• PDF

PERBEDAAN: ANUGERAH TUHAN DEMI KEKAYAAN BANGSA

Penilaian Pengunjung: / 6
TerjelekTerbaik 
  • Senin, 27 April 2009 22:30
  • Ditulis oleh Manati I. Zega
  • Sudah dibaca: 2559 kali
Beberapa waktu yang lalu, ada kesan yang menunjukkan bahwa perbedaan dianggap sebagai musuh. Berbeda suku, agama, ras dan antar golongan sering kali menjadi lahan yang sangat rawan terhadap konflik, akibatnya timbullah permusuhan.

Penulis sungguh-sungguh mengamati hal ini. Ketika terjadi kerusuhan di kota Solo, 13-15 Mei 1998 yang lalu, penulis terkejut melihat kenyataan itu. Bagaimana tidak, hampir setiap rumah tertulis kalimat seperti ini: "Pribumi Asli, Jawa Tulen, Muslim", kesannya seolah-olah ingin berkata: "silahkan menjarah, merusak atau membinasakan" orang-orang atau rumah-rumah di luar tulisan ini. Bahkan di depan gereja yang penulis layani pun tertulis kalimat: "Anti Cina". Hal itu dapat dipahami sebab semua orang tahu bahwa gereja tersebut mayoritas jemaatnya saudara-saudara kita etnis Tionghoa. Bukankah hal ini suatu pertanda terselubung bahwa masyarakat masih memandang adanya perbedaan yang sangat tajam terhadap golongan tertentu.

Penulis mengutip kata-kata di atas bukan untuk memprovokasi, membuka luka masa lalu atau memojokkan golongan tertentu. Sama sekali tidak! Melainkan sebagai gambaran saja. Maksudnya, bahwa di masyarakat perbedaan adalah sesuatu yang agaknya sulit diterima. Padahal kita yang hidup di Indonesia, sama-sama hidup dalam penderitaan dan pergumulan yang berat. Tetapi mengapa masih banyak orang yang tidak mau mengerti dengan hal ini?

Belajarlah Dari Sejarah
Filsuf Perancis yang bernama William Durant berkata, "Orang yang tidak belajar dari sejarah adalah orang yang kehilangan identitas¨. Saya pikir, pernyataan itu benar. Sejarah perjalanan bangsa Indonesia menunjukkan kebenarannya. Ketika bangsa Indonesia tidak bersatu, masih membawa label kedaerahannya masing-masing, terjadilah hal-hal yang tidak diinginkan. Politik "devide et impera¨ yang berarti pecah belah dan jajahlah, membuahkan hasil yang maksimal. Saat itu jugalah tindakan bodoh kita lakukan. Kita menghabiskan pikiran dan tenaga untuk berperang melawan saudara sendiri. Sementara itu penjajah menikmati kekayaan alam kita dengan bahagia. Kita ribut melawan saudara sendiri, sementara orang lain menonton kebodohan bangsa kita.

Apabila hal ini direnungkan dengan pikiran jernih, mungkin kita akan menertawakan diri sendiri dan berkata betapa bodohnya aku. Bukankah aku sedang melakukan tindakan konyol?

Pendapat William Durant di atas perlu direnungkan sejenak. Sebagai bangsa, sebagai anggota masyarakat, sebagai intelektual mengapa kita masih memusuhi saudara kita yang hidup seatap dengan kita. Yakni atap negara kesatuan Republik Indonesia. Belajar dari sejarah sangatlah penting. Mengapa? Sebab jika kita tidak mau belajar dari sejarah, berarti kita sedang menghancurkan sejarah perjalanan bangsa masa yang akan datang. Kalau demikian halnya, tidakkah layak kita mendapat predikat sebagai pengkhianat?

Di Aceh, Maluku, Ambon, Irian Jaya dan berbagai tempat lain di negeri ini, peristiwa pembantaian antara sesama saudara terjadi. Bukankah tindakan semacam itu memalukan? Bukankah kita menghabiskan banyak energi untuk menghancurkan masa depan saudara sendiri? Malam Natal Kelabu, 24 Desember 2000 yang lalu, merupakan catatan tersendiri bagi perjalanan sejarah bangsa kita. Gereja-gereja dibom sehingga menelan banyak korban. Tegakah Anda melihat saudara sendiri menderita sedemikian rupa? Di manakah nilai-nilai religius kita? Bukankah negara kita terkenal sangat ketat dengan religiositasnya yang tinggi? Sekarang, di manakah persembunyian nilai-nilai itu? Tentunya diperlukan perenungan yang dalam. Saya kuatir, masyarakat telah jauh meninggalkan nilai-nilai keagamaan yang diyakininya. Secara logis, saya berkeyakinan bahwa orang yang sungguh-sungguh beragama tidak mungkin melakukan tindakan yang hina itu. Tetapi kenyataannya justru itulah yang terjadi. 

Akhir-akhir ini, agama sering diperalat sebagai lahan yang subur bagi terjadinya konflik. Oleh sebab itu, harapan dan doa kita agar jangan sampai terprovokasi dengan orang-orang yang ingin memecah belah persatuan bangsa bangsa dengan alasan agama.

Sejarahwan Dr. Ong Hok Ham di sebuah media menyatakan harapannya agar seluruh masyarakat memahami perbedaan sebagai hal yang wajar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Tegakan Pemahaman Bhinneka Tunggal Ika
Indonesia sangat berbeda dengan bangsa-bangsa lain yang ada di dunia. Indonesia negara besar yang terbentang luas dari Sabang sampai Merauke. Selain itu terdiri dari berbagai budaya dengan tradisinya yang bervariasi. Inilah uniknya Indonesia yang tidak dimiliki bangsa lain manapun di dunia. Keunikan seperti ini, tentunya menjadi kebanggaan tersendiri bagi bangsa kita. Dengan adanya perbedaan multi-aspek, sering kali dijadikan pemicu pembedaan "SARA " (suku, agama, ras dan antar golongan). Karenanya kembalilah pada pengalaman sejarah masa silam. Seharusnya sekarang kita menyadari hal itu, jikalau tidak cita-cita bersama mencapai kesejahteraan masyarakat mustahil terjadi.

Dalam kondisi ini, dituntut untuk merenungkan kembali pemahaman makna semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Dalam semboyan itu masyarakat boleh berbeda dalam banyak hal asal tetap satu dalam mencapai keutuhan bangsa. Disintegrasi bangsa bukanlah cita-cita luhur "The Founding Father" bangsa ini.

Tanggal 28 Oktober 1928 yang lalu merupakan tekad seluruh bangsa untuk bersatu. Para pemuda seantero nusantara meninggalkan "Yong" mereka masing-masing dan bersatu dengan pengakuan satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa yaitu INDONESIA. Mengapa sekarang kita melupakan tekad agung itu?

John F. Kennedy mantan presiden Amerika Serikat pernah berkata: "Jangan tanyakan apa yang akan diberikan negara kepada Anda, tetapi tanyakanlah apa yang akan Anda berikan kepada negara." Seandainya pertanyaan yang sama ditujukan kepada Anda, bagaimana jawaban Anda. Bagi penulis, menjaga keutuhan bangsa dan negara merupakan pemberian terbesar yang Anda berikan bagi bangsa ini.


*) Manati I. Zega, S.Th adalah rohaniwan GUPDI Jemaat Pasar Legi Surakarta. Menulis di berbagai media Kristen: Bahana, Tampil, Crescendo, Warta, Dia, Berita Mimbar, dll.
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."