• PDF

Proses Pendidikan dan Pertumbuhan Yang Utuh

Penilaian Pengunjung: / 1
TerjelekTerbaik 
  • Sabtu, 19 September 2009 10:45
  • Ditulis oleh Nathanael Channing
  • Sudah dibaca: 5084 kali

Edward dan Shanty telah berkeluarga dan mereka menjalani hidup rumah tangganya dengan penuh sukacita. Tuhan memberkati kehidupan keluarga ini, baik dalam pekerjaan dan anak-anak yang dikaruniakan Tuhan pada mereka John, anak pertama sudah menginjak remaja, James, naik ke kelas 6 SD dan Maria naik ke kelas 4. Hidup anak-anaknya dipenuhi dengan baik. Semua sarana dan prasarana selalu disediakan oleh orangtua mereka. Kamar tidur dan kamar belajar cukup serasi dan nyaman. Pakaian yang disandangnya selalu mengikuti perkembangan zaman. Dan tidak ketinggalan, kebutuhan makanan selalu disediakan dengan berkecukupan, bahkan makanan-makanan favorit menjadi langganan setiap saat, ketika mereka membutuhkan. Bapak dan Ibu Edward sangat memperhatikan pertumbuhan anak-anaknya, maka mereka menyerahkan “pengawasan” pertumbuhan anak-anak kepada orang-orang yang berkompeten menolong pertumbuhan mereka. Untuk pertumbuhan pengetahuannya, maka dipilih sekolah-sekolah yang terkenal baik. Anak-anak mereka di sekolahkan di sana, dengan penuh harapan bahwa para guru dapat mendidik dengan baik. Apa lagi uang sekolah sudah sangat mahal. Untuk pertumbuhan rohaninya, mereka membawa anak-anaknya ke Gereja dan menyerahkan semua anak-anaknya di bawah asuhan Guru-Guru Sekolah Minggu, yang menjadi pembimbing rohani mereka. Untuk urusan kesehatan, mereka mempunyai dokter-dokter spesialis anak yang cukup mahir. Dan untuk kehidupan pergaulan anak-anaknya, mereka menyerahkan kepada para suster yang mengasuhnya sejak anak itu lahir sampai menginjak remaja. Merekalah yang menjadi “polisi” bagi pergaulan anak-anaknya. Dengan pola hidup yang demikian, maka bapak dan ibu Edward sudah merasa menjadi orangtua yang “berhasil” dalam membesarkan anak-anaknya.

Pola hidup membesarkan anak-anak yang demikian, juga didukung oleh beberapa guru. Bapak Peter, seorang guru yang setia mengajar, beranggapan kalau sekolah sudah memenuhi segala sarana dan prasarana, guru menyampaikan ilmu yang telah dipelajari - ditularkan kepada anak-anak didiknya, dan anak-anak bisa mengembalikan “ilmunya” dengan nilai yang baik, setelah melalui ujian atau ulangan. Maka dia sudah merasa menjadi guru yang baik dan berhasil.

Demikan pula dengan ibu Mariam, yang terkenal dengan guru yang paling ramah dan murah senyum. Beranggapan bahwa sekolah harus memenuhi segala kebutuhan proses belajar mengajar. Tidak cukup dengan alat-alat peraga dan sarana penunjang yang modern, tetapi juga kelas yang harus nyaman, teduh, tidak panas, full ac, bahkan ruangan yang harum. Dengan kebutuhan-kebutuhan itu, maka proses belajar dan mengajar akan berjalan dengan baik.

Apakah itu sudah cukup untuk mendidik anak secara utuh? Pola hidup bapak Edward, apakah sudah cukup dikatakan sebagai orangtua yang sudah berhasil dalam mendidik dan membesarkan anak-anaknya? Pola mengajar bapak Peter dan Ibu Mariam, apakah dapat dikatakan sudah memenuhi kebutuhan anak secara utuh dan mampu membesarkan anak didiknya dengan utuh? Jelas, Tidak!!! Itu baru sebagian kecil membesarkan anak didik secara utuh.

Apa mendidik dan membesarkan anak didik secara utuh? Untuk mengerti pertanyaan ini, maka jelas bagi kita, bahwa pertumbuhan manusia itu tidak cukup hanya dengan sandang, pangan dan papan. Memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan hanya mencukupi kebutuhan tubuh saja! Baru sepertiga dari kebutuhan yang utuh. Manusia yang utuh adalah memiliki tubuh, jiwa dan roh. Paulus mengatakan: “Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita.” 1Tesalonika 5:23. Damai sejahtera Allah itu mengkuduskan kamu seluruhnya - yaitu seluruh kehidupan kita, yaitu roh, jiwa dan tubuh. Roh - Allah menjadikan manusia dengan menghembuskan nafas kehidupan. “Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi. Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.” Kejadian 1:26,27, 2:7. Roh itu yang membuat kita mengenal Allah kita! Roh itu mempunyai kekekalan, tidak bisa mati, melainkan tetap hidup; hanya hidup dalam anugerah keselamatan atau hidup dalam kebinasaan. Manusia juga mempunyai tubuh dan jiwa. Tubuh yaitu fisik kita atau badan kita dan jiwa mengandung pikiran, emosi, kehendak dan nafsu. Memenuhi kebutuhan yang holistik, yaitu memenuhi kebutuhan roh - hidup rohani kita, tubuh - sandang, pangan, papan dan jiwa - memenuhi kebutuhan pikiran, emosi dan kehendaknya. Memenuhi kebutuhan holistik inilah yang seharusnya menjadi dasar yang sangat penting bagi seorang pendidik. Jika tidak terpenuhi secara utuh atau holistik maka anak-anak setelah menginjak masa dewasa akan mengalami banyak persoalan, baik untuk dirinya sendiri, relasinya dengan keluarga, orang lain dan kehidupannya bermasyarakat.

UNESCO telah mengembangkan pola pendidikan yang utuh ada 4 pokok dalam proses belajar yaitu learning to know, learning to do, learning to be, learning to live together - belajar untuk tahu, belajar untuk melakukan sesuatu, belajar untuk menjadi, belajar untuk hidup bersama. Untuk dapat memenuhi kebutuhan itu, maka proses belajar adalah proses yang memenuhi kebutuhan fisiknya, di mana kesehatan tubuh sangat perlu untuk menjadi perhatian. Kebutuhan jiwa, di mana proses belajar memenuhi kebutuhan intelektual, emosional dan kehendaknya - mencakup talenta-talentanya, karunia-karunianya, bakat-bakatnya dan Kebutuhan spiritual - di mana kebutuhan pertumbuhan rohani menjadi dasar dari seluruh aspek yang ada dalam dirinya. Anak mampu belajar untuk tahu - apa yang dipelajari, proses-proses cara berpikir, mencari dan menemukan materi sebagai pengembangan kreativitas pikirannya. Anak mampu melakukan sesuatu - di mana dia dapat mengerjakan karya-karya yang dipelajarinya dengan bebas, terbuka, tanpa rasa takut, mampu mengungkapkan pendapatnya. Anak mampu belajar untuk menjadi dirinya sendiri yang unik, sebagai ciptaan Tuhan, gambar dan rupa Allah yang unik - anak dapat belajar sesuai dengan kemampuan dirinya sendiri, sesuai perkembangan dan pertumbuhan jiwanya. Anak mampu belajar hidup bersama, mereka dapat mengembangkan kebebasan psikologisnya, tanpa rasa takut mengembangkan dirinya dalam berelasi dengan orang lain, kehidupan sosialnya yang bertumbuh dengan baik.

Peran dan panggilan seorang guru dalam memenuhi kebutuhan proses belajar yang holistik, pertama, pertumbuhan holistik itu sendiri harus menjadi pertumbuhan bagi guru sendiri. Jika tidak, maka dia tidak bisa mentransformasikan pola pendidikan yang holistik. Kedua, guru selalu menyadari bahwa panggilan dia bukan saja memperlengkapi secara intelektual saja, di mana anak-anak didiknya menjadi orang yang pandai, namun pertumbuhan dirinya tidak utuh. Guru yang mengajar memenuhi kebutuhan holistik adalah guru yang hadir bersama-sama anak didiknya untuk menjalani kehidupan bersama, selalu mengkaitkan seluruh aspek hidupnya dengan materi-materi pelajaran yang disampaikan. Terus mengintegrasikan ilmu dan iman - pertumbuhan rohaninya dengan utuh. Dengan pola pendidikan yang holistik, kita akan menjadikan anak-anak didik kita bertumbuh dengan utuh. Selamat meneruskan tugas panggilan kita, sebagai guru yang mulia, dan kita terus belajar bersama Guru Agung kita, Tuhan Yesus Kristus.

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
janu  - pertanyaan mudah   |118.96.123.xxx |06-11-2010 15:52:26
emang di injil yesus pernah bilang kalo dy tuhan?
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."