• PDF

Perceraian Solusi Problema Keluarga?

Penilaian Pengunjung: / 3
TerjelekTerbaik 
  • Selasa, 28 April 2009 00:35
  • Ditulis oleh Manati I. Zega
  • Sudah dibaca: 3487 kali

        Akhir-akhir ini, berita tentang perceraian di kalangan Selebritis semakin heboh saja. Ada yang sudah lama merencanakannya, ada juga yang tiba-tiba muncul di media dengan pengakuan perceraiaannya telah didaftarkan di pengadilan. Sering tak terduga oleh sebagian orang. Pasangan yang kelihatan “adem ayem” – aman-aman saja, ternyata mahligai Rumah Tangganya telah lama keropos.

        Belum lama ini, seorang ibu muda menghubungi telepon seluler saya. Ibu muda ini baru saja menikah dengan suaminya kurang dari satu tahun yang lalu.

Sebelum mereka menikah, saya mendapat kesempatan konseling pranikah dengan pasangan tersebut. Dalam percakapan yang berlangsung selama 10 menit itu, dia minta saya untuk ketemu konseling karena problem rumah tangganya terlalu berat dan nampaknya sulit diperbaiki. Kami pun janjian untuk bertemu besok siang di restoran X. Besok siangnya saya dan isteri menemuinya di tempat tersebut.

        Pertemuan yang berlangsung hampir 1,5 jam tersebut, kami hanya memasang telinga untuk mendengarkan ibu muda tersebut mengeluarkan semua keluhannya. Keinginan terdalamnya adalah bercerai dengan suami yang pernah dicintainya dengan tulus hati. Nampaknya tekadnya sudah bulat dan kehadiran serta nasihat-nasihat kami tidak merubah pendiriannya. Dalam pikiran saya timbul pertanyaan, apa yang salah sehingga dahulu wanita ini berkata sangat mencintai suaminya tetapi sekarang tidak lagi. Berikut beberapa point yang saya tawarkan untuk dipertimbangkan sebagai bahan pelajaran.

Masa Pacaran: Activities Center Or Dialogue Center?

        Bagi sebagian remaja – pemuda, masa pacaran adalah masa yang membahagiakan dan menyenangkan. Dalam tahap ini, mereka mengisinya dengan banyak aktifitas yang menyenangkan. Jalan-jalan ke Mall, pergi berduaan di tempat yang disukai merupakan acara rutin yang terjadwal rapi dalam buku agenda pacaran. Akibatnya, arah dan tujuan pacaranpun menjadi kabur. Yang penting ketemu si dia dan melakukan aktifitas-aktifitas yang dikehendaki sudah cukup.

        Dalam pengalaman dan pengamatan sungguh-sungguh selama sembilan tahun sebagai pembina remaja di Gereja yang saya layani, kecenderungan setiap remaja-pemuda adalah seperti saya sebutkan di atas. Pacaran identik dengan aktifitas. Apakah ini berarti tidak boleh bersenang-senang selama masa pacaran?
Bersenang-senang tentu saja boleh. Namun harus diingat bahwa masa pacaran sesungguhnya masa persiapan untuk saling mengenal satu sama lain. Meminjam pendapat Pdt. Yakub B. Susabda, Ph.D, seharusnya pacaran secara Kristiani merupakan peralihan dari activities center ke dialogue center. Maksudnya, dialog harus lebih banyak. Mengapa demikian? Sebab dalam dialog, sebetulnya seseorang akan lebih saling mengenal siapakah calon pasangan hidupnya tersebut.

        Mengenal dengan lebih baik sangat membantu dalam realita rumah tangga, sehingga jurang yang dalam antara fantasi dan realita dapat dijembatani. Tidak jarang peceraian terjadi sebab jurang terlalu dalam di antara fantasi dan realita. Orang yang dikenalnya pada masa pacaran ternyata sangat jauh berbeda ketika masuk dalam realita kehidupan bersama.
Seharusnya pada masa pacaran dialog diperbanyak sehingga pengenalan terhadap pribadinya lebih mendalam dan ketidakcocokan dalam keluargapun dapat dihindari. Masa pacaran adalah masa yang menentukan sebelum seseorang memasuki mahligai rumah tangga.

Sesungguhnya Manusia Tidak Punya Cinta.

        Dalam contoh kasus yang saya sebutkan di atas, hanya berselang kurang dari satu tahun, wanita yang tadinya mengagung-agungkan suaminya tersebut, tiba-tiba berubah dan berkata : “saya tidak cinta dia lagi”.
Pertanyaannya dimanakah cinta yang pernah membara satu tahun yang silam itu? Bagaimana cinta yang demikian hebat, tiba-tiba tersapu bak diterjang banjir bandang?

        Ini salah satu bukti yang menunjukkan bahwa sesungguhnya manusia tidak punya cinta sejati. Yang ada hanyalah cinta pada fungsinya. Saya mencintai dia karena dia kaya dan mampu menjamin kehidupan saya.
Begitu semua itu hilang, hilang pulalah cinta tersebut. Saya mencintai dia karena ternyata dia ganteng, begitu kegantengan berlalu karena penyakit tertentu, maka hilanglah cinta.

        Mungkin Anda tidak setuju dengan pendapat di atas. Namun, coba Anda buktikan dan amati dengan serius, mungkin Anda akhirnya menyadari bahwa sesungguhnya cinta manusia hanyalah palsu. Pdt. Yakub B. Susabda, Ph.D menyebutnya dengan istilah “manipulative love”.

Refleksi Cinta Versi Tarsius Spectrum.

Tarsius Spectrum adalah primata berukuran mini serupa monyet - bermata besar. Panjang tubuhnya 9,5-10 cm. Binatang ini dikenal hidup endemik di hutan semak Sulawesi Utara. Penduduk setempat biasa menyebutnya dengan nama tangkasi.

Kehidupan binatang ini menarik untuk dicermati. Sebab, Tarsius alias Tangkasi adalah binatang anti POLIGAMI. Tarsius adalah binatang MONOGAMI yang hanya mau berpasangan dengan satu lawan jenis saja. Sifat “selingkuh” tidak ditemukan dalam diri bintang yang satu ini. Meskipun banyak Tarsius lain yang mungkin “lebih” dari pasangannya, namun dia tetap setia. Tidak tergoyahkan sedikitpun. Tangkasi punya tekad untuk mempertahankan keharmonisan di antara pasangannya.

Menurut cerita yang diyakini masyarakat Sulawesi Utara - biasanya begitu salah satu pasangan monogaminya mati, hampir dapat dipastikan pasangan yang satu lagi akan menyusul. Pantas saja jika, mantan Puteri Indonesia 2001, Angelina Sondakh yang dilahirkan di Sulawesi Utara - mengibaratkan Tarsius sebagai ungkapan misteri kisah “cinta abadi”.

Tidak bermaksud mensejajarkan Anda dengan Tarsius Spectrum, namun sifat yang baik dalam dirinya tidak salah kita pelajari. Dalam gemerlapnya dunia di sekitar kita, istilah rumput tetangga lebih hijau dari rumput di halaman sendiri, seringkali menghigapi kita.
Perselingkuhan terjadi di sekitar kita sehingga anak atau anak-anak menjadi korban. Bahkan sebagian orang berkata selingkuh itu tidak apa-apa, karena selingkuh adalah selingan indah, keluarga utuh. Siapa yang menanamkan motto seperti itu? Tiada lain setan yang berusaha menghancurkan lembaga ilahi yang bernama keluarga tersebut. Kekristenan mengajarkan berdasarkan Firman Tuhan: “Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia (Markus 10:9)". Hal yang senada ditulis juga oleh Matius: “Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia (Matius 19:6)”.

Surakarta, 11 Januari 2006

 

Manati I. Zega. 

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
anconk   |125.161.172.xxx |22-10-2009 05:11:41
sinaga  - opini     |180.243.92.xxx |13-10-2011 16:00:11
saya harap sih dapat ditemukan solusinya secara biblika agar lebih pas
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."