• PDF

Ibadah Arena Hiburan?

Penilaian Pengunjung: / 1
TerjelekTerbaik 
  • Selasa, 28 April 2009 00:48
  • Ditulis oleh Manati I. Zega
  • Sudah dibaca: 3287 kali
Zaman sekarang memang susah. Ini fakta yang dialami semua orang. Di Indonesia maupun belahan dunia mana pun mengalami hal yang sama. Jeritan kesusahan menggema di seantero jagad raya. Berita demonstrasi menyeruak di berbagai tempat. Angka kemiskinan meningkat tajam. Kejahatan menjadi-jadi. Dekadensi moral melanda planet bumi kita.

Demikian juga pemanasan global. Kita dibuat gerah dengan bumi yang semakin tidak bersahabat.

Bumi semakin tidak layak huni. Penyakit aneh juga merajalela. Dan, masih banyak yang dapat didaftarkan. Singkatnya, kesulitan hidup semakin mendera umat manusia. Tekanan hidup pun semakin hebat. Tidak heran jika bilangan orang tidak waras meningkat tajam.
Kesukaran hidup berdampak luar biasa. Gereja pun merasakan imbasnya, setidaknya dalam pola ibadah. Sebagai contoh, liturgi ibadah yang semakin mengutamakan sentuhan emosional. Kata-kata pujian lebih mengutamakan sentuhan perasaan. Dan, hal ini tepat karena di luar sana tekanan hidup semakin hebat. Nah, begitu gereja menawarkan hal semacam itu, tentu sangat akomodatif bagi umat yang sedang dalam masalah.

Juni 2008 lalu, beberapa gereja di Jawa Tengah mengundang saya menjadi pembicara dalam ibadah mereka. Bercermin dari ibadah-ibadah seperti itu, saya perlu mengingatkan agar kita lebih berhati-hati. Gereja perlu memikirkan agar ibadah tidak hanya memrioritaskan sentuhan emosional. Mengapa? Tentu saja hal ini berbahaya. Bahayanya adalah umat akan ke gereja dengan motivasi yang keliru. Umat akan ke gereja hanya untuk mengekspresikan emosi jiwa yang gundah gulana. Saya tidak bermaksud meniadakan perlunya sentuhan emosional dalam ibadah. Yang saya khawatirkan adalah jika hal itu menjadi tekanan utama dalam ibadah gereja kita. Kemungkinan jemaat bisa bertambah secara kualitas, tapi perlu diingat bahwa sentuhan emosi tidak membawa seseorang mengenal Tuhan lebih baik.

Jika dianalisa dari taksonomi Bloom, sentuhan emosi, yang berkaitan dengan afektif memang dibutuhkan manusia. Namun, masalahnya, jika porsi sentuhan emosional menjadi berlebihan. Bukankah sesuatu yang berlebihan tidak ada manfaatnya? Sesuatu yang berlebihan pasti mendatangkan penyakit? Sebut saja, seseorang yang suka makanan berlemak secara berlebihan, siap-siap menanggung akibatnya. Penyakit kolesterol sedang menanti.

PERTEMUAN MANUSIA DENGAN TUHAN.

Menilik konsep Alkitab, Perjanjian Lama (PL) dan Perjanjian Baru (PB), ibadah berkaitan dengan pelayanan. Dalam ibadah terjadi pertemuan antara manusia sebagai hamba, dengan Tuhan yang disembah dan dilayani. Kata Ovada (Ibrani) dalam PL dan Latreia (Yunani) dalam PB menyatakan pekerjaan budak atau hamba upahan. Artinya, ketika kita beribadah seharusnya yang terjadi adalah perjumpaan secara rohani antara manusia dengan Tuhan.

Ibadah adalah ungkapan penyembahan manusia di hadapan Allah. Dalam ibadah, komunikasi terjadi bukan hanya satu arah, melainkan dua arah. Martin Luther mendefinisikan ibadah sebagai saat dimana Allah berbicara kepada jemaat lewat Firman-Nya (revelation) dan jemaat berbicara kepada-Nya (merespons) dalam doa dan pujian. Jadi, dalam ibadah terjadi dialog (komunikasi) antara Allah dan jemaat. Masing-masing saling berinteraksi. Tuhan lebih dahulu berinisiatif menyatakan diri, setelah itu jemaat menanggapi-Nya.

Dalam bahasa Jerman ada istilah menarik. Istilah itu adalah Gottesdienst. Kata ini bermakna ganda: Pelayanan Allah (God's service) dan pelayanan kita kepada Allah (our service to God). Seharusnya, kedua hal ini dipahami dengan baik dalam orang percaya.

UNION WITH GOD.

Setiap gereja tentu ingin memiliki ibadah yang hidup dan menyegarkan. Tidak heran jika akhir-akhir ini gereja berlomba-lomba membuat ibadah jemaatnya "lebih hidup." Mereka ganti liturgi yang ada dengan liturgi populer atau trendy. Menurut Pdt. Juswantori Ichwan, M. Th, banyak gereja mengubah jenis nyanyian atau alat musik yang dipakai. Cara ini dianggap bisa membuat ibadah lebih semarak, lebih ramai, lebih populer, namun belum tentu menjadi lebih hidup! Sebuah ibadah baru dikatakan hidup jika melaluinya terjadi perjumpaan dengan Allah (union with God), dimana lewat komunikasi selama ibadah, jemaat menjadi "sehati sepikir" dengan Allah. Jemaat jadi sadar apa yang menjadi kehendak Allah bagi hidupnya. Apa hasilnya? Tuhan dimuliakan (glorification) dan orang percaya dikuduskan (sanctification).

Dapat dikatakan bahwa ibadah yang hidup adalah ibadah yang melaluinya seseorang bisa mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan. Dan perjumpaan itu mentransformasi hidup seseorang. Dalam ibadah seharusnya, orang dapat merasakan kehadiran Tuhan yang menyapa umat-Nya.

DELAPAN NORMA DASAR.

Dalam ibadah Kristen, sebenarnya ada beberapa hal mendasar yang harus diperhatikan. Setidaknya, ada delapan norma dasar ibadah Kristen yang harus dimengerti oleh umat Tuhan.

  1. Ibadah Kristen harus Alkitabiah. Artinya, Alkitab adalah sumber pengetahuan kita akan Allah dan penebusan di dalam Kristus.

  2. Ibadah Kristen harus dialogis. Dalam ibadah Allah berbicara dan Allah mendengarkan umat-Nya berbicara kepada-Nya.

  3. Ibadah Kristen harus kovenantal (berlandaskan ikatan perjanjian Allah).

  4. Ibadah Kristen harus Trinitaris, artinya kita berjumpa serta menyapa Allah—Bapa, Putra dan Roh Kudus—satu Allah di dalam tiga pribadi. Dia Allah yang empunya kekudusan, kasih, keindahan dan kekuasaan.

  5. Ibadah Kristen harus komunal. Injil Kristus menarik kita ke dalam hidup di dalam komunitas dengan orang percaya lain.

  6. Ibadah Kristen harus ramah dan penuh kekeluargaan, artinya ibadah tersebut tidak boleh berpusat pada diri sendiri. Demikian juga tidak hanya untuk kepuasan emosi semata-mata.

  7. Ibadah Kristen harus “di dalam, tetapi bukan dari dunia.” Ibadah Kristen selalu mencerminkan budaya setempat, kontekstual. Dalam hal ini, cara-cara dunia tidak boleh menyentuh area ibadah Kristen.

  8. Ibadah Kristen harus suatu pencurahan diri yang tulus di hadapan Allah. Ibadah yang sungguh-sungguh bertujuan memuliakan Allah dan bukan meninggikan diri.

Bagaimana ibadah kita selama ini? Apakah ibadah hanya berfungsi sebagai sarana hiburan? Atau, ibadah membawa kita lebih mengenal Allah yang sejati? Ibadah yang sejati, tentu dengan cara yang sejati. Cara-cara yang dibangun di atas dasar firman Tuhan.

Tetapi, jika ibadah hanya untuk memuaskan diri, menghibur diri sendiri tentu tidak membawa dampak apa pun juga. Ibadah tidak ada bedanya menonton kelompok lawak yang membuat kita tertawa. Sebaliknya, merindukan ibadah yang membawa perubahan hidup. Perubahan hidup yang dirancang oleh Allah, bukan karena usaha manusia yang menghadirkan Allah dengan caranya sendiri.

Billy Graham, seorang hamba Tuhan yang dipakai-Nya dengan luar biasa. Dalam pengamatan dan pengalaman pelayanannya mengatakan, seandainya Tuhan (Roh Kudus) tidak dilibatkan dalam pelayanan gereja, 95 % pelayanan gereja masih berlangsung. Hal ini berarti kita perlu berhati-hati, jangan-jangan selama ini kita beribadah tanpa melibatkan Allah sama sekali. Semoga tidak!


Surakarta, 17 Juni 2008 



-Manati I Zega-

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
debora   |110.137.135.xxx |20-08-2010 16:55:17
saya setuju dengan tulisan anda bahwa ibadah Kristen saat ini mengalami
pergeseran paradigma, menurut anda apakah yang mempengaruhi pergeseran tersebut
Rudy Tan  - Ibadah   |125.164.216.xxx |25-10-2011 23:02:19
Jemaat yg konsumerisme,gereja yg memposisikan sebagai market,.....kembali
keliturgi,kembali kepenyembahan dg roh,menjadikan ibadah tempat unt
mempersembahkan hidup
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."