• PDF

Aktifis Bunuh Pendeta: Sebuah Tanggapan Dan Catatan Refleksi

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Selasa, 28 April 2009 00:38
  • Ditulis oleh Manati I. Zega
  • Sudah dibaca: 3007 kali
Spontan saya merasa kaget, tatkala menonton berita INDOSIAR, Minggu 26 Maret 2006 yang lalu. Dalam berita itu disebutkan dua orang Pendeta bersaudara didapatkan terbunuh di kamarnya yang terletak di kompleks Gereja Pentakosta di Indonesia (GPdI), Cengkareng – Jakarta Barat. Siapa ya pembunuhnya, tanya isteri yang saat itu mendampingi untuk menonton berita itu. Pasti dia orang yang tidak mengenal Tuhan, tambahnya lagi. Saya pun menganggukkan kepala pertanda setuju dengan pernyataannya. 

Kasih vs Kekerasan.

Sementara terus menunggu perkembangan berita pembunuhan dua pendeta tersebut, Harian Jawa Pos, Selasa 28 Maret 2006 membuat saya lebih tercengang lagi. Ternyata pembunuhnya bukan seorang atheis, melainkan seorang pelayan Tuhan. Artikel berjudul “Bunuh Dua Pendeta Karena Sakit Hati”, mengungkapkan bahwa pembunuhnya adalah mantan ketua komisi pemuda yang telah satu tahun menjabat sebagai ketua pemuda di gereja tersebut. Rasanya sulit untuk dipercaya, tetapi
itulah faktanya. Patut menjadi bahan perenungan bagi kita, bukankah Kekristenan mengajarkan kasih dan pengampunan? Bahkan agama Kristen dikenal sebagai agama kasih? Namun, bagaimana mungkin seorang yang tentunya telah digembleng dalam kasih, akhirnya melakukan kekerasan bahkan pembunuhan sadis yang tidak berperikemanusiaan. Bayangkan kepala pendeta dibentur-benturkan ke lantai hingga keramiknya pecah, namun pelaku tidak mempunyai rasa iba sedikit pun. Nampaknya, hatinya terbuat dari batu.
Hermanto, pembunuh dua pendeta bersaudara memberikan catatan refleksi khusus bagi kita. Ternyata, cara-cara penuh kekerasan masih juga dilakukan oleh mereka yang katanya melayani Tuhan. Orang-orang yang bertopengkan kasih, namun berhati munafik. Kasih, pengampunan ternyata hilang ketika kemarahan mencapai puncaknya. Dalam sejarah pembunuhan pertama kali di dunia ini, pembunuhan berawal dari kemarahan yang telah mencapai klimaksnya. Kain membunuh adiknya
Habel tanpa mengenal belas kasihan. Firman TUHAN kepada Kain: "Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya." (Kejadian 4:6-7).
Nampaknya kekerasan, amarah dan pembunuhan telah menjadi potret masyarakat kita dewasa ini, termasuk masyarakat gereja. Karena itu perlu merenungkan kembali Firman Tuhan yang berkata: “Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin.” (Matius 24:12). Apabila kasih menjadi dingin akan sangat berbahaya. Kasih yang seharusnya konstruktif akhirnya berubah menjadi destruktif. Karena itu, perlu memelihara kasih terus menyala dan berkobar dalam keseharian dan kehidupan Kristen kita.

Kebijakan vs Kearifan.

Pemimpin tidak pernah salah! Pemimpin adalah wakil Tuhan! Kalimat-kalimat itu terngiang kembali di
telinga saya tatkala peristiwa di atas terjadi. Sekitar tahun 1995, sebuah gereja di Yogyakarta,
tempat saya praktek pelayanan saat itu, pendeta jemaatnya selalu mencekoki jemaat dengan
kalimat-kalimat di atas. Dengan kata lain, sang Pendeta hendak mengatakan bahwa dirinya tidak mungkin salah atau berbuat salah. Sehingga ketika mengambil kebijakan pun harus diakui bahwa kebijakan itu mutlak benar dan itulah keputusan Tuhan. Sikap semacam ini NGERI! INI sangat berbahaya. Sebab dalam kenyataannya, siapa pun dapat berbuat salah. Karena itu, sesungguhnya seorang pemimpin yang bijaksana harus dengan rendah hati mengakui bahwa dirinya pun dapat berbuat salah, termasuk dalam mengambil kebijakan. Sehubungan dengan kasus Hermanto tersebut, awal masalah dimulai tatkala Hermanto sakit hati setelah korban (Pdt. Seni Lianita dan Pdt. Lusi Mulyani) mencopot jabatannya sebagai ketua pemuda GPdI. Sebab jabatan itu dipangkunya baru setahun, setelah itu dicopot dan diumumkan kepada jemaat dalam kebaktian. Saya mendapatkan kesan ternyata Hermanto merasa dipermalukan. Tanpa alasan jelas dirinya harus diberhentikan sekaligus tidak boleh memakai sepeda motor inventaris gereja. Seandainya saja, alasan logis disampaikan kepadanya, mengapa diberhentikan dan tidak boleh menggunakan inventaris gereja serta tidak usah diumumkan kepada warga jemaat, mungkin hal ini dapat diterima oleh yang bersangkutan. Dan, mungkin juga pembunuhan yang memalukan itu tidak terjadi. Peristiwa ini menjadi pelajaran yang berharga, dan dapat menimpa siapa saja. Dalam hal ini pemimpin rohani perlu memperhatikan hal yang berkaitan dengan pendekatan kompromi diplomatis. Tidak semua orang dapat menerima kebijakan pemimpin. Apalagi kebijakan itu bersifat sangat pribadi atau diterapkan kepada pribadi tertentu. Bahaya besar sedang menunggu dan iblis menggunakan kesempatan semacam itu, apabila seorang pemimpin rohani kurang arif dalam mengatasi masalah yang sedang dihadapinya. Harapan kita semua, kiranya tidak bermunculan “Hermanto-hermanto” yang lain, yang akan menghabisi nyawa pendetanya dengan cara yang sangat sadis dan tidak manusiawi.

Bawahan vs Mitra.

Sebagian pemimpin rohani dalam gereja-gereja tertentu menganggap bahwa orang-orang yang turut membantunya dalam pelayanan bukan lagi rekan kerja, melainkan seorang pegawai yang dibayarnya setiap bulan. Dari pemahaman semacam ini, maka dia bertindak sebagai tuan dan berhak melakukan apa saja yang diingininya, tidak ada lagi ikatan emosional sebagai mitra kerja yang berjuang bersama dalam melayaniNya. Seharusnya, cara berpikir demikian dibuang jauh-jauh. Mengapa? Sebab di dalam melayani sesungguhnya sedang bermitra. Mitra atau partner pelayanan yang saling
melengkapi satu sama lain. Mungkin rekannya ada kekurangan, tetapi dilengkapi oleh kehadiran rekan kerja yang lain. Apabila hal ini terjadi, saya pikir tidak mungkin terjadi pembunuhan seperti disebutkan di atas. Sebagai mitra, tentunya terjadi keterbukaan dan saling menegur di dalam kasih. Ada ikatan kekeluargaan yang kuat. Namun, seandainya ikatan semacam itu tidak ada, tidak menutup kemungkinan saling menjatuhkan sesama rekan akan terjadi. Kiranya kasus ini menjadi pembelajaran berharga.


Surakarta, 3 April 2006

Manati I. Zega
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."