• PDF

Wartakan Kabar Sukacita - Belajar dari para Gembala

Penilaian Pengunjung: / 9
TerjelekTerbaik 
  • Rabu, 23 Desember 2009 13:54
  • Ditulis oleh Manati I. Zega
  • Sudah dibaca: 9390 kali
Pendahuluan

Waktu berlalu begitu cepat, kini kita sudah berada dipenghujung tahun 2009. Sejak awal, Tuhan menghendaki agar kita menjadi garam dan terang dunia. Maksudnya, menjadi saksi-saksi Kristus.

Merupakan hal yang baik bila di akhir tahun ini kita akan berefleksi sejauh mana tujuan itu tercapai. Jika belum tercapai maksimal, melalui peristiwa Natal kita akan dimotivasi kembali.

Kisah mengenai para gembala di padang menjadi salah satu peristiwa yang selalu mewarnai perayaan Natal (Lukas 2:8-20). Lukas memang menyajikan kisah ini dengan sangat baik.


Isi

Dalam kisah tersebut, kita menemukan bagaimana Lukas berusaha menggambarkan Allah menyapa realitas sosial yang sebelumnya tidak disapa lagi oleh agama, khususnya orang-orang yang merasa beragama.

Dalam narasi itu, Lukas menampilkan bagaimana para gembala yang selama ini menggembalakan hewan-hewan kurban, kini menerima kabar gembira atas lahirnya Gembala Agung, sekaligus Kurban Suci itu.

Dalam catatan sejarah, secara umum para gembala dianggap sebagai masyarakat kelas dua oleh masyarakat Yahudi. Mereka kurang dihormati. Di depan pengadilan pun kesaksian mereka diabaikan, tidak diperhitungkan. Mereka disingkirkan karena dianggap tidak menjalankan aturan-aturan agama secara ketat.

Akan tetapi, Kabar Baik tentang kelahiran sang Juruslamat untuk pertama kalinya diberitakan kepada para gembala. Tentu saja, ada sifat-sifat yang baik dari diri gembala yang patut diteladani.

Berdasarkan ayat-ayat di atas, setidaknya ada dua hal penting yang perlu kita renungkan.

Pertama, sikap cepat merespons kebenaran (ay. 15-16)

Setelah malaikat-malaikat itu meninggalkan mereka dan kembali ke sorga, gembala-gembala itu berkata seorang kepada yang lain: "Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita." Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan (Lukas 2:15-16).

Para gembala tidak melakukan diskusi ilmiah terlebih dahulu untuk membahas hal yang sedang terjadi. Namun, mereka cepat-cepat merespons. Mereka percaya pada berita yang disampaikan oleh para malaikat. Karena itulah mereka langsung ke Betlehem dan menyaksikan apa yang sedang terjadi.

Bila para malaikat datang kepada kaum elit, lingkaran istana, penguasa negeri, mungkin saja responsnya sangat berbeda. Mungkin beberapa bulan setelah peristiwa bersejarah itu, mereka baru mengirim utusan ke Betlehem. Pastinya, setelah dilakukan telaah menyeluruh terhadap informasi yang disampaikan oleh para malaikat. Namun, lihatlah para gembala! Mereka tidak butuh waktu lama. Mereka bergegas menuju ke Betlehem tempat bayi Natal itu terbaring.

Kedua, sikap cepat bersyukur dan memuliakan Allah (ay. 20)

Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka (Lukas 2:20).

Ekspresi kegembiraan para gembala atas kebenaran berita yang mereka dengar tampak jelas saat mereka memuji dan memuliakan Allah. Padahal, mereka kerap dicap sebagai orang yang tidak menjalankan aturan-aturan agama Yahudi. Mungkin istilah sekarang disebut kurang rohani.

Para gembala tidak menganggap peristiwa yang mereka alami sebagai hal yang biasa. Terbukti, ketika mereka mengalami apa yang dikatakan malaikat itu, mereka cepat-cepat bersyukur, dan memuliakan Allah.


Penutup


Para gembala, secara sosial tidak mendapat perhatian berarti di zaman itu. Namun, mereka yang tersingkirkan disapa dengan cara yang unik. Tuhan berkenan menyampaikan berita surgawi kepada para gembala yang sederhana. Kita pun diminta belajar dari para gembala. Cepat merespons kebenaran, bersyukur dan memuliakan Allah adalah sikap penting bagi kita yang menjadi saksi Tuhan.


Pertanyaan Sebagai Bahan Refleksi.

  1. Apakah Anda terbiasa merespons kebenaran dengan cepat? Misalnya, setelah mendengar fiman Tuhan, Anda langsung melakukan dalam kehidupan sehari-hari? Atau, terbiasa menunda bahkan mengabaikannya?
  2. Selama tahun 2009, berapa orang yang telah menerima Kabar Baik dari Anda? Atau, justru hanya menerima gosip yang menghancurkan? Jika belum mewartawakan Kabar Baik, apa kendalanya? Bagaimana komitmen Anda di tahun 2010?
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tommy  - respon adanya kebenaran bukan pembenaran   |202.70.59.xxx |20-01-2010 02:26:11
Jaman sekarang sangat sulit mencari kebenaran karena itu kita butuh bimbingan
Tuhan melalui doa dan firman Tuhan. Yang penting Tuhan sudah beri
pedoman-pedoman yang kita sebagai umat manusia harus mematuhinya tanpa kompromi
misalnya 10 perintah Allah. Dimana kita untuk menerapkannya di dalam kehidupan
kita sulitnya minta ampun. Itu disebabkan karena sifat menusia yang mudah di
ombang-ambingkan oleh pembenaran dirinya sendiri tanpa melihat kebenaran yang
hakiki dari Tuhan kita Yesus Kristus. Tapi saya percaya dan yakin Tuhan memberi
anak-anakNya sesuatu yang baik bukan rancangan yang jahat. Kendala untuk
mewartakan kabar baik adalah bagaimana kita menghadapi arus dunia ini dimana
didalamnya banyak terdapat pembenaran-pembenaran yang kelihatanya benar tapi
tanpa sadar kita terseret secara perlahan-lahan masuk ke dalam sesuatu yang
Tuhan tidak kehendaki. Yang penting kita harus pegang teguh apa yang Tuhan kita
ajarkan melalui ...
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."