• PDF

Mutiara Dibalik Pengalaman GEMPA JOGJA dan JAWA TENGAH

Penilaian Pengunjung: / 2
TerjelekTerbaik 
  • Selasa, 28 April 2009 00:41
  • Ditulis oleh Manati I. Zega
  • Sudah dibaca: 11526 kali
Manusia adalah pribadi yang memiliki kemampuan untuk menilai. Sangat berbeda dengan makhluk yang lain, yang tidak bisa menilai apapun yang melanda hidupnya. Manusia selalu mengevaluasi peristiwa pahit yang terjadi dalam hidupnya dari sudut pandang tertentu.

Peristiwa gempa yang meluluh lantakan Jogjakarta dan Jawa Tengah pukul 05.53 WIB, 27 Mei 2006 yang lalu, tidak luput dari penilaian. Beberapa milis yang Penulis ikuti, berbagai komentar muncul di sana. Sebagian berkata bahwa peristiwa itu sebagai teguran bahkan hukuman Tuhan. Yang lain berkata hal itu hanya fenomena alam belaka karena gesekan lempengan di dalam perut bumi. Dan, beragam komentar lain tergantung dari sudut mana seseorang menilainya.

Penilaian di atas sah-sah saja. Namun, satu pertanyaan mendasar yang perlu dipikirkan secara dewasa adalah, “apakah penilaian-penilaian tersebut mutlak benar?” Atau, justru penilaian-penilaian itu menggiring pemikiran seseorang untuk menghakimi sesamanya yang sedang menderita? Bukankah menyakitkan jika Anda berkata bahwa gempa jogja dan Jawa Tengah akibat hukuman Tuhan? ADUH, betapa kejamnya Tuhan itu.

Bagi yang sedang bermasalah, sedang menderita, penilaian-penilaian yang kurang arif akan membawa sensitifitas tersendiri. Sikap sensitif sangat mudah ditemui di antara sesama anak bangsa yang sedang dilanda kesusahan. Karena itu, sangat bijaksana untuk tidak cepat-cepat menilai, apalagi penilaian yang bernada negatif. Penilaian seperti itu dapat dengan mudah memunculkan prahara baru di antara sesama di muka bumi Mataram ini. Yang kita tahu dengan pasti adalah GEMPA TELAH MELANDA Jogjakarta dan Jawa Tengah, selebihnya hanyalah sebuah penilaian.

Yang kita tahu pasti berdasarkan data Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), Gempa yang terjadi di
Jogjakarta berada pada kedalaman 33 KM di Samudera Indonesia atau sekitar 37 KM ke arah Selatan kota pelajar tersebut. Bagaimanakah seharusnya kita memaknai dengan bijaksana bencana yang melanda kota Gudeg ini? Apakah harus dilihat dari sisi gelap atau sisi yang negatif saja? Ataukah ada sisi lain yang lebih membangkitkan semangat untuk berefleksi dengan benar? Bagaimana menurut Anda? 

Menurut Penulis, paling tidak ada tiga mutiara berharga dan bernilai positif yang dapat dipetik hikmahnya sebagai bahan pembelajaran.

Gempa Mengingatkan Betapa Hebatnya Tuhan.

Hasil karyaNya menunjukan betapa dahsyat dan hebatnya Tuhan itu. Bumi beserta segala isinya adalah ciptaanNya dan bukan hasil proses evolusi sebagaimana dipopulerkan oleh CHARLES DARWIN, tokoh dibalik teori evolusi. 

Kehebatan Tuhan salah satunya dapat dilihat ketika gempa terjadi. Begitu lempengan dalam perut bumi itu begerak, ribuan nyawa melayang di Jogjakarta dan Jawa Tengah. Bukankah hal ini merupakan hal yang luar biasa tentang kemahakuasaan Tuhan. Tatkala menulis artikel ini, Penulis sedang memikirkan apabila Tata Surya kita ini tidak diciptakan dengan teliti, lalu bertabrakan karena keluar dari lintasannya, bukankah masalah besar akan melanda planet nomor tiga dari Solar Sistem ini?

Secara religi, gempa mengingatkan kita tentang adanya Tuhan yang berkuasa atas alam semesta dan sekaligus berkuasa atas umat manusia. Dalam keadaan normal, manusia sering melupakan atau kurang peduli dengan Penciptanya. Tetapi, begitu bencana menyapa, manusia ingat Penciptanya yang sudah lama “dicuekin”.

Gempa Melatih Kepekaan Sosial.

Dari sisi SOSIO ANTROPOLOGI, gempa seolah menyapa umat manusia untuk latihan kepekaan sosial terhadap sesama yang berduka atau menderita. Mengapa Penulis katakan sarana latihan? Sebab pada dasarnya di dalam diri manusia ada sifat EGO SENTRIS, berpusat pada diri sendiri dan kurang peka dengan sesama disekitar kehidupannya. Contoh yang paling dapat diamati terjadi di antara masyarakat perkotaan, orang terlalu egois dan tidak mau ambil pusing dengan orang lain. “Siapa lu siapa gua”, mungkin itulah istilah yang tepat untuk menggambarkan keadaan sosial masyarakat
perkotaan.

Tetapi begitu bencana terjadi, kelompok-kelompok masyarakat atau individu mulai menggeliat untuk
berbuat sesuatu. Menggalang dana untuk korban, memberikan bantuan obat-obatan, pakaian pantas pakai ataupun menjadi relawan kemanusiaan di daerah bencana. Dapat dikatakan bahwa bencana menstimulus naluri kemanusiaan kita agar berlatih peka terhadap kondisi sosial disekitar kita.

Gempa Merangsang Munculnya Kreatifitas Dunia Sains.

Disamping dampak negatif, gempa ternyata membawa dampak yang positif juga, secara khusus dalam pengembangan dunia ilmu pengetahuan. Setelah beberapa kali gempa mendera negeri ini, sekarang para ilmuwan memikirkan dengan serius masalah rumah tahan gempa. Gempa menjadi sarana “provokasi” bagi para akademisi dan pakar lainnya untuk berbuat sesuatu, yakni menyumbangkan ilmunya untuk kepentingan masyarakat dan kemanusiaan. Berbagai media, baik cetak maupun elektronik ramai-ramai mempublikasikan pendapat para pakar dan pemerhati bangunan mengenai bangunan tahan gempa.

Media Televisi juga melakukan hal yang sama. Penulis beberapa kali menyaksikan siaran langsung TV yang membahas hal tersebut. Ini berarti, bencana menantang para ilmuwan dan aktivis untuk mengembangkan ilmunya agar dapat menolong sesama. Padahal sebelum bencana terjadi, para ilmuwan tidak seserius sekarang dalam memikirkan bangunan tahan gempa. Bahkan mungkin cenderung diabaikan karena dianggap kurang relevan bagi masyarakat Indonesia yang jarang mengalami gempa.

Penerapan.

Apabila kita berpikir positif, dibalik dukacita tersimpan sucakita karena gempa menstimulus umat
manusia agar mengembangkan diri untuk berbuat sesuatu yang jauh lebih baik.


Surakarta, 19 Juni 2006


Manati I. Zega.
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
kibi  - keramat   |202.70.58.xxx |15-03-2010 20:08:57
saya menonton film "keramat",berkisah tentang kjadian dibalik gempa
jogja,ironis....sangat mebuatku sadar diri. apakah kisah itu memang benar???
nightmare  - keramat   |61.5.96.xxx |23-11-2010 20:56:09



itu nyata buktinya kamera chungkring
ada hehehehehe
asdj  - kramat   |182.9.130.xxx |02-11-2011 21:08:32
  benar benar
menakutkan film itu
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."