Buah Surga dan Buah Adam

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
Nama pisang berasal dari bahasa Sanskerta "picanga" (baca: pisyanga). Di Indonesia pada mulanya dibawa oleh orang Hindu bersamaan dengan masuknya agama Hindu di Indonesia. Nama pisang ini begitu terkenal karena di dalam kepercayaan Hindu ada kebiasaan memberi sesajen kepada arwah atau dewa. Dan, biasanya buah pisang digunakan sebagai bahan sesajen kepada Tuhannya. Umumnya buah pisangĀ  Manggala atau orang sering menyebutnya dengan nama pisang kelutuk sebagai bahan rujak manis yang dipersembahkan kepada dewa.

Ada berbagai julukan yang dikenakan kepada pisang. Orang Perancis menyebutnya dengan nama "figue du paradis" - (buah surga) dan orang Italia menyebutnya dengan nama "fico d' Adamo" - (buah Adam).

Pada zaman dahulu, ada seorang raja yang gagah perkasa, namanya Iskandar Zulkarnaen atau Alexander de Groot (Alexander Agung), beliau adalah putera Raja Philip dari Macedonia. Pada tahun 327 sebelum Masehi dia menyerbu benua India. Suatu hari sampailah ia beserta tentaranya di lembah sungai Indus. Di tempat ini terdapat hutan pisang yang sangat luas dan subur. Karena telah loyo, letih, lesu dan tidak berdaya, lalu tentara Iskandar Zulkarnaen tersebut memakan buah pisang yang telah matang di pohonnya.

Akibatnya, mereka menjadi segar dan semangat tempurnya muncul kembali sehingga dapat meneruskan perjuangan dan perjalanan yang melelahkan. Bahkan seorang dokter istana Kaisar Romawi yang bernama Antonius Musa, yang hidup sekitar tahun 63-14 sebelum Masehi, sangat menganjurkan, agar Kaisar Romawi memakan pisang setiap hari demi kesehatannya. Dan, fakta membuktikan bahwa Kaisar itu dapat sembuh dari segala penyakit yang dideritanya. Karena itu, pisang diberi nama Latin "Musa Paradisiaca".

Dari catatan sejarah di atas kita mendapatkan bahwa Alexander de Groot - Alexander Agung yang terkenal gagah perkasa sekalipun memiliki batas kemampuan. Dia dapat lelah, capek, letih, lesu dan seterusnya - dan memang inilah kondisi manusia.

Dalam meneruskan perjalanan hidup kita yang melelahkan ini, pasti kita membutuhkan Tuhan dan Firman-Nya yang dapat menopang dan menguatkan kita. Firman itu akan terus menggarap hidup kita jikalau kita percaya kepadaNya dengan segenap hati. FirmanNya berkata: "Dia memberi kekuatan
kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya. Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu dan teruna-teruna jatuh tersandung, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah."(Yesaya 40-29-31).

Manati I. Zega.

Surakarta, 25 Oktober 2004
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."