• PDF

Dengarkanlah, Alam Berkhotbah

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Selasa, 28 April 2009 00:35
  • Ditulis oleh Manati I. Zega
  • Sudah dibaca: 2143 kali
Membuka lembaran yang baru di tahun 2006, berbagai peristiwa mengejutkan terjadi di sekitar kita. Permulaan tahun anjing dalam penanggalan Cina tersebut, menyentak kita dengan berbagai bencana memprihatinkan yang melanda negeri tercinta, Indonesia. Bahkan, sehari sebelum meninggalkan tahun 2005, bom kembali mengguncang kota Palu dan korbanpun berjatuhan.

Memasuki tahun 2006, bencana alam berupa banjir bandang dan tanah longsor mengguncang Jember – Jawa Timur, dan lagi-lagi menelan korban. Rasanya, masalah Jember belum selesai dibicarakan, bencana tanah longsor kembali terjadi di Banjarmangu, Banjarnegara dan juga di Boyolali Jawa Tengah. Sementara saya menulis artikel ini, Buletin Siang RCTI (Jumat, 6 Januari ‘06) memberitakan bahwa debit sungai Bengawan Solo dan Bratas naik, dan telah menggenangi rumah-rumah penduduk di Ponorogo Jawa Timur. Saya tidak tahu daerah mana lagi yang akan menunggu gilirannya. Bahkan menurut data Badan Meterologi dan Geofisika (BMG), sekitar pertengahan Pebruari 2006, curah hujan masih tinggi.

Nampaknya, bencana terus mendera negeri ini. Tidak henti-hentinya berbagai persoalan pelik dan membuat kepala pusing tujuh keliling, menjadi bagian dari pergumulan kita sebagai anak bangsa yang dengan mata kepala sendiri menyaksikan betapa pedihnya penderitaan itu. Banyak pihak mulai saling tuduh dan meminta agar bertanggungjawab terhadap bencana yang sedang melanda bangsa dan negara kita.
Namun perlu dipikirkan secara dewasa, apakah dengan cara saling tuduh dan meminta pertanggungjawaban satu terhadap yang lain dapat memberi solusi yang dibutuhkan? Bukankah pribadi yang sedang dimintai tanggungjawab sesungguhnya sedang bingung dan tidak tahu harus berbuat apa? Bukankah dengan cara demikian, sedang menciptakan masalah baru yang bagaikan lingkaran setan yang sulit dicari jalan keluarnya?

Sebagai hamba Tuhan, tentunya saya melihat bencana yang terjadi dari sudut yang berbeda. Sebagai rohaniwan yang terus bergumul habis habisan untuk memikirkan berbagai masalah sosial yang melanda tanah air ini, mengajak pembaca sekalian untuk melihatnya dari sisi iman yang dewasa.

Bencana yang terjadi adalah khotbah alam yang hendak menyadarkan manusia tentang berbagai hal. Kadang kala khotbah mimbar tidak dipedulikan lagi, kalau perlu dicerca dan dicacimaki. Kalau boleh, pendeta atau romo tidak usah terlalu keras dalam menyampaikan kebenaran Firman Tuhan. Tidak usah menyinggung dosa. Tidak usah mengingatkan untuk kembali kepada Tuhan dan seterusnya.

Namun, bencana adalah khotbah keras yang hendak menyampaikan pesan-pesan ilahi bagi manusia. Apakah isi khotbah alam itu? Berikut beberapa hal yang perlu kita refleksikan.

Bencana Sapaan Yang Menyadarkan.

Saya teringat ketika berkunjung ke Nias pasca gempa pada bulan Mei 2005 tahun lalu. Seorang rekan mengajak saya melihat reruntuhan rumah di daerah Landatar kelurahan Ilir Gunung Sitoli. Begitu sampai di tempat itu, sesuatu yang aneh saya rasakan. Saya adalah seorang yang selalu berpikir rasional dan jarang sekali meneteskan air mata. Tetapi, kali itu, di atas puing-puing tersebut Tuhan menyapa dan seolah hendak mengatakan bahwa segala sesuatu adalah kesia-siaan.

Saudara-saudara di Nias sana, berjuang mati-matian mengumpulkan harta, tetapi dalam sekejap habis ditelan bumi. Bukankah itu sebuah kesia-siaan? Walaupun hal ini tidak berarti bahwa manusia tidak perlu berusaha, tidak perlu bekerja keras, cukup berdoa dan menantikan mukjizat Tuhan. Bukan itu yang saya maksud. Tetapi, yang dimaksud adalah jangan sampai manusia tidak mengingat dan menghormati Tuhan lagi. Tidak jarang ketika seseorang menjadi kaya raya, lalu melupakan segalanya, termasuk melupakan Tuhan dan menganggap Tuhan tidak ada. Atau, meminjam istilah Frederich Nietzsche, seorang Filsuf yang mengatakan “God is already death” – Allah sudah mati.
Saya terkesan pada statement yang diucapkan oleh pengkhotbah dalam perayaan Natal bersama masyarakat Nias dengan Presiden RI dan Presiden Timor Leste tanggal 25 Desember 2005 lalu. Statement itu menyebutkan “tidak menghormati Tuhan, bencana akan datang lagi”. Statement ini terkesan arogan, namun benar adanya. Dan, sayapun setuju. Tidak jarang banyak orang yang hidup di zaman yang bengkok ini, hidup jauh dari Tuhan. Kelihatannya dekat dengan Tuhan, tetapi sesungguhnya sangat jauh. Kelihatannya beragama dan taat menjalankan aturan-aturan agama yang diyakininya, namun sesungguhnya hidup kesehariannya tidak berbeda dengan atheis yang menolak Tuhan. Karenanya, sapaan-sapaan kasih melalui khotbah alam hendak mengingatkan kita untuk segera kembali ke jalan yang benar, jalan yang seturut dengan kehendak Allah. Buang kemunafikan dan jebakan religiositas buta, tetapi hiduplah dalam keontetikan dengan integritas yang tinggi berdasarkan Firman Tuhan.

Bencana Sarana Pemersatu.

Saya harus berkata dengan jujur bahwa bangsa kita masih terkotak-kotak dalam sebuah “box ajaib” yang bernama SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar golongan). Sebagian di antara kita menganggap bahwa perbedaan sebagai sesuatu yang harus dihapuskan dan bukan sebagai aset atau sebagai kekayaan bangsa yang harus dihargai.

Namun, ketika bencana datang menyapa nampaknya semua kotak perbedaan disingkirkan. Yang ada hanyalah sebuah hasrat untuk meringankan beban sesama tanpa mengingat lagi perbedaan suku, agama, ras dan antar golongan. Tidak ada lagi agama A, B, C atau suku A, B, C, yang ada hanyalah naluri kemanusiaan untuk berempati bagi mereka yang menderita dan membutuhkan uluran tangan.

Perbedaan adalah sebuah realita. Sepanjang kehidupan masih berlangsung di bumi ini, maka perbedaan adalah hal yang tidak dapat dihindari. Lalu, bagaimana menyikapinya? Menurut seorang sosiolog, perbedaan seharusnya tidak menghalangi kita untuk bergaul dan bersahabat. Perbedaan seharusnya tidak menjadi alasan untuk menganiaya sesama yang tidak sama dengan kita.

Sisi positif yang hendak disampaikan melalui khotbah alam adalah pesan perdamaian, persatuan dan persaudaraan dalam perbedaan. Tetapi, yang perlu dijawab lebih lanjut adalah apakah kita bersatu hanya ketika bencana menerpa? Bagaimana menurut Anda?

Bencana Tumbuhkan Kepeduliaan Lingkungan.

Pada dasarnya manusia adalah pribadi egois yang berpusat hanya pada diri sendiri. Yang penting dirinya puas, yang penting dirinya senang, yang penting dirinya diuntungkan apapun terjadi tidak peduli. Bahkan yang lebih parah, ketika manusia jatuh ke dalam dosa, manusia sangat berpusat pada diri dan membelakangi Allah.
Hal yang sama juga terjadi di tengah masyarakat kita. Orang menebang hutan sembarangan akibatnya ekologi terganggu. Orang menebang hutan untuk memenuhi kepentingan sesaat, yakni mendapatkan uang dari hasil penjualan kayu. Namun, tidak pernah berpikir bahwa akibat perbuatan tersebut dapat menimbulkan bencana, banjir bandang atau tanah longsor yang menyebabkan nyawa melayang dan harta benda tertimbun tanah. Ini salah satu bukti yang menunjukkan bahwa sebagian masyarakat kita kurang peduli lingkungan.
Tatkala bencana datang, siapa yang salah? Tuhankah, atau manusia yang dengan sengaja mengundang bencana atas dirinya? Sebagian orang berusaha mencari kambing hitam atas setiap bencana yang terjadi. Namun, tidak pernah menyadari bahwa dirinyalah penyebab utama.
Lewat bencana, hati nurani kita diketuk untuk peduli lingkungan. Tidak menebang hutan sembarangan, membuat hutan beralih fungsi atau membuang sampah di tempat yang tidak semestinya, sehingga mengakibatkan banjir. Namun dengan bijaksana ikut peduli lingkungan dan menjaganya demi kenyamanan hidup bersama.
Mengakhiri refleksi ini, sebagai umat Tuhan izinkan saya mengundang pembaca untuk mempersiapkan diri menghadapi segala sesuatu yang akan terjadi. Bencana adalah khotbah alam yang hendak mengingatkan kita akan kemahakuasaan Tuhan. Tuhan Yesus berkata: “Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang. (Matius 24:42)”.

Surakarta, 09 Januari 2006

Manati I. Zega.
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."