• PDF

Anakmu, Bukan Milikmu!

Penilaian Pengunjung: / 3
TerjelekTerbaik 
  • Rabu, 29 April 2009 16:54
  • Ditulis oleh Pancha W. Yahya
  • Sudah dibaca: 4425 kali
Bagaimana respons Anda setelah membaca judul tadi?  Barangkali Anda segera memprotes judul tersebut.  Anda berkata, "Bagaimana mungkin anakku bukan milikku?"  Kalau Anda seorang ibu, mungkin Anda akan protes, "Akulah yang mengandung anakku selama sembilan bulan, menyusuinya, merawatnya dengan penuh cinta, anakku adalah milikku!" Seandainya Anda seorang ayah, mungkin Anda akan berkata, "Akulah yang membesarkan anakku dengan kasih, masakan anak itu bukanlah milikku? Kalau bukan milikku, lantas dia milik siapa?  Milik orang lain?"

Tunggu dulu. Sabar. Anda semua jangan protes dulu. Akan saya jelaskan kepada Anda maksud judul tersebut.  Judul tadi sama sekali tidak mau berkata bahwa anak Anda bukanlah milik Anda. Apalagi mengatakan bahwa anak Anda adalah milik orang lain.  Mereka adalah milik Anda namun, Anda tidak berhak sepenuhnya atas diri mereka. Sampai di sini mungkin Anda malah bertambah bingung.  Supaya Anda tidak terlalu bingung, saya akan mengutip sebuah puisi karangan Kahlil Gibran, seorang kristen Libanon. Semoga puisi ini bisa menghapus kebingungan Anda.

"Anakmu bukanlah milikmu.
Mereka putra-putri kehidupan yang rindu pada dirinya.
Lewat kau mereka lahir, namun bukan dari engkau.
Meski mereka bersamamu, mereka bukan hakmu.
Berikan kasih sayangmu, namun jangan paksakan kehendakmu.
Sebab mereka punya alam pikiran sendiri.
Berikan tempat pada raganya, tetapi tidak untuk jiwanya.
Sebab jiwa mereka penghuni masa depan yang tiada dapat kau kunjungi,
juga tidak dalam mimpi.
Kau boleh berusaha menyerupai mereka,
namun tidak membuat mereka menyerupaimu.
Sebab kehidupan tidak berjalan mundur.
Juga tidak tenggelam di masa silam.
Kaulah busur, yang melepaskan anak panah kehidupan.
Sang Pemanah membidik sasaran dalam ketidak terbatasan.
Dia merentangmu dalam keperkasaan-Nya agar panah melesat cepat dan jauh.
Meliuklah dengan sukacita di tangan Sang Pemanah,
sebab Ia mengasihi anak panah yang melesat cepat,
sebagaimana Ia mencintai busur yang kuat."

Demikian puisi karya Kahlil Gibran yang membukakan cara pandang kita bahwa anak-anak kita adalah milik Tuhan.  Kita sering merasa bahwa anak-anak kita adalah milik kita lalu kita memaksakan supaya mereka menjadi seperti kita atau seperti yang kita mau. Kita lupa bahwa anak-anak adalah titipan dari Tuhan untuk kita kasihi dan didik agar mereka menjadi seperti yang Tuhan inginkan.

Pancha Wiguna Yahya

Jakarta, 15 Oktober 2004

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."