• PDF

Sukacita di Balik Dukacita

Penilaian Pengunjung: / 4
TerjelekTerbaik 
  • Selasa, 28 April 2009 00:49
  • Ditulis oleh Manati I. Zega
  • Sudah dibaca: 6162 kali
(Refleksi dari Janda Nain)

Peristiwa buruk dapat menimpa siapa saja. Tanpa pemberitahuan awal, tragedi tiba-tiba sudah masuk dalam kehidupan kita. Ketika tragedi itu menerpa, banyak orang belum siap. Akibatnya, beragam respons pun terjadi. Respons terburuk adalah ketika Tuhan dipersalahkan. Tuhan dianggap sebagai biang dari sebuah tragedi.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), terbitan Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional RI, tragedi didefinisikan sebagai sandiwara sedih (pelaku utamanya menderita kesengsaraan lahir dan batin yang luar biasa atau sampai meninggal); atau peristiwa yang menyedihkan. Dari definisi itu, dapat dikatakan bahwa kesengsaraan, penderitaan dan sejenisnya jadi penyebab hadirnya sebuah tragedi.

Siapa di antara kita yang tidak sedih ketika orang yang dikasihi meninggalkan kita. Dalam waktu yang tidak terduga, harus menghadap sang Khalik. Menurut penelitian, disebutkan kematian orang yang terdekat sebut saja, suami-istri atau anak jadi penyebab utama munculnya stress yang luar biasa.

Injil Lukas mencatat sebuah peristiwa khas yang tidak terdapat di Injil lain (Luk. 7:11-17). Kisah itu diawali tatkala Yesus dan para murid beserta orang banyak hendak menuju kota Nain. Nain adalah sebuah kota yang terletak di perbatasan Galilea dan Samaria. Kurang lebih sekitar 10 kilo meter sebelah tenggara Nazaret.

Sebelum tiba di kota itu, tepatnya mau memasuki gerbang kota, mereka bertemu dengan rombongan yang mengusung jenazah seorang anak muda. Alkitab tidak mencatat dengan pasti berapa usia anak muda itu. Namanya juga tidak disebutkan. Rupanya Lukas menganggap kurang penting data semacam itu sehingga tidak dimasukkan dalam tulisannya. Yang jelas dicatat, anak muda itu adalah anak seorang janda. Anak muda itu adalah anak satu-satunya. Tumpuan harapannya. Tidak heran jika di sepanjang perjalanan ia terus menangis karena merasa kehilangan. Perasaan kehilangan semacam ini sangat manusiawi.

Dalam pikirannya banyak pertimbangan. Mungkin juga kekhawatiran-kekhawatiran tertentu yang beralasan. Katakanlah statusnya sebagai janda. Pada masa itu, janda dipandang sebelah mata. Demikian juga mengenai masa depannya. Selama ini dia bergantung pada anak laki-lakinya itu. Sekarang anak laki-lakinya yang masih muda itu telah tiada. Kepada siapakah dia dapat bertumpu? Nampaknya, hitungan matematis tidak ada harapan lagi baginya. Harapannya pupus sudah. Masuk akal kalau dia menangisi kepergian anak satu-satunya itu. Kecil kemungkinan baginya untuk menikah lagi dan dapat anak. Kira-kira itulah kekhawatiran sang Janda.

BABAK BARU DIMULAI.

Orang-orang di sekeliling sang janda hanya bisa ikut menangis. Mereka tak kuasa menjawab persoalan mendasar yang sedang terjadi. Mereka tidak punya kapasitas untuk menolongnya. Syukurlah ia bertemu Yesus. Hatinya sedih. Wajahnya penuh linangan air mata. Matanya sayu menatap peti janazah anak tercinta. Tiba-tiba suasana berubah.

Yesus mendekati usungan jenazah itu. Ia menyentuhnya. Ia memerintahkan anak muda itu bangkit! Wah...gawat! Tindakan Yesus ini berbahaya! Menurut hukum taurat, hal ini tidak dibenarkan. Mengapa demikian? Orang yang menyentuh mayat atau usungan mayat berarti najis. Itulah hukum yang berlaku. Hukum itu sudah mendarah daging dalam masyarakat. Nampaknya, Yesus tidak peduli dengan aturan itu.

Mengapa Yesus berbuat demikian? Belas kasih-Nya melintasi semua aturan manusia. Belas kasih-Nya melewati semua aturan hukum yang kaku. Kata belas kasih (esplagkhnisthe, Yunani) menunjuk pada pengertian bela rasa. Dalam bahasa Inggris, istilah ini disebut compassion. Pada prinsipnya compassion berarti sympathy for the suffering of others, often including a desire to help, artinya suatu rasa simpati terhadap penderitaan orang lain/sesama, termasuk kerinduan untuk menolong. Jadi, belas kasih tidak hanya pada perasaan simpati, tetapi melebihi itu. Ada hasrat yang kuat untuk berbuat sesuatu.

Karena itu, Yesus menyentuh usungan jenazah itu. Anak muda itu pun bangkit. Semua orang tercengang dan berkata nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita. Anak muda itu pun bangkit! Ini mukjizat. Secara keseluruhan dalam Alkitab, mukjizat yang terjadi selalu bermula dari belas kasih-Nya.

Janda Nain ini dalam sebuah tragedi. Tetapi, kehadiran Yesus menjadi solusi baginya. Ketika Yesus berkenan, dukacita pun dapat berubah menjadi sukacita. Tragedi berubah menjadi pengalaman iman yang menyenangkan. Tetapi, kita juga perlu waspada. Yesus kadang-kadang tidak selalu berbuat seperti yang dilakukan-Nya pada janda Nain itu. Para penganut teologi kemakmuran dengan cepat berkesimpulan bahwa hal itu disebabkan karena adanya dosa. Benarkah? Tentu saja tidak selalu. Yesus adalah Guru Agung yang mengajar umat-Nya dengan berbagai cara. Misalnya, seperti kasus janda Nain di atas. Tetapi, bisa juga seolah-olah Tuhan diam seribu bahasa. Tujuannya, agar umat tidak menjadi umat gampangan. Umat yang hanya mengandalkan mukjizat saja. Walau mukjizat itu masih ada hingga sekarang. Mampu menghadapi tragedi dengan sukacita pun, itu juga mukjizat.

TRAGEDI, SARANA PEMBELAJARAN.

Bagaimana seharusnya kita bersikap terhadap sebuah tragedi? Marah? Mengutuki Allah? Atau, berpindah keyakinan? Semua itu sebuah tindakan gegabah yang tidak bermanfaat. Prof. Yohanes Surya, Ph.D, seorang fisikawan andal negeri ini. Ia pernah berkata bahwa semua penemuan besar yang pernah terjadi di bawah kolong langit ini bermula dari krisis. Pernyataan ini dapat diaplikasikan secara luas. Semua krisis, penderitaan, kesusahan dan sejenisnya adalah sarana pembelajaran bagi kita.

Seandainya, anak satu-satunya dari janda Nain ini tidak mati, tentu dia dan orang banyak yang bersama dengannya tidak punya pengalaman pribadi dengan Yesus. Kematian itu harus terjadi sebagai ilustrasi yang tepat untuk menunjukan kemahakuasaan Tuhan kita.

Seandainya anak janda Sarfat (1 Raja-raja 17:17-24) tidak meninggal, pasti tidak pernah mengalami pertolongan Tuhan, anaknya dibangkitkan oleh nabi Elia. Semua ini, sarana pembelajaran yang harus dialami. Bukan karena Tuhan jahat dan senang menyaksikan manusia menderita. Bukan! Tetapi, melalui peristiwa-peristiwa itu, pengenalan akan pribadi Tuhan semakin bertambah.

MENILAI TERLALU CEPAT.

Adalah kekeliruan besar, jika manusia yang terbatas menilai perbuatan Allah yang mahaluas dengan pikiran terbatas. Seorang pendeta mengambil kertas putih ukuran kwarto. Di hadapan jemaat, bagian tengah kertas itu dibubuhi tinta berwarna hitam. Lalu ia bertanya, ”Jemaat, apakah yang kalian lihat?,” tanya pendeta itu.
Kami melihat titik berwarna hitam di tengah kertas itu pak Pendeta.
Tidak ada yang lain,” katanya menyelidik.
Tidak Pak,” kami semua melihat titik hitam itu.

Ini gambaran orang Kristen tatkala menilai sebuah tragedi yang menimpa dirinya. Titik kecil dibesar-besarkan. Padahal, bidang luas dari kertas itu tidak diperhatikan. Tuhan punya rencana yang mahaluas dalam setiap problem hidup yang kita alami. Sikap Kristiani yang dewasa adalah bersyukur sembari introspeksi atas semua yang terjadi. Tragedi tidak bermaksud menghancurkan. Tuhan itu baik. Karakternya baik. Dia tahu apa yang harus dilakukan-Nya. Tentu saja yang terbaik, bukan sebaliknya. Tuhan pasti menolong kita!


Surakarta, 21 Juni 2008

 

-Manati I Zega-

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
petrus mulyanto   |125.163.165.xxx |19-07-2010 23:46:50
artikel anak muda di nain, membawa berkat. kalau Yesus menyentuh semua masalah
kita terselesaikan.
yusup r   |180.254.8.xxx |18-09-2012 18:06:19
oks..semangat..!!
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."