• PDF

Manusia Kepingin Kalau Bisa

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Rabu, 29 April 2009 14:07
  • Ditulis oleh Pancha W. Yahya
  • Sudah dibaca: 1648 kali
Kata-kata di atas adalah judul dari sebuah puisi, buah karya Jose Rizal Manua. Secara lengkap bunyi puisi itu demikian,

setelah lepas dari sekedar jadi pedagang
dan punya rumah toko
manusia kepingin
telivisi, kulkas dan honda bebek

setelah lepas dari sekedar jadi pengusaha
dan punya super market
manusia kepingin

laser disk, baby benz dan kebun anggrek

setelah lepas dari sekedar konglomerat
dan punya kondominium
manusia kepingin kapal pesiar, 
hotel terapung dan lapangan golf

setelah lepas dari sekedar jadi pedagang
setelah lepas dari sekedar jadi pengusaha
setelah lepas dari sekedar jadi konglomerat
manusia kepingin
tak mati-mati 
kalau bisa…

Jika kita mencermati puisi di atas, kita akan mendapati sebuah paradoks di dalamnya. Keinginan yang tidak terbatas dari manusia yang sangat terbatas, itulah paradoksnya! Sangat ironis memang, manusia yang punya ambisi yang “maha tinggi” sering lupa bahwa mereka hanyalah makhluk yang serba terbatas. Salah satu yang membatasi manusia adalah kematian. Dari jaman bauhela manusia telah berjuang untuk menemukan resep umur panjang namun usaha untuk hidup selama-lamanya pun belum terwujud. Hingga kini, di era teknologi dan informasi, sang maut belum terkalahkan oleh manusia.

Memang maut akan menjemput siapa saja tidak pandang bulu, kapan pun dan di mana saja. Celakanya, seringkali kematian datang tanpa kabar, dan pemberitahuan terlebih dulu. Contohnya, tidak sampai satu bulan ini ada dua orang yang saya kenal, meninggal dunia secara mendadak. Contoh yang lain adalah meledaknya sebuah bom dengan kekuatan “high explosive” yang meluluhlantakan sebagian bangunan hotel JW Marriot, Jakarta pada hari Selasa siang kemarin. Ledakan bom yang dasyat itu telah menyebabkan sedikitnya 9 nyawa melayang dan 157 orang terluka. Bagi para korban, peristiwa ledakan bom itu sungguhlah tidak terduga. Mereka yang meninggal dunia, tentulah tidak mengetahui sebelumnya bahwa ada bom yang akan merenggut nyawa mereka. Bahkan satu detik sebelum bom itu meledak! Sungguh, manusia tidak berdaya menghadapi kematian, bahkan manusia tidak tahu kapan dia akan datang!

Tapi benarkah manusia tidak berdaya apa-apa terhadap kematian? Bagi kebanyakan orang jawabannya adalah ya! Tapi bagi pengikut kristus jawabnya adalah tidak! Meskipun semua orang, termasuk orang kristen, akan mengalami kematian, tetapi kuasa kematian itu tidak lagi berkuasa atas diri orang kristen. Paulus, sang rasul, mengatakan, “Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu? Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita” (1 Kor. 15:55, 57). Bagi orang yang telah percaya kepada Yesus, kematian bukanlah sesuatu yang menakutkan. Sebaliknya kematian adalah pintu gerbang menuju kehidupan yang penuh kebahagiaan karena kita akan bersama-sama dengan Tuhan selama-lamanya (Fil. 1:23). Oleh sebab kita tidak tahu kapan saat kematian kita, marilah kita berkata seperti yang dikatakan Paulus, “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah” (Fil. 1:21-22).

Pancha Wiguna Yahya

Jakarta, 08 Agustus 2003
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."