• PDF

Maraknya Operasi Plastik Diantara Dua Rasa: Kenyamanan Atau Pemberontakan

Penilaian Pengunjung: / 3
TerjelekTerbaik 
  • Selasa, 28 April 2009 00:36
  • Ditulis oleh Manati I. Zega
  • Sudah dibaca: 5709 kali
Akhir-akhir ini, infotainmen kembali ramai memberitakan fenomena di kalangan selebritis kita yakni operasi plastik. Sebagian selebritis berlomba untuk melakukan operasi memperbesar payudara, operasi memperbesar pinggul dan tidak tahu operasi apa lagi yang akan menyusul. Pro dan kontra pun terjadi. Khususnya di kalangan Kristen, sebagian para rohaniwan menentangnya tetapi sebagian lagi berada di posisi netral. Para penentang mati-matian memberi argumentasi logis yang ditinjau dari berbagai sudut dan disiplin ilmu, sementara yang diposisi netral, mereka lebih melihat motivasi apa yang melatarbelakangi tindakan tersebut.
Di pihak lain, para artis sendiri punya argumentasi khusus yang mungkin orang lain kurang memahaminya. Ada yang berkata harus menjalani operasi memperbesar payudara agar tambah nyaman ketika beraksi di panggung. Dengan menjalani operasi, muncul rasa percaya diri sehingga dapat memuaskan para fans yang selalu haus menantikan penampilan terbaik para idola. Yang lain berkomentar agar tambah cantik dan seksi. Cantik dan seksi merupakan dambaan kaum hawa. Rasanya senang apabila disebut cantik dan seksi. Hatinya berbunga-bunga dan helmnya langsung sesak tatkala mendengar kata “ajaib” tersebut. Meskipun harus diakui dengan jujur bahwa cantik dan seksi relatif sifatnya, tergantung dilihat dari sisi mana.

Bagi saya, alasan-alasan tersebut di atas sah–sah saja. Setiap orang dapat berpendapat apa saja termasuk pendapat irasional sekalipun. Bukankah dalam sebuah negara demokrasi kita diajari untuk menghormati setiap perbedaan? Di samping itu, kita juga harus menyadari bahwa setiap orang mempunyai hak untuk berbuat sesuatu yang dianggapnya “terbaik” bagi dirinya. Termasuk di dalamnya melakukan operasi plastik terhadap bagian tubuh yang dianggapnya menyebabkan keminderan.
Namun di sisi yang lain, sebagai orang Kristen, sebagai selebritis Kristen harus memikirkan secara dewasa apa saja yang dilakukannya. Mengapa saya mengatakan demikian? Sebab apapun yang dilakukan oleh orang percaya harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Seluruh eksistensi manusia merupakan anugerah Allah dan manusia bertanggung jawab untuk kepercayaan tersebut. Karena itu, apakah yang dilakukan memuliakan Allah atau merendahkan Allah sampai ke titik minus, manusia pun tetap dituntut pertanggunganjawabannya. Bagi saya, inilah yang sangat penting dan harus mendapat atensi kita.

Berkaitan dengan trend operasi plastik yang saat ini dilakukan oleh para selebritis Kristen dalam pikiran saya muncul dua hal. Apakah dengan melakukan hal itu sungguh-sungguh dapat menambah kenyamanan ataukah merupakan bentuk pemberontakan akibat ketidakpuasan atas karya Allah di dalam diri manusia? Memang harus diakui bahwa kenyamanan merupakan kebutuhan manusia dalam menjalankan karyanya di muka bumi ini. Tetapi kembali apakah operasi plastik tersebut sungguh membuat kenyamanan atau malah menciptakan yang sebaliknya? Beberapa tahun lalu, media massa memberitakan seorang ibu yang mau mempercantik diri dengan operasi plastik, namun yang terjadi bukanlah kecantikan yang didapatkan melainkan sebaliknya –kejelekan yang tiada banding. Kalau hal yang sama terulang lagi, lalu bagaimana? Apakah Tuhan kembali dijadikan kambing hitam dan disalah-salahkan seenaknya? Siapa yang harus bertanggung jawab apabila peristiwa itu terukir kembali?  Ada baiknya, apabila kita mempertimbangkan beberapa hal berikut agar kita – pembaca berpikir ulang jika dalam benak Anda sudah ada niat untuk melakukan operasi plastik pada tubuh Anda.

Pertama, tubuh ini bukanlah milik kita.

Secara teologis, Firman Tuhan berkata tegas bahwa tubuh ini bukan milik kita sendiri, sebab nyatanya telah dibeli dengan lunas melalui pengorbanan Kristus. Artinya, siapapun tidak berhak untuk memperlakukan tubuh ini seenaknya. Bukankah orang Kristen dipanggil untuk memuliakan Allah melalui tubuhnya? Memuliakan Allah yang dimaksud adalah menjaga, memelihara dan menerima apa adanya seperti yang diberikan oleh Tuhan. Memang dalam kenyataannya, sebagian orang kurang mampu menerima diri sendiri sehingga dia “menciptakan dirinya” menurut konsep yang dipikirkannya. Dirinya bukan lagi seperti yang ada dalam pikiran Allah, melainkan sesuai dengan pikiran terbaiknya. Bijaksana jika kita mencermati apa yang dikatakan Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus. “Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, - dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu! (I Korintus 6:19-20)”.

Saya mendapatkan kesan, ketika seseorang melakukan operasi plastik sesungguhnya merupakan bentuk pemberontakan terhadap Tuhan. Sebenarnya, dia tidak mau menerima bentuk tubuh orisinil yang diberikan Tuhan baginya. Ini sebuah bentuk protes kepada sang Pencipta, meskipun dibumbui embel-embel yang nampaknya rohani. Hal lain yang berbahaya adalah ketika seseorang menjalani operasi plastik, ada dua kemungkinan yang bisa terjadi. Pertama, semakin nyaman seperti yang diimpikan. Tubuh yang ideal, bentuk tubuh yang sesuai khayalan. Tetapi kemungkinan kedua terjadinya ketidaknyamanan karena kesalahan yang dibuat oleh dokter. Apabila telah sampai pada kemungkinan yang kedua, tentu akibatnya sangatlah fatal. Tentu saja hasilnya, tidak lagi cantik dan seksi seperti yang diidam-idamkan. Melainkan terjadilah hal yang sebaliknya - tubuhnya rusak tak berbentuk. Siapa yang layak disalahkan? Tentu diri sendiri, dan biasanya penyesalan selalu datang terlambat.

Kedua, berani tampil beda meskipun tidak berarti kuno.

Tampil beda tidaklah berarti bikin yang aneh-aneh bukan? Tampil beda berarti berdiri pada prinsip sejati yang berdasarkan sumber sejati yakni Firman Tuhan yang kekal. Banyak orang berpendapat, agar tetap eksis dalam karier pertahankanlah penampilan menarik. Pendapat ini baik dan memang seharusnya demikian. Tetapi, persoalannya adalah bagaimana cara agar penampilan itu tetap menarik? Apakah dengan menghalalkan segala cara yang bertentangan dengan kehendak Allah? Memang orang Kristen harus tetap menarik dalam penampilan, tetapi tidak dengan cara-cara dunia yang dibenci oleh sang Pencipta. Bukan pula dengan cara-cara murahan yang membawa kehancuran. Bukankah kita memiliki Allah Roh Kudus yang selalu siap membantu kita agar tetap menarik dan awet muda karena sukacita yang dari dalam? Kepada jemaat di Roma, Paulus mengatakan: “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. (Roma 12:2)”.
Sebagai orang Kristen yang telah dipanggil keluar dari kegelapan dosa kepada terang Tuhan yang ajaib, apakah kita masih tergoda untuk menambah penderitaan atas diri sendiri? Tidakkah cukup khotbah-khotbah alam yang terus didengungkan melalui berbagai bencana yang mendera negeri kita? Atau, mau tambah penderitaan baru atas diri sendiri akibat ketidakpuasan kita atas anugerahNya? Menurut Anda bagaimana? Keputusan terakhir di tangan Anda.

Surakarta, 19 Januari 2006
Manati I. Zega


Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
antonk   |125.167.187.xxx |13-12-2009 02:54:51
jelek..jelek aja sayang dri sndiri....syukuri cptaan tuhan.....masih banyk koqb
yang lbih jlek dar kt....
nadja  - gimana kalo...   |114.56.45.xxx |08-05-2010 17:20:20
gimana dengan orang yang tidak menjaga/mengontrol porsi makannya dan menjadi
orang yang gendut dan sangat gendut.apakah itu juga termasuk pemberontakan
terhadap ciptaannya? saya rasa make-up juga merupakan pemberontakkan karena
mempercantik diri keliatan lebih cantik dari wajah aslinya.operasi plastik
menurut saya adalah salah satu bentuk make-up yang sifatnya tetap dan jangka
waktunya lama. (terbatas pada operasi wajah:dagu,kantung mata,hidung,rahang)
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."