• PDF

Malu

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Rabu, 29 April 2009 16:55
  • Ditulis oleh Pancha W. Yahya
  • Sudah dibaca: 1658 kali
Ketika remaja, saya cukup sering mengantar ibu saya ke pasar dengan sepeda motor. Tentu kegiatan tersebut hanya berlangsung saat saya libur sekolah. Waktu mengantar ibu, biasanya saya tidak ikut masuk ke pasar, tetapi menunggu di tempat parkir. Suatu pagi ketika menunggu ibu saya yang sedang berbelanja, saya menyaksikan sebuah peristiwa yang menarik. Begini ceritanya. Dari kejauhan saya melihat seorang ibu sedang berjalan meninggalkan pasar. Tangan kirinya menjinjing belanjaan sedang tangan kanannya menggandeng anaknya. Ibu dan sang anak--yang kira-kira berumur lima tahun--itu berjalan ke arah saya. Tiba-tiba, si anak tersandung sebuah batu. Untung tangan sang ibu menggandeng tangan anak itu, sehingga ia tidak terjatuh. Respons sang ibu terhadap tersandungnya anak itu cukup mengejutkan saya. Melihat anaknya tersandung, ibu itu langsung mengomeli anaknya. Beberapa kata ibu itu yang sekarang masih dapat saya ingat antara lain, “kalau jalan yang hati-hati! Matanya ditaruh di mana?” Tidak lama setelah omelan itu meluncur dari mulut si ibu, anak itu tersandung untuk yang kedua kali. Kali ini yang keluar dari mulut ibu itu bukan lagi omelan, tapi amarah. Ibu itu kelihatan begitu kesal, karena anaknya tidak mendengarkan peringatannya kepadanya. Namun, belum sampai ibu itu menyelesaikan amarahnya, ia sendiri tersandung hingga hampir jatuh. Seketika itu juga ia berhenti memarahi anaknya. Saya yang saat itu menonton adegan itu, tersenyum simpul.

Waktu itu, saya mencoba menebak perasaan sang ibu. Dari raut mukanya, ia terlihat amat malu. Mungkin ia malu karena ada beberapa orang, termasuk saya, yang menyaksikan peristiwa itu. Atau paling tidak ia malu kepada anaknya sendiri. Ia malu karena telah gagal melakukan apa yang ia perintahkan sendiri kepada anaknya.

Pada kenyataannya, banyak orangtua telah gagal melakukan apa yang mereka perintahkan, atau ajarkan kepada anak-anak mereka. Mereka mengajar kejujuran namun mereka sendiri melanggar ajaran mereka, bahkan di hadapan anak mereka sendiri. Mereka menasehati anak-anak mereka untuk taat kepada Firman Tuhan, tapi anak-anak mereka tidak melihat ketaatan itu tercermin dari perilaku mereka. Mereka menuntut anak-anak penuh cinta kasih, namun diri mereka sendiri penuh dengan kebencian dan makian. Dan yang menyedihkan ialah para orangtua ini sama sekali tidak merasa malu, tatkala tidak mau melakukan apa yang mereka ajarkan kepada anak-anak mereka.

Pancha Wiguna Yahya

Jakarta, 29 Oktober 2004
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."