• PDF

Pohon Kelapa Tua, Inspirasi Teologis

Penilaian Pengunjung: / 3
TerjelekTerbaik 
  • Selasa, 28 April 2009 00:37
  • Ditulis oleh Manati I. Zega
  • Sudah dibaca: 2903 kali
Aneh! Itulah reaksi pertama saya, tatkala menyaksikan pohon kelapa tua yang batangnya sudah melengkung saat berkunjung ke daerah bencana tsunami tahun 2005 lalu. Tepatnya tanggal 6 Januari, saya dan tim tiba di lokasi bencana di daerah Sirombu dan Mandrehe Nias - Sumatera Utara. Meskipun daerah itu tidak separah Nanggroe Aceh Darusalam (NAD), tetapi kerusakan dan kerugian yang diakibat bencana tersebut tergolong besar. Ladang, rumah dan kebun mereka – khususnya
di sepanjang pesisir pantai disapu habis oleh terjangan tsunami yang tak kenal peri kemanusiaan itu.

Sementara sedang asyik mengabadikan foto beberapa tempat yang rusak akibat bencana tersebut, tiba-tiba mata ini tertuju pada sebatang pohon kelapa tua di tepi pantai. Pohon kelapa ini batangnya sudah melengkung, namun masih terlihat perjuangannya untuk tetap berdiri di antara hantaman badai dan terjangan tsunami. Rumah-rumah penduduk di daerah sekitarnya pada rubuh, pohon-pohon kelapa lainnya juga tumbang, tetapi pohon yang satu ini masih berdiri. 

Rasa penasaran yang tak tertahankan pun semakin menggelora dalam diri ini. Berbagai pertanyaan mulai mengalir di dalam pikiran saya, bak banjir bandang yang sulit untuk dibendung. Ya, dasar wartawan yang hasrat ingin tahunya sangat tinggi. Dan memang keberadaan saya di tempat itu, selain menjalankan tugas sebagai rohaniwan, relawan kemanusiaan juga sedang menjalankan tugas kewartawanan. Sebuah majalah rohani populer yang disegani di negeri ini, menugaskan saya sebagai wartawannya untuk meliput berita terkini di sekitar lokasi.

Pohon kelapa yang masih berjuang untuk tetap berdiri tersebut, menjadi perhatian utama saya saat itu. Mengapa? Logikanya, seharusnya pohon itu sudah tumbang. Buktinya, pohon-pohon kelapa lain di
sekitarnya juga telah tumbang dan sebagian dibawa tsunami ke laut bebas. Perlahan namun pasti, saya mengayunkan langkah dan mencoba menyaksikan dari dekat apa yang sedang terjadi dengan pohon itu. Saya perhatikan, tanah yang di bawahnya pun sebagian longsor dan telah dibawa oleh gelombang air ke laut entah ke mana. Sungguh, pohon ini menguras energi saya untuk memikirkan dan sekaligus berusaha menemukan jawaban ada apa dengannya? Bukankah dia seharusnya tumbang, pikirku berargumentasi. Tetapi, faktanya dia masih tetap berdiri dan tidak berhasil dihempas tsunami.

Otakku pun mulai berpikir keras. Bagaimana cara mendapatkan informasi tentang “pohon ajaib” ini?
Sungguh, saya tidak mau berdiam. Saya harus mencari tahu mengapa dia masih bisa berdiri kokoh sementara yang lain “ditelan” gelombang tsunami. Tidak jauh dari tempat itu, seorang Bapak sedang bekerja membereskan puing-puing reruntuhan rumahnya. Saya mendekatinya dan mengajukan beberapa pertanyaan layaknya seorang wartawan yang sedang menggali informasi. Luar biasa,
Bapak ini mampu menjawab pertanyaanku dengan lancar. Walau dia bukan seorang yang berpendidikan tinggi, tetapi nampak bahwa dia seorang yang cerdas – terbukti dari caranya menjawab. Semua keingintahuanku terjawab sudah. 

Menurutnya, pohon kelapa itu sejak kecil telah terbiasa diterpa gelombang apabila air laut pasang,
juga telah terbiasa dihantam angin kencang. Akibatnya, semakin dihantam gelombang dan angin akarnya semakin tertancap kuat di dalam tanah. Bisa dibayangkan, menurut Bapak yang memberi keterangan tersebut, usia pohon kelapa itu tidak kurang dari sepuluh tahun. Hampir dapat dipastikan juga, setiap hari terkena hantaman ombak dan tiupan angin keras, berarti setiap hari juga dia menancapkan akarnya kuat-kuat ke dalam tanah. Tidak heran kalau ketika terjangan tsunami datang, akarnya yang kuat dan dalam tidak mampu terkalahkan oleh tsunami. Batangnya pun masih tetap
berdiri meskipun melengkung akibat hantaman badai dan terpaan angin keras.

Kisah nyata di atas memberikan pelajaran-pelajaran penting yang sangat bermanfaat bagi kita. Pertama, “terpaan badai dan angin kencang” dalam kehidupan ini perlu dan dibutuhkan. Ini berarti, kita tidak bisa menganggap bahwa terpaan-terpaan itu bertujuan untuk mencelakai dan merobek masa depan kita. Kedua, “terpaan badai dan angin kencang” – berupa pencobaan hidup, sebagai sapaan penuh kasih dari Bapa yang Mahabaik. Sebaiknya, kita perlu menancapkan akar kuat-kuat ke dalam FirmanNya agar kita terus bertahan dalam menghadapi segala godaan dan cobaan yang akan
datang.

Di dalam anugerahNya, Rasul Paulus menuliskan kepada jemaat di Korintus: ”Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.
(I Korintus 15:58)”.

Tatkala ayat tersebut muncul, kondisi iman jemaat di Korintus sedang terganggu karena menyusupnya ajaran sesat di tengah jemaat. Ajaran itu mengatakan bahwa kebangkitan Kristus tidak ada. Padahal, kebangkitan Kristus dari antara orang mati adalah ajaran yang sangat sentral dalam seluruh teologi dan iman Kristen yang sejati.

Berdirilah teguh, merupakan bahasa lain dari berakar atau menancapkan akar dalam segala kebenaran Firman Tuhan yang kekal. Bersama Yesus dan FirmanNya kita dapat berdiri teguh. Tuhan memberkati. 

Manati I. Zega


Surakarta, 23 Januari 2006
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Wening Winarno  - Tolong koreksi lagi kata-katanya......   |202.138.236.xxx |04-07-2012 18:16:41
Cerita bagus dan menginspirasi tapi ada pernyataan : "Sebuah majalah rohani
populer yang disegani di negeri ini" emang siapa elu?, masak kita lebih
segan ke Majalah Rohaninya daripada ke Tuhan yang memiliki majalah ini.
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."