Seumpama Saya Sebuah Pohon

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
Membaca surat kabar adalah kegiatan rutin saya setiap hari. Bagi saya membaca koran adalah satu hal yang penting karena hal itu membuat saya mengikuti perkembangan berita yang terjadi di “dunia” luar dan menambah wawasan saya. Mengingat keterbatasan waktu, setiap kali membaca koran, saya hanya memfokuskan pada tulisan-tulisan yang saya anggap penting saja. Saya tidak terlalu memperhatikan hal-hal yang saya anggap kurang penting seperti advertensi atau berita dukacita. Tapi entah mengapa, mata saya tertuju pada sebuah berita dukacita yang dimuat dalam surat kabar yang saya baca hari itu. 

Pada saat membaca berita dukacita itu, sontak saya terpaku. Saya dikagetkan dengan isi berita dukacita itu. Saya kaget bukan karena saya mengenal dengan baik orang yang namanya tercantum dalam iklan dukacita itu. Namun saya dikejutkan dengan tanggal lahir orang yang baru meninggal itu. Ternyata tanggal lahirnya sama persis dengan tanggal lahir saya, baik tanggal, bulan maupun tahunnya. Saya langsung membayangkan seandainya saya yang dimuat di iklan dukacita itu. Dan bukannya tidak mungkin hal itu terjadi. Kalau hal itu terjadi, saya merasa belum siap. Saya belum siap untuk dicantumkan nama saya dalam berita dukacita itu. 

Bukan karena saya kuatir akan kehidupan saya setelah kematian karena saya beriman bahwa Yesus, Juruselamat saya, sanggup memberikan kepada saya hidup yang kekal. Tapi saya justru saya mengkuatirkan hidup saya sebelum kematian. Saya merasa saya belum berbuat banyak untuk Tuhan. Saya anggap diri saya belum banyak menjadi berkat bagi orang lain. Seumpama sebuah pohon, saya belum cukup memuaskan pemilik saya dan keluarganya dengan buah-buah yang saya hasilkan. Saya belum cukup memuaskan tetangga-tetangga dan handai taulan pemilik saya untuk mencicipi buah yang saya hasilkan. 

Iklan dukacita yang tidak sengaja saya baca hari itu telah memberikan motivasi baru kepada saya supaya saya hidup lebih baik lagi. Supaya saya bisa melakukan apa yang dikatakan oleh Rasul Paulus, “Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah” (Fil. 1:22). 

Pancha Wiguna Yahya

Jakarta, 01 Agustus 2003
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."