Natal, Keberpihakan Pada Yang Lemah

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
Semilir “angin” Desember menusuk kalbu. Banyak orang bergembira Natal segera tiba. Sebagian toko, supermarket dan mall menyambutnya dengan mengumandangkan lagu-lagu bernuansa Natal.
Spanduk-spanduk bertuliskan: “Selamat Natal” dengan mudah kita temui di berbagai tempat. Singkatnya, Natal selalu dihubungkan dengan kegembiraan; keceriaan atau sukacita, dan memang hal itu tidaklah salah. 

Di atas semua kegembiraan itu, satu pertanyaan yang selalu muncul dalam pikiran saya tatkala menjelang Natal. Pertanyaan itu adalah, apakah sesungguhnya hakekat Natal? Nilai apakah yang hendak Allah sampaikan bagi dunia ini? Dalam perenungan, maka saya menemukan kata kuncinya adalah berpihak. Kalau kita berbicara tentang Natal, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang Allah yang berpihak kepada manusia yang lemah. Kalau kita merayakan Natal, maka sesungguhnya kita sedang membicarakan tentang Allah yang peduli kaum lemah.

Bagi kita yang tinggal di Indonesia, kata berpihak bukanlah hal yang asing. Kata tersebut terlalu sering didengungkan, baik dalam percakapan sehari-hari maupun pidato orang-orang berpengaruh. Kata ini pula begitu akrab ketika angin reformasi berhembus di negeri ini. Banyak pemimpin berlomba-lomba mengucapkan kata berpihak. Misalnya, berpihak kepada “wong cilik” alias rakyat kecil yang dianggap tidak punya akses untuk memperjuangkan haknya. 

Realitanya, bagaimana keberpihakan manusia? Nyatakah atau malah sebaliknya? Itulah yang selama ini menjadi pertanyaan masyarakat. Fakta membuktikan, tidak jarang setelah mendapat dukungan, ternyata janji tersebut hanya sebuah mimpi yang tidak mungkin menjadi kenyataan. 

Namun Puji Tuhan! Dalam peristiwa Natal, dunia diingatkan pada satu pribadi yang Maha Agung yang
justeru memilih berpihak kepada manusia yang lemah, tidak berdaya. Dia yang BESAR memilih menjadi hina dan lahir di tempat hina, yang sama sekali tidak mendapat perhatian. Tempat yang tidak diperhitungkan. Tempat yang dianggap tidak layak huni, tetapi justru Dia hadir di tempat yang seperti itu. Dia yang Mulia menyenasib dengan manusia yang hina. Dia yang Maha Kuasa memilih menjadi terbatas agar kita mendapat kehidupan yang dibebaskan. Dan, inilah hal yang sangat penting dalam peristiwa Natal.

Allah peduli kepada manusia yang tidak memiliki harapan dan masa depan yang pasti. Melalui Natal, 
bukti keberpihakan Allah menjadi nyata. Peristiwa Natal dua ribu tahun yang lalu, juga berbicara tentang Allah yang dekat kepada mereka yang berada dalam kesesakan.

Apabila kita menghayati Natal, kita belajar banyak hal. Belajar tentang kerendahan hati. Belajar tentang kasih yang tanpa batas. Belajar tentang manusia yang “dimanusiakan” oleh Allah.

Dalam suasana yang berbahagia ini, izinkan saya menyampaikan tiga hal penting dalam memaknai Natal kali ini. 

Pertama, Kasih Allah Tidak Basa-Basi. 

Peristiwa Natal menunjukkan bahwa Allah tidak hanya basa-basi ketika Dia berkata mengasihi manusia. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:16). Firman Tuhan ini terbukti tatkala Yesus hadir di dalam dunia, melalui peristiwa Natal. Bukti kasih tersebut sungguh nyata. Allah tidak sekedar berkata tanpa bukti – tetapi perkataan-Nya sungguh dibuktikan melalui tindakan, yakni kehadiran-Nya secara pribadi. 

Orang tua yang baik dan benar tidak hanya berkata mengasihi anaknya, tetapi harus disertai tindakan yang membuktikan hal itu. Misalnya, ketika anaknya sakit maka dia akan membawanya ke Rumah Sakit. Ketika anaknya kesulitan belajar untuk mata pelajaran tertentu, maka dia akan memanggil guru privat untuk mengajarkan pelajaran tersebut. Mengapa orang tua melakukan semuanya ini? Jawabannya sudah pasti, yaitu dia mengasihi anaknya. Allah juga demikian halnya. Ketika DIA berkata mengasihi manusia, maka ada buktinya. Dan, bukti itu dapat kita lihat dengan jelas dalam peristiwa Natal. 

Kedua, Masalah Manusia Terbesar Diselesaikan. 

Menurut Anda, apakah masalah manusia terbesar dan amat serius? Kedudukankah? Uangkah? Jabatankah? Kemiskinankah? Pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), keamanan yang belum kondusif atau apa? 

Tetapi, Alkitab sumber iman Kristen memberitahukan dengan terus terang bahwa persoalan manusia yang amat serius adalah dosa. Masalah dosa adalah masalah yang sangat besar di mata Allah. Jikalau dosa bukan masalah serius, tidak mungkin Allah yang Maha Tinggi rela datang ke dunia. Ini membuktikan bahwa dosa bukanlah masalah sepele, bukanlah masalah biasa yang dapat diatasi dengan cara manusia.

Alkitab memberikan data atau informasi bahwa dosa telah membuat manusia kehilangan kemuliaan Allah. Dosa telah mengakibatkan kesengsaraan yang amat menakutkan, kesengsaraan yang amat serius bagi manusia. Firman Tuhan yang tertulis di dalam Alkitab mengatakan demikian. “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah. (Roma 3:23)”. Berarti, masalah dosa bukanlah persoalan biasa yang mampu ditangani oleh manusia dengan caranya sendiri.
Ini adalah persoalan serius yang menyebabkan Allah Pencipta langit bumi beserta isinya berinkarnasi – menjelma menjadi manusia. 

Namun, kedatangan Kristus ke dalam dunia ini mampu menyelesaikan persoalan terbesar tersebut. Kristus berpihak kepada kita, sehingga kita dimungkinkan untuk memiliki akses kepada Allah Bapa. Hal ini terjadi ketika Kristus mengorbankan diri-Nya dan mati di atas kayu salib demi manusia berdosa. Lebih lanjut Kitab Suci mengatakan, “Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus Tuhan kita. (Roma 6:23)”. 

Ketiga, Manusia Memiliki Kepastian Masa Depan. 

Ketidakpastian menjadi bagian dari kehidupan manusia yang berdosa. Arah dan tujuan hidup yang tidak menentu menghantui perjalanan hidup manusia. Suram, kelam, gelap dan sejenisnya seharusnya mewarnai perjalanan hidup manusia. Namun, ketika Yesus datang, maka pintu pengharapan dibukakan. “Keran” pengharapan sejati dibuka lebar. Karya keselamatan disediakan, kehidupan kekal menjadi sebuah kepastian. 

Lebih daripada itu, informasi Firman Tuhan menegaskan bahwa kepenuhan Kristus akan berdiam bagi umat yang mempercayakan hidup kepada-Nya. Ini berarti Yesus Kristus yang lahir melalui peristiwa Natal menjadi sumber pengharapan yang tidak pernah mengecewakan bagi manusia di sepanjang zaman, di segala abad. Pemeliharaan, kasih dan kesetiaan-Nya akan dirasakan oleh mereka yang mengandalkan dan menantikan kasih setia-Nya. 

Mungkin ketika membaca artikel ini, Anda bertanya apa mungkin memiliki masa depan di zaman seperti ini? Apa mungkin ada pengharapan bagi kita yang hidup di tengah kondisi yang serba mengancam ini? Tetapi, berdasarkan Firman Tuhan saya hendak menegaskan bahwa masih tersedia pengharapan bagi kita. Anugerah Tuhan tiada henti dan tiada batasnya bagi umat manusia yang terus
mempercayai-Nya. Meskipun kita hidup pada milenium III, kepastian akan masa depan itu berpihak kepada kita, jika dengan setia beriman kepada Allah yang hadir melalui Natal. 

Dia datang bukan sebagai bayi yang lemah, dan tidak dapat berbuat sesuatu. Sebaliknya, Dia datang dengan kewibawaan memberi pengharapan, peneguhan dan kepastian. Akhirnya, izinkan saya menyapa Anda yang merayakan Natal: "Selamat Natal 2007. Kiranya damai Natal, damai surgawi berserta kita dalam menjalani hidup ini." 

Bagi saudaraku yang kebetulan tidak merayakan Natal, sebagai rohaniwan izinkan saya menjabat erat tangan Anda sebagai jalinan persaudaraan di antara kita. Mari berjuang bersama menciptakan damai, sehingga masyarakat tenteram dan negara pun aman. Mari kita tingkatkan persahabatan sebagai umat beragama dan berpihak kepada yang lemah – yang membutuhkan uluran tangan kasih kita. TUHAN MEMBERKATI.


Surakarta, 24 Desember 2007 


-Manati I Zega-
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."