Bencana

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
Kalender 2004 ditutup dengan lembaran kelam. Bertubi bencana menyatroni ibu pertiwi.  Mulai dari tergelincirnya pesawat Lion Air JT 0538 di Bandara Adi Soemarmo, Solo yang memakan korban 26 orang. Lalu, satu heli TNI AL terjengkang di sungai Siriwo, 80 kilometer arah Utara kota Nabire pada 22 Desember 2004.  Dua hari kemudian satu lagi heli TNI AU jatuh di Wonosobo, Jawa Tengah.  Jumlah korban yang tewas pada kedua bencana itu adalah 18 orang.

     Tak cukup sampai di situ, sebuah gempa tektonik berkuatan 5 skala Richter mengguncang Kabupaten Alor Nusa Tenggara Timur.  Akibat musibah itu 31 orang tewas, dan ribuan orang kehilangan tempat tinggal.  Tak lama berselang Nabire, Papua digoyang gempa berkekuatan 6,4 skala Richter. Tiga belas orang tewas dan infrastruktur hancur berantakan.  Tetapi, tak ada bencana yang lebih memilukan selain gempa dan tsunami yang meluluhlantakkan propinsi Aceh dan Sumatera Utara. Di Minggu pagi, 26 Desember 2004, gempa berkekuatan 8,9 skala Richter dan gelombang tsunami datang merenggut puluhan ribu nyawa, yang sepertiganya adalah anak-anak.

     Seandainya Yesus ada dalam wujud kemanusiaan-Nya kini, mungkin kita akan bertanya pada-Nya seperti yang dilakukan orang-orang dalam Lukas 13:1-5.  Mereka bertanya kepada Yesus tentang musibah yang menimpa orang-orang Galilea, yang sedang merayakan Paskah lalu dibantai dengan keji oleh orang suruhan Pilatus .  Meresponi pertanyaan mereka, Yesus juga menyinggung bencana yang merenggut delapan belas orang yang tertimpa menara Siloam.  Mengenai kedua bencana itu Yesus menjawab, “Sangkamu para korban bencana itu lebih besar dosanya dari semua orang yang lain? Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian.”  Apa maksud jawaban Yesus itu?  Pertama, Yesus mengatakan bahwa bencana adalah akibat dari dosa seantero umat manusia.  Semua manusia, termasuk kita yang tidak tertimpa bencana, sama berdosanya di hadapan Allah. Kedua, kata binasa dalam ayat 3 dan 5 menunjuk kepada “kebinasaan kekal dalam api neraka” bukan sekadar kematian fisik.  Jadi bencana seharusnya menjadi peringatan bagi kita yang masih hidup untuk bertobat agar kita tidak dijatuhi hukuman kekal.

     Mari kita bercermin dari bencana yang melanda negeri kita. Betapa manusia telah rusak oleh dosa dan harus segera bertobat. (Pancha Wiguna Yahya)
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."