• PDF

Pasukan Berani Hidup

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Rabu, 29 April 2009 14:09
  • Ditulis oleh Pancha W. Yahya
  • Sudah dibaca: 1368 kali
Sebuah harian ibukota beberapa hari lalu memuat sebuah berita yang sangat mengejutkan. Seorang murid SD (12 tahun) mencoba untuk mengakhiri hidupnya dengan gantung diri. Dan penyebab bunuh diri itu adalah ia tidak dapat membayar biaya ekstra kulikuler sebesar Rp. 2500 yang diminta oleh gurunya. Betapa tragisnya keadaan masyarakat kita! Sebetulnya kasus di atas hanyalah gunung es dari kasus bunuh diri lain yang ada. Data yang dihimpun menunjukkan kepada kita akan adanya pertambahan jumlah pelaku bunuh diri di kota Jakarta. Sepanjang tahun 2002 sedikitnya (karena masih banyak kasus bunuh diri lain yang tidak tercatat) dicatat ada 75 kasus kasus bunuh diri di kota Jakarta. Tetapi dalam paruh tahun 2003 (Januari – Juni) saja dicatat sedikitnya ada 67 kasus bunuh diri. Berarti ada peningkatan jumlah kasus bunuh diri yang cukup signifikan di kota metropolitan Jakarta.

Sebagian orang menduga pertambahan jumlah kasus bunuh diri di atas disebabkan karena semakin banyak orang yang terhimpit oleh masalah ekonomi akibat krisis ekonomi yang mendera negara kita selama ini. Contohnya adalah kasus bunuh diri murid SD seorang anak kuli pikul di atas. Meski demikian, tidak semua pelaku bunuh diri melakukan tindakannya karena dalih kesulitan ekonomi. Contohnya, dalam bulan ini, kita telah mendengar setidaknya ada dua orang eksekutif (satu dari Korea Selatan dan yang lain dari negeri kita) yang hidupnya lebih dari kecukupan melakukan tindakan bunuh diri dengan terjun dari bangunan tinggi.

Sebetulnya, keputusan untuk bunuh diri dipilih seseorang karena ia merasa hidupnya terlalu sarat dengan masalah dan penderitaan. Bagi orang yang demikian, kematian dianggap sebagai solusi terbaik dari masalah mereka. Ayub pun pernah mengutarakan keinginannya untuk mati. Di tengah-tengah pergumulan “maha” berat, ia pernah berkata “mengapa terang diberikan kepada yang bersusah-susah, dan hidup kepada yang pedih hati; yang menantikan maut, yang tak kunjung tiba, yang mengejarnya lebih dari pada menggali harta terpendam“ (Ayub 3:20-21). Bagi Ayub kematian lebih baik daripada kehidupan yang penuh penderitaan karena di dalam kematian ia dapat berisitirahat tenang tanpa merasakan derita dan nestapa (Ayub 3:13).

Memang lebih sedikit orang yang berani hidup di tengah kesulitan dan tantangan. Jauh lebih banyak orang yang “berani” mati untuk lari dari kenyataan hidup. Akhirnya Ayub pun menyesali perkataannya dan mencabut semua ucapannya (Ayub 42:6). Karena ia tahu bahwa penderitaan hidupnya yang berat ada dalam kekuasaan dan rencana Allah demi membentuknya untuk semakin mengenal Allah (Ayub 42:2-3; 5) Bersedia bergabung dalam korps PBH (Pasukan Berani Hidup)? 

Pancha Wiguna Yahya

Jakarta, 29 Agustus 2003
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."