• PDF

Yang, TUKIMIN Meninggal Dunia

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Selasa, 28 April 2009 00:42
  • Ditulis oleh Manati I. Zega
  • Sudah dibaca: 1621 kali
Mataku sedang tertuju di layar monitor komputer untuk mengedit beberapa naskah yang siap diterbitkan sebuah penerbit buku rohani di Jawa Tengah. “Mumpung hari Senin pikirku”. Mengapa? Hari senin adalah hari libur bagi saya setelah seharian penuh di hari Minggu melakukan berbagai aktivitas pelayanan. 

Sesekali, putri saya, Imanuella Kathleen Calista Zega membuyarkan konsentrasi karena dia minta digendong. “Papi, Nyonyik minta gendong”, pintanya dengan wajah memelas. Mungkin pikirnya, papiku suka pergi terus, ya hari ini minta digendong seharian. Sambil menggendong dan sesekali menggodanya--sekaligus mengedit naskah-naskah tersebut, telepon pun berdering.

“Yang, Tukimin Satpam BANK Mayapada meninggal dunia lho”, kata isteri saya—Shianny Kurniasih. Tersentak! Kaget atau apapun istilahnya, itulah reaksi saya. “Semua kami di kantor merasa kaget dengan berita itu, tidak menyangka kalau dia pergi secepat itu”, tambah isteri saya lagi. “Mengapa dia meninggal?”, tanya saya. “Dia meninggal ditabrak sepeda motor di daerah Klaten”, jelas Mamanya Kathleen.

Tukimin telah saya kenal sekitar lima tahun yang lalu. Saat itu, setiap sore saya menjemput calon
isteri—pacar saya waktu itu, di kantor BANK MAYAPADA, di Jalan Dr. Radjiman—Coyudan Surakarta. Biasanya sekitar pukul 17.00 WIB setiap harinya saya sudah berada di kantor Mayapada. Kebiasaan pria pensiunan ABRI ini, ketika ketemu saya, selalu angkat tangan memberi hormat seraya berkata: ”SELAMAT SORE PAK PENDETA”. Meskipun dia non Kristen, namun dia sangat menaruh hormat kepada saya sebagai hamba Tuhan. Kadang-kadang, saya merasa tidak enak dengan sikapnya itu. Saya pernah menegurnya, namun dia bilang, tidak apa-apa, itu kebiasaannya. Saya jauh lebih muda
darinya--masakan terus-menerus memberi hormat layaknya seorang komandan dalam ketentaraan. 

Hingga lima tahun terakhir, saya dan beliau pun begitu akrab. Kematiannya karena kecelakaan, Minggu 6 Agustus 2006 ini mengingatkan saya tentang kehidupan ini. Allah seolah menyapa bahwa kematian dapat terjadi kapan saja tanpa pemberitahuan awal.

Tukimin telah pergi—saya tidak tahu apakah dia punya bekal iman ketika menghadap Tuhan atau tidak. Dalam pendirian iman yang saya yakini, PERCAYA DAN MENERIMA YESUS adalah modal utama ke Surga. Saya merasa terlambat belum berbicara tentang kasih Tuhan kepada orang berdosa—termasuk TUKIMIN. 

Namun, kepergiannya mengingatkan saya dan Anda tentunya bahwa hidup ini SINGKAT. Tidak tahu kapan Anda dan saya akan menghadap Sang PEMILIK TUNGGAL kehidupan ini. Firman Tuhan berkata: Dan aku mendengar suara dari sorga berkata: Tuliskan: "Berbahagialah orang-orang mati yang mati dalam Tuhan, sejak sekarang ini." "Sungguh," kata Roh, "supaya mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka, karena segala perbuatan mereka menyertai mereka." (Wahyu 14:13)

Surakarta, 10 Agustus 2006

--Manati I. Zega--
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."