TIGA Hal Yang DICARI Jemaat Dari Gereja Anda

Penilaian Pengunjung: / 3
TerjelekTerbaik 
Fenomena perpindahan anggota jemaat antar gereja KERAP terjadi—khususnya pada gereja perkotaan. Perpindahan tersebut memang banyak faktor penyebab. Namun akibat perpindahan itu, antar pendeta sering bersitegang—tidak saling menyapa dalam kasih karena masing-masing pihak merasa terganggu atau dirugikan. MENGAPA perpindahan anggota jemaat terjadi? Apakah yang DIHARAPKAN, diidamkan jemaat dari gereja?

Tatkala menulis artikel ini, saya MEMPOSISIKAN diri sebagai jemaat awam. Dalam pengamatan saya, paling tidak ada tiga hal yang diharapkan—dinantikan—dirindukan jemaat dalam gereja Anda. Apakah itu?

Pertama, DOKTRIN/BELIEVE.

Dalam kelas pasca sarjana di sebuah STT di Solo, Pdt. Dr. Marulak Pasaribu, M.Div—dosen Institut Injil Indonesia Batu, Malang mengatakan bahwa doktrin sangatlah penting dalam sebuah gereja. Menurut doktor teologi, jebolan Union Theological Seminary Filipina ini bahwa doktrin yang sehat dinantikan umat sebagai sarana pertumbuhan iman.

Doktrin itu sangatlah penting. Apabila diumpamakan bangunan, maka doktrin adalah fondasinya. Apabila diibaratkan roda, maka poros adalah doktrinnya. Fenomena yang terjadi akhir-akhir ini, ada sebagian gereja/pendeta yang kurang meletakkan fondasi yang kuat dalam pelayanan Firman yang diberitakannya. Kurang menggali kebenaran Alkitab untuk diwartakan sebagai makanan rohani yang mengenyangkan jemaat. Yang penting lucu—bikin orang tertawa itulah yang dicari. Mungkin karena kesulitan hidup yang semakin berat, maka yang lucu-lucu—itulah yang diharapkan. Entahlah!

Dalam suatu kesempatan bercakap-cakap dengan Prof. Dr. Stanley Heath, D.D, Th.D --- dosen Institut Alkitab Tiranus Bandung, beliau menyampaikan kesaksian yang sungguh mengagetkan saya. Beliau berkata, seorang sarjana theologi dari sebuah kota besar di Indonesia hendak studi lanjut di Tiranus. Ketika test masuk, sarjana theologi tersebut pengetahuan Perjanjian Lama NOL BESAR, dan pengetahuan Perjanjian Baru juga sangat minim.

Kalau demikian halnya, dapat dibayangkan kualitas pelayanan Firman yang diberitakannya. Pada hal, Firman Tuhan yang benar pasti menguatkan iman jemaat. Menjawab kebutuhan jemaat di zaman yang sulit ini, jawaban paling akurat dan tepat adalah Firman Allah. Firman Tuhan mendatangkan iman. Karena itu, seorang hamba Tuhan—seorang pelayan Firman harus belajar dan menghidupi Firman Tuhan. Gereja yang benar adalah gereja yang setia kepada Firman Tuhan, bukan kepada
dongeng nenek moyang. 

Kedua, FEELING.

Liturgi merupakan salah satu unsur penting dalam ibadah. Tidak ada gereja tanpa liturgi bukan? Sesungguhnya liturgi bukan hanya berfungsi mengatur jalannya ibadah dengan tertib dan hikmat. Tetapi, juga harus mampu memberikan sentuhan pada emosi jemaat. Mungkin itu dalam pemilihan lagu yang tepat sesuai tema acara. Mungkin juga melalui musik yang dipersiapkan dengan latihan sehingga enak didengar. Terlebih lagi melalui kehadiran Roh Kudus di tengah-tengah umat-Nya yang beribadah. Ini sangat penting.

Di gereja-gereja tertentu, sentuhan terhadap emosi jemaat sangatlah tinggi, sehingga mereka yang datang dengan beban psikologis mendapat tempat untuk mengekspresikannya. Secara psikologis hal itu dapat dipahami. Orang yang beban hidupnya berat, butuh pelampiasan. Entah itu melalui lagu-lagu ataupun acara–acara menarik yang dibutuhkan oleh jiwanya yang sedang gundah. Namun sayang, sentuhan feeling sangat kuat tetapi lemah dalam hal doktrin—pengajaran Firman Tuhan yang benar. Tidak jarang isi khotbah hanyalah kesaksian-kesaksian saja. Kesaksian memang tidak salah, tetapi penggalian Alkitab jauh lebih utama dan dibutuhkan jemaat. Alkitab berkata, “Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” (Roma 10:17). Ini berarti, Firman Kristus harus diperdengarkan sehingga jemaat beriman dan tertuju pada Kristus. Bukankah begitu?

Ketiga, VALUE.

Akan sangat berbahaya apabila seseorang mengetahui banyak tentang Firman Tuhan, namun hidupnya melawan Firman Tuhan. Nilai-nilai Firman Tuhan tidak diaplikasikan dalam realita hidup sehari-hari. Tidak ada bedanya dengan para ahli Taurat yang dikecam oleh Tuhan Yesus dan Kitab Injil. Di luar kelihatannya bagus, namun didalamnya bagaikan tulang belulang yang seram dan menakutkan.

Dalam kaitannya dengan hidup berjemaat, maka buah-buah Firman Tuhan harus mengejewantah. Buah-buah Roh Kudus harus kelihatan dengan sangat jelas. Saling mengasihi di antara sesama harus menjadi prioritas. Kalau demikian halnya, maka sangat sulit bagi jemaat untuk meninggalkan gereja atau berpindah ke “lain hati”. Sangat sulit bagi jemaat untuk meninggalkan persekutuan orang beriman yang hidupnya sesuai dengan Firman Tuhan. Komunitas orang percaya seperti ini dinanti-nantikan oleh jemaat dalam gereja tempatnya berbakti. Tentunya hal tersebut dimulai dari para hamba Tuhan—para majelis—para pelayan Tuhan yang memberi hidup untuk melayani dan memuliakan DIA.

Mari membangun suasana gereja, komunitas orang beriman yang diidamkan jemaat. Gereja bukan tempat yang angker, gereja adalah tempat yang menyenangkan karena nilai-nilai iman diaplikasikan di sana. Tuhan menolong kita!


Surakarta, 2 Agustus 2006


Manati I. Zega
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."