• PDF

Anak Burung Dan Sangkar Jeleknya

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Selasa, 28 April 2009 00:39
  • Ditulis oleh Manati I. Zega
  • Sudah dibaca: 2186 kali
Pada suatu hari, seorang hamba Tuhan pergi melayani ke suatu tempat, yakni sebuah desa yang jauh dari pusat kota. Agar dapat sampai ke tempat pelayanan itu, dia harus berjalan kaki melewati hutan dan jalan setapak.

Hutan rintik-rintik pun mengiringi perjalanannya ke tempat tujuan. Setelah berjalan kaki kurang lebih
satu jam, sampailah ia pada suatu tempat. Di sana ia bertemu dengan seorang bocah kira-kira berusia Sekolah Dasar (SD). Bocah tersebut sedang memegang sangkar berisi tiga ekor anak burung di dalamnya. Ketiga anak burung itu kelihatannya lemas, mungkin karena tidak diberi makan. Selain itu, ketiganya berada dalam sebuah sangkar yang tidak layak huni.

Lantas, hamba Tuhan ini mengajukan pertanyaan pada anak kecil tersebut. “Anakku, anak burung ini nanti mau diapakan?” “Ya, saya nanti mau mencabuti bulu-bulu mereka, ‘kan kelihatan lucu jika
burung-burung itu merintih kesakitan”. Selanjutnya, tindakan apa yang akan kamu lakukan, tanya hamba Tuhan itu penasaran. Apabila bulu-bulunya telah habis, saya akan melemparkan mereka untuk diterkam oleh kucing-kucing saya yang sedang kelaparan.

Dasar hamba Tuhan, rasa ibanya pun segera datang dan langsung merenungkan nasib anak-anak burung tersebut. Lalu dia berpikir sejenak, bagaimana cara memberi pertolongan. Tiba-tiba muncullah ide untuk menawarkan sesuatu kepada bocah tersebut. ”Nak, bolehkah saya membeli anak burung itu?” "Bapak, jangan main-main dong, siapa yang suka dengan anak burung sejelek ini?" “Saya serius dan mau membelinya? Berapa harganya?”. "Bapak serius?" tanya anak ini keheranan. "Ya.." jawab
hamba Tuhan tersebut. "Sekian harganya," tegas anak kecil itu.

Tidak lama berselang, hamba Tuhan tersebut mengambil uang dari dompetnya dan menyerahkannya kepada anak kecil itu sesuai permintaannya. Sang anakpun berlari kegirangan meninggalkan hamba Tuhan tersebut. Nampaknya dia sangat senang dan bergembira karena mendapatkan uang dari hamba Tuhan yang baru saja ditemuinya tersebut.

Tindakan hamba Tuhan ini mampu membebaskan ketiga anak burung jelek itu dari siksaan dan kematian konyol. Lebih daripada itu, di tengah perjalanannya menuju ladang pelayanan, burung-burung itupun dilepaskan sehingga mereka dapat terbang bebas di angkasa raya dan kembali berjuang untuk bertahan hidup.

Kisah di atas merupakan gambaran kehidupan umat manusia. Seharusnya, kita seperti anak burung yang siap disiksa serta diterkam kucing dan mati tanpa arti. Tetapi, Kristus hadir menebus kita dari semua hukuman dan siksaan dosa. Kristus hadir membebaskan kita bahkan sebelum kita memikirkannya. Alkitab menyaksikan: “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” (Roma 5:8)

Surakarta, 11 Mei 2006


Manati I. Zega
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."