Belajar dari Kisah Abdurahman dari Maroko

Penilaian Pengunjung: / 1
TerjelekTerbaik 
Suatu hari ada seorang petani yang melewati tepian sebuah sungai. Tiba-tiba lewatlah rombongan pembesar yang menunggang kuda. Dari antara kuda itu, ada seekor kuda liar yang ditunggangi oleh seorang anak kecil. Kuda itu tiba-tiba liar luar biasa. Dia melompat-lompat sehingga penggunggang kuda itu terlempar masuk ke dalam sungai yang sedang banjir bandang. Semua orang berteriak ketakutan karena yang terlempar ke dalam sungai itu adalah anak penggede, pewaris tahta kerajaan.

Tanpa pikir panjang, pak tani langsung melompat ke dalam air, dan mengejar anak yang hampir terhanyut dibawa arus banjir tersebut.  Dan, ternyata pak tani ini jago renang sehingga dapat mengejar dengan cepat dan nyawa anak yang hampir tenggelam tersebut dapat diselamatkan.

Si anak berhasil dibawa ke darat. Begitu sampai di tepian, pak tani bertanya. "Ini anaknya siapa sich?" Ini adalah putera mahkota kerajaan Maroko yang nantinya akan menggantikan tahta kerajaan. Pak tani gembira luar biasa dan hal itu dicatatnya dalam hatinya. Dengan bangga dia berkata, saya telah menyelamatkan putera mahkota kerajaan Maroko.

Bertahun-tahun kemudian setelah peristiwa itu, terjadilah musim paceklik, dan kelaparan yang pamjang dan luar biasa di daerah Maroko. Dalam keadaan susah seperti ini, pak tani yang telah menolong putera mahkota tersebut hendak pergi ke ibukota. Dia berpikir nanti sesampai di sana dia
akan mendapatkan bantuan dari putera mahkota. Dia juga telah memikirkan apa yang akan dilakukannya sesampainya di ibukota. Dia akan bersembah sujud di hadapan baginda Abdurahman sembari memohon bantuannya.

Dengan perjuangan keras yang luar biasa. Akhirnya, pak tani berhasil menembus istana dan bertemu dengan Abdurrahman yang saat itu ternyata telah menjadi penguasa. Begitu sampai dia langsung bersembah sujud di hadapan baginda Abdurrahman seraya memohon pertolongan darinya.

Lalu, Abdurrahman bertanya: "Anda siapa? Mengapa berani-berani meminta tolong kepadaku?" Lalu, dengan sukacita pak tani berkata, beberapa waktu yang lalu, ada rombongan pembesar yang lewat di sebuah sungai. Kemudian, seorang anak yang masih kecil terlempar ke dalam sungai yang sedang banjir bandang. Lalu, seseorang melompat ke dalam sungai untuk mengangkat baginda Abdurrahman.

Apakah baginda masih ingat ? Ya, saya masih ingat semuanya itu. Sayalah yang menolong baginda, jelas pak tani. Begitu mendengarkan pernyataan itu, ABDURRAHMAN menggebrak meja dengan muka yang memerah dia berkata: "saya tidak pernah berhutang budi kepada petani miskin seperti Anda
ini". Dengan suara lantang, Abdurrahman berteriak: "ajudan, penggallah kepala orang ini".

Pak tani yang pernah menolong ini hanya mengelus dada pertanda kekesalannya. Sudah ditolong malah tidak tahu berterimakasih. Peribahasa Indonesia mengatakan : "air susu dibalas dengan air tuba".

Manati I. Zega.

Surakarta, 18 Oktober 2004
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."