• PDF

Perumpamaan tentang Anak-Anak yang Hilang

Penilaian Pengunjung: / 3
TerjelekTerbaik 
  • Rabu, 29 April 2009 14:05
  • Ditulis oleh Pancha W. Yahya
  • Sudah dibaca: 3718 kali
Sebuah lukisan tergantung dalam sebuah ruangan di biara St. Petersburg, Rusia. Lukisan tersebut diselesaikan oleh Rembrant pada abad ke 17 dan diberi judul “Kembalinya si Anak Hilang (The Return of the Prodigal Son)”. Di dalam lukisan itu terlihat seorang bapak dengan mantel berwarna merah, membungkuk dan dengan lembut menyentuh bahu seorang anak muda gundul, dan compang-camping yang berlutut di hadapannya. Satu lukisan yang memberikan gambaran yang sangat hidup tentang perjumpaan sang bapa yang menerima kembali si bungsu yang hilang (Luk. 15:11-32). 

Namun ada satu hal yang amat menarik dari lukisan itu, bahwa dalam lukisan ini si sulung dihadirkan di sebelah sang bapa dan si bungsu yang digambarkan sebagai pribadi yang angkuh dan memandang sinis kedatangan adiknya. Padahal jelas perumpamaan ini mengajarkan bahwa si sulung tidak hadir ketika adiknya pulang sebab ia sedang bekerja di ladang (Luk. 15:25). Tetapi mengapa si sulung dihadirkan di situ oleh Rembrant? Rupanya Rembrant menangkap esensi dari perumpamaan tersebut bahwa anak yang hilang itu bukan hanya si bungsu yang pergi meninggalkan rumah dan berfoya-foya, namun, si sulung pun ternyata juga hilang di rumahnya sendiri. Suatu hal yang memang sangat ironis. 

Tapi itulah kenyataannya. Si sulung meskipun dia hidup secara fisik dekat dengan sang bapa tetapi sesungguhnya ia jauh dan terhilang karena ia tidak merasa memiliki dan dimiliki di rumahnya (Luk. 15:31). Secara lahiriah ia melakukan segala sesuatu yang biasanya dikerjakan oleh anak yang baik, tetapi di dalam batinnya, ia pergi jauh dari bapanya. Dengan mengatakan perkataan, “telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku, si sulung melakukan ketaatan dan kewajiban sebagai beban, dan pelayanan sebagai perbudakan. 

Mungkin kita seperti si sulung yang terhilang di rumah sendiri karena kita tidak memiliki hubungan yang dekat dengan Bapa meskipun secara fisik kita aktif melayani. Atau mungkin kita sibuk melayani tapi merasa pelayanan itu sebagai beban dan perbudakan. 

Pancha Wiguna Yahya

Jakarta, 18 Juli 2003
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."