• PDF

Sejenak Berefleksi di Tengah Bencana

Penilaian Pengunjung: / 7
TerjelekTerbaik 
  • Rabu, 03 November 2010 11:13
  • Ditulis oleh Manati I. Zega
  • Sudah dibaca: 8140 kali
Bencana tiada hentinya menghajar negeri kita tahun-tahun belakangan ini. Sejak 26 Desember 2004, ketika tsunami menggulung bumi Serambi Mekkah beragam bencana saling menyusul. Kita ingat pada 28 Maret 2005, Nusa Indah Andalan Sumatera (NIAS) diluluhlantakkan gempa. Setahun kemudian, 27 Mei 2006, Yogyakarta pun dihajar gempa tanpa mengenal belas kasihan. Tak lama berselang, 2 September 2009, lagi-lagi gempa menghancurkan Tasikmalaya. Kita menangisi kondisi negeri ini. Rupanya, tangisan belum selesai 30 September 2009, kita terperangah. Kota Padang kembali dihantam gempa.

Nah. Sekarang kita beranjak ke tahun 2010. Pada 29 Agustus 2010 Gunung Sinabung di Kabanjahe, Tanah Karo, Sumatera Utara meletus. Tak lama berselang, 4 Oktober 2010, Wasior, Papua Barat kembali dihantam banjir bandang.  Ibu Kota Negara RI pun tak luput dari ancaman yang sama. Kita pun sedih. Kesedihan belum pulih 25 Oktober 2010, gempa yang diikuti tsunami lagi-lagi terjadi di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Kita kembali menjadi bingung. Tanggal 26 Oktober, siapa nyana saat itulah Gunung Merapi “batuk.” Ia memuntahkan hawa panas yang dikenal sebagai wedhus gembel oleh penduduk setempat. Lagi-lagi, kita hanya bisa terbengong karena amukan alam yang makin tak bersahabat.

Telah banyak korban berjatuhan. Nyawa dan harta benda tak terelakkan. Secara logika, kemiskinan makin bertambah. Walaupun pemerintah membantah. Mereka bermain di angka-angka, tapi fakta lapangan tidak demikian. Daerah-daerah yang dilanda bencana pasti mengalami keterpurukan ekonomi. Itu sudah pasti. Bukankah logikanya demikian? Tentu, berbeda dengan suguhan angka-angka yang selalu ditampilkan. Dalam kondisi seperti ini, apa yang harus dilakukan?

ALAM TAK BISA DILAWAN

Amukan alam tak bisa dilawan. Sifat heroik Mbah Maridjan pun akhirnya tak kuasa membendung wedhus gembel alias awan panas. Ia harus mengalah pada kekuatan alam yang dahsyat. Indonesia adalah negara yang rawan bencana. Ini fakta. Ketika gempa, gunung meletus, tsunami, atau banjir bandang tak seorang pun yang berani membendung. Bencana toh tetap terjadi.

Kondisi makin diperparah karena usia bumi kita yang sudah tua. Belum lagi ulah manusia yang memperlakukan bumi seenaknya. Penebangan pohon terjadi di mana-mana. Padahal, pohon-pohon itu dibutuhkan sebagai paru-paru bumi kita. Membuang sampah sembarangan pun menjadi salah satu pemicu terjadinya bencana. Dalam hal ini, manusia telah ikut andil dalam menciptakan bencana untuk dirinya sendiri.

Semua sudah terjadi. Nasi sudah jadi bubur. Lalu, apa yang harus dilakukan? Lakukanlah yang bisa dilakukan sekarang. Salah satu contoh kecil, janganlah membuang sampah sembarangan. Perlu disiplin dalam memperlakukan lingkungan kita. Sikap sembrono terhadap lingkungan berpotensi memusnahkan generasi mendatang. Anak cucu kita akan lebih menderita bila sekarang kita enggak disiplin. Bumi ini adalah warisan untuk anak cucu kita. Warisan untuk generasi yang akan datang.

Tentu juga ada hal-hal di luar kendali. Ada hal-hal di luar kemampuan kita dalam mengatasinya. Kita tak kuasa menahan tsunami. Kita pun tak berdaya membendung terjadinya gempa. Inilah bukti yang menunjukkan manusia bukanlah pribadi yang hebat. Manusia ini terbatas dalam segala hal. Tak ada yang patut disombongkan. Sejarah membuktikan, manusia kalah melawan kekuatan alam. Maka, William Durant seorang filosof dari Perancis mengatakan belajarlah dari sejarah agar engkau tidak merusak sejarah yang akan datang. Lalu, bagaimana dong?

PERTEBAL KEIMANAN

Di atas telah disebutkan sehebat-hebatnya manusia, ia tetap terbatas. Terbatas dalam banyak hal. Termasuk terbatas dalam menangani bencana. Menangis, sedih, prihatin, dan sejenisnya. Paling-paling itulah yang biasa dilakukan di kala bencana menyapa.

Akan tetapi, secara teologis bencana sebenarnya mimbar yang paling efektif. Dalam konteks Kristen, terkadang mimbar gereja diabaikan. Apalagi melihat si pengkhotbah yang tidak mencerminkan khotbahnya. Orang terkadang muak dengan khotbah yang kering. Khotbah yang tidak dipersiapkan. Namun, bencana hadir sebagai ilustrasi yang hebat. Membuat mata terbelalak. Hendak menunjukkan bahwa manusia tak ada apa-apanya. Semua hanya anugerah-Nya. Bukan kehebatan kita sebagai manusia.

Tuhan adalah pembelajar Agung. Ketika khotbah tak mampu mengubah hidup kita, Dia pakai cara yang berbeda. Gempa bumi, tsunami, banjir bandang, dan sebagainya adalah media yang paling efektif. Dalam ilmu pendidikan kita mengenal istilah strategi pembelajaran. Melaluinya, diharapkan sang pembelajar dapat memahami dengan cepat dan tepat materi yang disajikan. Mungkin, itu juga yang sedang melanda negeri kita. Bersama kita introspeksi. Jangan-jangan ada maksud Tuhan di balik semua bencana ini. Tuhan menuntut pertobatan yang sungguh.

Bangsa kita setidaknya mengalami empat krisis besar. Pertama krisis identitas. Banyak di antara kita yang kehilangan jati diri sebagai bangsa. Kedua krisis ideologi. Ketiga krisis karakter. Terakhir krisis kepercayaan. Krisis-krisis ini bagaikan virus yang sedang menggerogoti perjalanan bangsa ini.

Bencana hadir untuk menggugah. Terlalu lama kita tertidur dan hidup dalam kepalsuan. Kini waktu yang tepat untuk kembali mencintai Tuhan dengan segenap hati. Menghidupi dengan setia setiap ajaran Kristus. Dengan demikian, iman kita makin tebal. Maka, walaupun bencana melanda, dan mungkin kita menjadi salah seorang korbannya, tidak usah khawatir. Iman yang sejati menyatukan kita dengan Kristus sang pemilik kehidupan. Iman kepada Kristus itulah yang berdampak dalam kekekalan. Dia adalah jalan, kebenaran dan hidup (Yohanes 14:6). Bukankah begitu?


Yogyakarta, 1 November 2010



Manati I. Zega
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
stellaRumambi  - sejenak berefleksi di tengah bencana     |210.24.110.xxx |03-12-2010 15:07:23
segala sesuatu yang terjadi di dunia ini adlh kehendakNya.kita hanya manusia
biasa tak bisa berbuat apa2.DIALAH TUHAN thanks sahabat yang sudah menulis
artikel ini semoga bermanfaat bagi pembaca lain
Anugrah Laia   |139.194.165.xxx |27-07-2012 17:23:34
Memang segala sesuatu atas kehendakNya.Hanya saja bgmn cara pandang untuk
melihat segala sesuatu yang terjadi dalam alam semesta bahkan diri kita sebagai
orang yang beriman kepada Yesus Kristus Tuhan. Tentunya harus introspeksi diri
masing-masing sekaligus bertobat dan percaya kepada Dia yang telah menyatakan
kasih karunia dengan limpahnya kepada kita. Thanks Bp.M. Zega atas renungannya.
Tuhan Yesus Kristus memberkati Bp dan keluarga.
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."