• PDF

Hanya 57 Detik Saja (Coretan Refleksi Sekitar Gempa Jogja dan Jateng)

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Selasa, 28 April 2009 00:40
  • Ditulis oleh Manati I. Zega
  • Sudah dibaca: 1834 kali
GEMPA! Itulah kata yang menakutkan bagi sebagaian besar masyarakat Indonesia, bahkan masyarakat dunia. Setelah peristiwa tsunami yang meluluhlantakkan Serambi Mekah, 26 Desember 2004 yang lalu - GEMPA NIAS yang menghancurkan Nusa Indah Andalan Sumatera 28 Maret 2005 serta GEMPA Jogja dan Jawa Tengah 27 Mei 2006, kini kata tsunami dan gempa menjadi momok yang
menakutkan.

GEMPA yang meluluhlantakkan Jogja dan Jawa Tengah memang sungguh di luar prediksi manusia. Sementara masyarakat sedang memprediksi kapan akan meletusnya Gunung Merapi, namun justru gempa lebih dahulu menyapa.

GEMPA Jogja dan Jawa Tengah yang menurut Breaking News METRO TV, 27 Mei 2006 tersebut berada pada kedalaman 33 KM di Samudera Indonesia, yakni sekitar 37 KM arah Selatan kota Gudeg tersebut.

GEMPA yang berkekuatan 5,9 Skala Richter menurut data BMG ternyata telah menyebabkan ribuan nyawa melayang. Sementara sekitar pukul 05.53 WIB pagi itu, sebagian warga masih terlelap, maut datang menjemput mereka. Kurang dari 1 menit, sekitar 57 detik saja GEMPA telah menorehkan luka yang amat dalam bagi Indonesia, khususnya bagi keluarga yang masih hidup dan telah ditinggalkan oleh orang-orang yang mereka cintai.

WILLIAM DURANT, seorang Filosof berkata: “orang yang tidak belajar dari sejarah adalah orang yang
kehilangan identitas,” atau “orang yang sedang berusaha merusak masa yang akan datang.” Berbagai
peristiwa pahit dan bencana telah melanda negeri ini. Tidakkah kita perlu berefleksi dari semua yang telah terjadi?

Apabila kita belajar dari sejarah, maka ALLAH dan MANUSIA merupakan dua unsur penting yang sangat menentukan. Allah mengontrol jalannya sejarah dan manusia merupakan bagian dari sejarah tersebut.

Kembali ke masalah GEMPA. Apabila kita menganggap bahwa gempa merupakan bagian dari sejarah perjalanan bangsa kita, maka perlu merenungkan beberapa hal berikut ini.

I. BETAPA DAHSYATNYA TUHAN.

Lempengan di bawah bumi saja bergesek/bergerak, sudah menimbulkan masalah yang sangat serius bagi umat manusia. Apa yang selama ini diandalkan dan dibanggakan: rumah yang bagus, kamar mewah ber AC, jabatan, mobil yang bagus keluaran terbaru dari pabriknya, isteri/suami yang cantik/ganteng, anak-anak yang masih lucu-lucu, harus berpisah dengan terpaksa disertai linangan air mata.

Lempengan yang bergesek/bergerak hanya sebagian kecil dari ciptaan Tuhan. Coba bayangkan kalau solar sistemnya bertabrakan, bukankah semua manusia habis lenyap?

Secara pribadi, saya semakin sadar bahwa Tuhan itu luar biasa, kekuatannya dahsyat. Karena itu, tidakkah bijaksana jika kita semakin berpaut kepadaNya?

II. SETIAP SAAT MAUT SIAP MENGANCAM.

Kalau boleh jujur, sesungguhnya maut merupakan kata yang tidak disukai oleh banyak orang. Seandainya seseorang datang dengan pertanyaan: “kapankah ANDA mati?” Pertanyaan itu tentu membuat orang akan marah atau tersinggung bukan? Mengapa marah atau tersinggung? Karena sesungguhnya manusia belum siap mati. Masih ingin menikmati kehidupan di planet nomor tiga dalam susunan tata surya kita ini.

Tetapi, tahukah Anda bahwa setiap saat maut mengintip kehidupan Anda? Mau atau tidak mau, maut itu akan datang menyapa Anda bukan? Peristiwa GEMPA Jogja dan Jawa Tengah merupakan “khotbah” yang sedang berkumandang mengingatkan kita untuk mempersiapkan diri menghadapi KEMATIAN. Musa mengingatkan kita dalam doanya yang tertulis dalam Mazmur 90:12 yang mengatakan: “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” Ketika Petrus membicarakan tentang HARI TUHAN, dia mengatakan demikian: “Akan tetapi, saudara-saudaraku yang kekasih, yang satu ini tidak boleh kamu lupakan, yaitu, bahwa di hadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari.”
(2 Petrus 3:8)

III. KEBERSAMAAN DALAM PERBEDAAN.

Ketika saya dan rombongan gereja mengunjungi korban gempa di Klaten, tepatnya di dukuh CANAN-Margorejo dan GANTIWARNO, ternyata kebersamaan dalam geliat perbedaan tampak sangat jelas. Bahkan gema perbedaan telah sirna ditelan bumi. 

Sebuah gereja di desa itu menjadi posko kemanusiaan dan melayani masyarakat tanpa membedakan SARA. Demikian juga warga desa tanpa curiga menerima pelayanan dan bantuan yang disalurkan melalui gereja itu, tentunya dengan motivasi yang tulus. Padahal, ketika semuanya aman, seringkali kita mendengar isu provokatif Kristenisasi didengungkan begitu kuat oleh mereka yang hobi mengadu domba.

BENCANA, mengingatkan kita untuk menjauhi permusuhan dan membangun PERSAUDARAAN dalam perbedaan. Pemimpin Agama sering kurang menyadari bahwa mereka telah menjadi biang provokasi, tetapi BENCANA menjadi biang PEMERSATU.

Haruskah BENCANA mendera baru kita bersatu? Bagaimana?


Surakarta, 12 Juni 2006

Manati I. Zega
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."