Menyikapi Badai Kehidupan

Penilaian Pengunjung: / 1
TerjelekTerbaik 
Badai kehidupan setiap saat datang pada diri kita, baik selaku pribadi, anggota keluarga maupun anggota masyarakat. Badai dalam diri pribadi seperti kekecewaan, kegagalan. Selalu anggota keluarga, keluarga mengalami goncangan, ketegangan di antara anggota keluarga. Dan badai dalam masyarakat harga-harga kebutuhan pokok merangkak terus. Itu sebagain kecil dari badai-badai yang menerpa diri.

Dengan badai datang bertubi-tubi setiap saat membuat diri kita mengalami erosi kepercayaan dan keyakinan. Satu pribadi dengan status yang berbeda dengan jenis badai yang berlainan sangat manusiawi jika mengalami goncangan keyakinan iman. Bahkan sampai putus asa. Badai kehidupan seakan-akan tiada hentinya. “Tiadakah yang datang menolong saya ?” Gerutu dalam hati .


Badai kehidupan jika disikapi dengan hati yang geram maka badai menerepa semakin kuat dan terasa kita tidak kuasa bertahan. Tetapi jika badai disikapi dengan hati yang tenang maka badai itu membawa berkah bagi diri.

Pertama, ada badai yang dipakai sarana agar diri kita “mulai” mepercayai campur tangan Allah. Kedua, ada badai yang bertujuan meningkatkan iman kepercayaan kita terhadap Allah. Dengan menyikap badai dengan hati dingin maka bisa jadi kualitas keyakinan terhadap Allah dinaikkan. Kelasnya naik, grade –nya.

Jika badai kehidupan sebagai sarana mendobrak ego dan keakuan maka terasa badai itu tiada hentinya. Karena untuk mendobrak keegoan salah satu cara mendatangkan badai agar porak poranda, bahkan tembok ego jebol. Setelah itu baru mulai di tata kembali dengan rapi dan sesuai kehendak Allah.

Mulailah secara hati-hati dan tepat untuk memilah saat menghadapi badai. Jika badai yang pertama, tujuannya agar diri ini semakin tunduk kepada Allah, tapi, jika yang kedua, Allah menghendaki diri kita semakin berkualitas di hadapan Allah dan bersiap-siap menerima berkat dari Allah.

Caranya, saat badai kehidupan datang menerpa berserulah kepada Allah, dari pada berteriak “jangan, saya takut badai, saya tidak tahan menerima badai”. Badai ini terlalu besar bagi saya. Itulah teriakan-teriakan ketakutan terhadap badai. Tetapi saat menerima badai dan kita berhenti untuk instropeksi, maka muncullah keyakinan bahwa sampai saat ini meski badai menerpa kehidupan masih berjalan dengan baik. Karena Tuhan masih tetap menyertai diri kita dengan disertai keyakinan untuk tetap terus beribadah memuji namaNya dengan segenap dan kebulatan hati.

Jadi saat badai menerpa, arahkan hati agar takut pada Allah. Tunduklah oleh tuntunanNya. Maka kita berjalan dan melayang-layang diatas badai.

“Hanya takutlah akan Tuhan dan setialah beribadah kepadaNya dengan segenap hatimu, sebab ketahuilah, betapa besarnya hal-hal yang dilakukanNya di antara kamu “ (1 Samuel 12:24)

Malang, 221004

Koko

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."