• PDF

Budaya Jam Karet

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Rabu, 29 April 2009 13:45
  • Ditulis oleh Pancha W. Yahya
  • Sudah dibaca: 1861 kali
Di negara ini jam karet telah membudaya. Bukan berarti jam dari orang-orang Indonesia semua terbuat dari karet. Jangankan terbuat dari karet, malahan pada tangan sebagian rakyat Indonesia ada yang terlilit oleh jam-jam ber”merek” yang dilapis dengan emas dan bertatahkan berlian, yang tentu saja nilainya sangat mahal. Kalau demikian, lalu apanya yang terbuat dari karet? Bukan jarumnya atau mesinnya atau juga tombolnya, tetapi yang mengaret adalah kedisiplinan dan komitmennya. Jam sepuluh pagi janji untuk bertemu, belum tentu jam sepuluh tepat orang tersebut hadir. Bisa jam sepuluh lebih! Berapa lebihnya? Bisa lima menit , sepuluh, tiga puluh menit bahkan bisa satu jam.

Tidak disadari budaya jam karet itu juga telah “menyusup” ke dalam kehidupan bergereja, khususnya dalam ibadah. Banyak orang Kristen yang terlambat menghadiri kebaktian. Sikap menghadiri ibadah tidak tepat waktu itu menunjukkan bahwa sebagian orang Kristen kurang menghargai pentingnya ibadah. 

Mengapa demikian? Toh, banyak dalih yang diberikan orang kristen yang hadir terlambat di kebaktian. Mungkin karena lokasi rumah yang jauh dari tempat ibadah, atau juga punya anak-anak yang masih kecil sehingga perlu waktu yang lama untuk mengurusnya. Jadi khan masuk akal dan dapat diterima kalau mereka datang terlambat? Tapi sesungguhnya itu tidak dapat menjadi alasan untuk warga gereja dapat terlambat menghadiri ibadah. Kalau untuk datang ke lapangan udara untuk menumpang pesawat terbang atau ke stasiun untuk naik kereta api mereka bisa datang tepat waktu bahkan jauh sebelum waktunya, mengapa tidak untuk kebaktian? 

Jadi hadirilah ibadah tepat waktu untuk menunjukkan bahwa kita sungguh-sungguh menganggap ibadah itu penting dan wujud pemberian yang terbaik kita kepada Tuhan! Dengan hadir sebelum ibadah mulai juga membantu kita untuk mempersiapkan hati dan pikiran kita untuk menyembah Tuhan. 

Pancha Wiguna Yahya

Jakarta, 25 April 2003
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."