• PDF

Kekuatiran Dalam Keluarga

Penilaian Pengunjung: / 6
TerjelekTerbaik 
  • Selasa, 28 April 2009 00:32
  • Ditulis oleh Manati I. Zega
  • Sudah dibaca: 6623 kali
Apa itu kuatir?
Menurut kamus umum bahasa Indonesia kuatir artinya perasaan takut, cemas, gelisah, terhadap sesuatu hal belum diketahui dengan pasti. Kuatir memasuki semua bidang kehidupan manusia. Pemuda kuatir nanti setelah lulus tidak dapat pekerjaan. Mau menikah kuatir nanti tidak bahagia, mau dagang kuatir nanti rugi. Orang tua kuatir nanti anaknya gagal. Orang sehat kuatir nanti kalau sakit. Orang sakit kuatir nanti parah dan membawa kematian. Orang miskin kuatir bagaimana memenuhi kebutuhannya. Orang kaya juga kuatir, bagaimana supaya aman. Intinya kuatir adalah ketakutan, ketidak pastian, masalah masa nanti, tetapi sudah ditarik menjadi beban masa kini. Ketakutan 
sesuatu hal yang belum pasti, namun sudah menjadi beban secara pasti.

Janganlah kuatir.
Tuhan Yesus berkata "janganlah kuatir" ditulis lima kali dalam Injil Matius (6:25, 6:31, 6:34, 10:19). Hal ini membuktikan bahwa kekuatiran bisa menjangkiti semua orang tanpa membedakan kondisi rohani, status sosial, atau usia seseorang. Dan Tuhan Yesus melarang para pengikutnya kuatir. "janganlah kuatir"


1. Hidup kita berharga dihadapan Tuhan.
"Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? (Matius 6:25). Sebuah karunia hidup itu lebih penting daripada makanan, pakaian, keuangan, keamanan. Manusia sebagai makhluk hidup, adalah cptaan Allah yang paling mulia. Manusia diciptakan sebagai mahkota ciptaanNya, diciptakan sesuai gambar dan teladanNya. Hidup manusia lebih berharga daripada kebutuhannya. Untuk menyadarkan kita bahwa hidup kita lebih berharga daripada kebutuhan kita, bahkan hidup kita lebih berharga daripada makhluk hidup yang lain. 
Maka Tuhan Yesus memberikan dua contoh:

a. Burung-burung.
Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? (Matius 6:26).

Gambaran burung, menunjukkan kepada burung pipit (Matius 10:31, Lukas 12:7). Burung pipit adalah seekor burung yang tidak ada harganya. Burung pipit (strouthion=Yunani). Bila musim semi banyak diladang, namun kadangkala hinggap di gedung-gedung di Palestina. Diladang menjadi musuh petani, di gedung membuat kotor. Orang dewasa tidak akan memelihara burung pipit, kecuali hanya untuk mainan anak-anak kecil. Namun demikian burung yang tidak dipelihara oleh orang dewasa, burung yang tidak ada harganya, ternyata Tuhan memelihara. Apalagi kita, manusia makhluk yang berharga. Yesus menjelma menjadi manusia, mujizat-mujizatNya memberikan bukti bahwa Ia peduli kepada manusia, Mengapa kita kuatir?

Apakah burung pipit itu bekerja? Ya, burung pipit adalah burung pekerja keras, Sejak pagi ia sudah bangun dengan sukacita berkicau ala kadarnya, lalu beterbangan, mencari tanaman, biji-bijian, membangun sarang. Bila dalam musim kering burung akan berpindah jauh mencari sumber makanan. Prinsipnya burung pipit ini "tidak pasif", "tidak diam", "tidak nganggur". Burung ini bekerja, dan Tuhan memelihara. Mengapa kita kuatir? Asal kita memanfaatkan potensi kita, berusaha, bekerja dengan tulus, dengan sukacita menikmati anugrah hidup ini. Kalau kita kuatir terhadap kebutuhan hidup kita, 
keluarlah sejenak, pandanglah burung pipit. Dan dengarlah sabdaNya: Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?. Janganlah kuatir.

b. Bunga bakung di ladang
Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. (Matius 6:28,29).

Bunga bakung, tanaman umbian yang mengeluarkan bunga. Bila musim semi tumbuhan bunga bakung ada di lereng-lereng gunung, dan di ladang-ladang. Karena banyak jenisnya maka bunga bakung akan menjadi indah berwarna-warni. Namun bunga bakung tidak termasuk tanaman hias, dan tidak bertahan lama. (Matius 6:30). Sekalipun termasuk tumbuhan yang tidak berharga, namun warna bunganya tidak bisa ditandingi dengan keindahan pakaian raja Salomo (6:29). Inilah teguran 
buat kita. Bunga yang tidak berharga, namun masih bisa mekar bersaksi dengan warna dan keharumannya. Sehingga bangunan di istana Salomo diujung-ujung tiang istananya banyak diukir ornamen bunga bakung yang indah. Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya? (Matius 6:30)

Hidup manusia lebih penting daripada kebutuhannya. Kalau burung pipit dan bunga akung yang hidupnya tidak berharga saja dipelihara oleh Allah. Pasti kita yang jauh lebih berharga akan diperlihara dengan sempurna.

2. Bapa mengetahui kebutuhan anakNya.
Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. (Matius 6:32).

Orang yang tidak percaya sangat kuatir akan kebutuhannya. Sehingga kebutuhan jasmani menjadi prioritas hidupnya. Dari terbit mata hari sampai pada masuknya, kebutuhan -kebutuhan jasmani menjadi prioritasnya. Tuhan Yesus menyindir mereka dengan istilah mereka mengabdi menjadi budaknya mamon. Mamon adalah sebutan untuk kekayaan. Orang yang kuatir nasib hidupnya 
ditentukan oleh kekayaan. Tuhan Yesus bersabda: Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? (Matius 16:26 ). Orang yang kuatir adalah budak mamon. Padahal mamon adalah benda mati. Namun kita orang percaya adalah Anak Bapa di Surga. Dan Bapa di Surga sangat mengetahui apa yang menjadi kebutuhan anak-anakNya. Jikalau kita sedang menjadi budaknya mamon, pantas saja kita kuatir. Karena ia adalah benda mati yang dikejar-kejar oleh banyak orang yang tidak mengenal Allah. Namun jikalau kita menyadari Allah adalah Bapa kita, Allah yang Maha Hidup sanggup memelihara kebutuhan anak-anakNya secara sempurna. Kita tidak perlu kuatir.

3. Allah lebih besar daripada masalah kita.

a. Prioritaskan hidup pada kehendak Allah.
Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. (Matius 6:33). Ini masalah prioritas. Bila ada dua hal yang penting antara kerajaan dunia 
(mamon), dan kerajaan Allah. Maka kita harus memilih salah satu. Kita tidak bisa hidup di persimpangan, lebih tidak bisa berjalan dalam dua jalan yang berbeda. Kita harus memilih salah satu. Dan Tuhan menawarkan "carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya". Apa maksudnya? Kerajaan Allah adalah suatu sistem pemerintahan dimana Allah menjadi rajanya. Singkatnya 
prioritaskan Allah menjadi raja dalam hidupmu. FirmanNya menjadi kebenaran dalam hidupmu. Seorang yang berada dalam posisi penyerahan kepada Allah, dan percaya kepada FirmanNya, tidak akan kuatir. Sebab "semuanya itu akan ditambahkan kepadamu".


b. Menyerahkan segala kuatir kepada Allah.
Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu. (1 Petrus 5:7)
Kuatir tidak bisa kita bawa sendiri. Dan tidak ada gunanya, tidak ada untungnya. Kuatir harus kita serahkan kepada Allah. Kata "serahkan" adalah sebuah kata yang diambil dari Mazmur 55:23. Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah. Dalam Alkitab PL berbahasa Yunani (LXX) 
serahkanlah artinya melontar, atau melempar. Jadi kuatir itu tidak boleh berlama-lama dalam hidup kita. Kita harus segera melempar, menyerahkan sepenuhnya kepada Tuhan. Apabila kuatir sudah menjangkiti kita, dan apa bila hidup kita sudah goyah sempoyongan, maka cepat saja. berlutut, berserah, lemparkan kuatirmua pada Allah. Alasanya sangat jelas : Ia akan memelihara engkau.

c. Berdoa dengan mengucap syukur.
Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. (Filipi 4:6)

Ada cerita ringan. Seorang suami memberikan sebuah sebuah gaun batik yang indah kepada istrinya. Istrinya sangat senang. Namun begitu gaun batik mau dipakai, ada satu kancing baju yang terlepas. Maka wajah istri yang berseri-seri berubah menjadi kusam. Konsentrasinya bukan pada gaun yang 
indah, tetapi pada satu kancing baju yang terlepas. Rasa bersyukur telah hilang diganti bersungut-sungut. Demikianlah hidup kita. Terkadang masalah-masalah kecil yang belum jelas kepastiannya sudah membuat kita kuatir. Dan kuatir tersebut menjadi konsentrasi kita, sehingga kita tidak bisa menikmati berkat-berkat Allah yang lebih besar. Orang yang belum bisa memiliki mental bersyukur, akan dikuasai bersungut-sungut dan kuatir. Mengucap syukur adalah cara mengatasi kuatir. Konsentrasikan hidup kita pada berkat Allah, Firman Allah, mujizat-mujizat Allah, dan jangan pada masalah. Berdoalah dengan mengucap syukur.

d. Milikilah iman yang teguh.
Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama. (1 Petrus 5:9). Kuatir adalah masalah hidup kita dengan kebutuhan kita. Namun Iblis bisa memanfaatkan kuatir tersebut untuk menggocangkan iman kita. Iblis akan menuduh, mendakwa bahwa kita orang yang lemah, Allah tidak peduli, FirmanNya 
tidak bisa dipercaya. Dari satu masalah saja yaitu kuatir, bisa dijadikan alat oleh Iblis untuk menghancurkan iman kita. Dalam perumpamaan penabur. Orang yang telah mendengar Firman Allah ternyata kekuatiran bisa membuat orang Kristen imannya. tidak berfungsi "kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah". (Matius 13:22 ). 
Kita harus memiliki iman yang teguh. Iman yang kuat. Kita harus merendahkan diri di bawah kuasa Tuhan. Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya. (1 Petrus 5:6). Bagi Petrus yang menulis ayat ini istilah tangan Tuhan yang kuat mengingatkan akan kekuatan Tuhan dalam perjanjian Lama, taktala Allah membebaskan Israel dari Mesir. Allah mampu memberikan tulah kepada Mesir, Allah mampu membelah laut. Allah mampu menuntun dan mencukupi kebutuhan seluruh bangsa Israel selama empat puluh tahun. Tangan Tuhan yang kuat inilah yang bisa dipercaya oleh kita agar kita tidak perlu kuatir. Milikilah 
iman yang kuat bahwa tangan Allah terlebih kuat dibandingan masalah kita.


Surakarta, 7 Februari 2005


Manati I. Zega
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Johanna  - kekuatiaran   |125.165.24.xxx |28-01-2010 20:49:46
Bpk/Ibu,Manati I, sekalipun ini udh berlangsung lama di website ini, syukup pd
Tuhan, sy msh dibri kesempatan oleh Tuhan utk membacanya, sehingga sungguh sy
dikuatkan,seblmnya sy tertekan sekali, kuatir akan beban hidup keluargaku dlm
hal keuangan, tentu dlm hal utang2 kami,namun setelh sy membaca renungan ini,
sungguh ada ketenangan, damai, dan sy akan melempar kekuatiranku ini kepada
Tuhan yg mengasihiku dan keluargaku, Biarlah sy merindukan Tuhan memelihara
keluargaku, dan nantinya kami akan mengatasi masalah2 kesulitan keuangan kami.
amin, Jbu. salam damai, Johanna
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."