hanya dengan memulai belajar memberi sedikit dari yang kita punya kita sudah mulai meneladan bukan hanya bunga mawar tetapi kita sudah meneladan Yesus yang telah memberikan nyawanya untuk menebus dosa manusia. Yesus merupakan tolok ukur ideal tetapi Allah menyediakan tolok ukur minimal yaitu berbagi ala bunga mawar.

Dengan berbagi yang kita punya pada sekitar bukankah kita juga mempermuliakan Allah. Allah sudah menjanjikan dengan kita berbagi maka Allah juga memberikan buah dari apa yang sudah kita bagikan. Bukankah misi kita dihidup adalah membagi dari yang kita terima dari Allah. Dengan cara berbagi, Allah kita permuliakan. Dengan berbagi yang kita punya maka layaklah kita menyebut diri murid-murid Yesus.

Dikatakan bunga mawar jika hakekat bunga mawar melekat pada bunga mawar, Demikian juga dikatakan murid Yesus jika hakekat murid Yesus melekat erat dalam diri kita.

“Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku”
-- Yohanes 15:8

Malang, 150904

Koko
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."