• PDF

Mengapa Petrus, Bukan Yudas?

Penilaian Pengunjung: / 3
TerjelekTerbaik 
  • Rabu, 29 April 2009 13:39
  • Ditulis oleh Pancha W. Yahya
  • Sudah dibaca: 2598 kali
Banyak orangtua kristen menamai anak mereka dengan nama “Petrus atau Peter.” Tapi sangat jarang saya menemukan seorang yang bernama “Yudas.” Mengapa demikian? Apakah karena arti nama Yudas tidaklah baik? Tentu saja tidak, karena arti nama Yudas tidak kalah bagusnya dibanding dengan Petrus. Kalau Petrus berarti “batu karang”, Yudas berarti “pujian bagi Tuhan.” Sebuah nama yang indah bukan? Tentu saja ada alasan lain yang membuat para orangtua enggan menamai anak mereka Yudas, tapi apa ya alasannya? Aha…! Saya tahu sekarang! Banyak orangtua tidak menamai anak mereka Yudas supaya anak mereka tidak mengikuti jejak Yudas Iskariot yang mengkhianati gurunya. 

Meskipun ada nama Yudas lain di dalam Perjanjian Baru (saudara Yesus [Matius 13:5] yang menulis surat Yudas), tetapi nama Yudas terlanjur melekat pada pribadi Yudas Iskariot sang pengkhianat. Tetapi benarkah Petrus memiliki reputasi yang lebih baik daripada Yudas Iskariot? Sama sekali tidak! Petrus dan Yudas Iskariot sama-sama berkhianat. Mereka berdua sama-sama orang yang menjual Tuhan Yesus. 

Yudas Iskariot menjual gurunya demi tiga puluh keping perak, dan Petrus “menjual” Tuhan Yesus demi keselamatan dirinya. Setelah melakukan tindakan tercela itu, baik Petrus maupun Yudas keduanya menyesali perbuatannya. Alkitab mencatat Petrus menyesan dan menangis tersedu-sedu, Yudas Iskariot ketika mendengar Yesus dijatuhi hukuman mati ia menyesal lalu ia mengembalikan uang 30 keping perak kepada para imam kepala dan tua-tua

Lalu apa yang membedakan Petrus dari Yudas Iskariot? Meskipun Petrus dan Yudas sama-sama menyesali perbuatan mereka, tetapi Petrus tidak tenggelam di dalam penyesalannya. Petrus menjadikan penyesalannya sebagai titik balik untuk bertobat, tapi Yudas Iskariot berlarut-larut dalam penyesalan dan rasa bersalahnya hingga ia mengakhiri hidupnya. Titik yang sama juga yang membuat si bungsu meninggalkan kandang babi dan kembali ke rumah bapanya. Semoga kita tidak sekedar menyesali dosa, tapi meninggalkan dosa dan berbalik kepada Tuhan melewati jalan pertobatan. 

Jakarta, 04 April 2003

Pancha W Yahya
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."