• PDF

Pengungsi

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Rabu, 29 April 2009 17:00
  • Ditulis oleh Pancha W. Yahya
  • Sudah dibaca: 1769 kali
Tsunami yang mengempas Asia Selatan pada akhir tahun 2004 lalu, menyisakan sedikitnya tiga juta orang pengungsi (Tempo, 3-9 Jan 2005). Dari seluruh pengungsi itu, yang terbanyak ialah dari negara Sri Lanka dengan jumlah lebih dari satu setengah juta jiwa. Orang-orang yang tak berumah itu kini tergabung ke dalam barisan puluhan juta para pengungsi lain yang tersebar di penjuru bumi. Sebagian besar dari para pengungsi itu ialah pengungsi karena perang. Sisanya mengungsi karena mengalami perlakuan keji di tempat asalnya, dan sebagian lagi mengungsi karena bencana alam.

Para pengungsi biasanya tinggal di tenda-tenda, atau tempat-tempat penampungan sementara yang disediakan bagi mereka. Mereka makan dan minum seadanya, bergantung penuh pada belas kasihan orang lain. Pakaian mereka pun sekadar untuk menutup tubuh mereka dari panas-dinginnya alam. Pendidikan anak-anak mereka terlantar. Masa depan mereka kabur.

Sesungguhnya setiap orang percaya ialah “pengungsi” rohani. Hanya bedanya ialah kita memiliki tujuan akhir yang pasti. Rasul Paulus di dalam 2 Korintus 5:1-4, menjelaskan bahwa selama masih hidup di dunia ini kita seperti orang yang tinggal di tenda. Suatu saat tenda “pengungsian” kita akan dibongkar. Dan Tuhan menyediakan bagi kita rumah yang kekal di surga.

Penggambaran hidup orang percaya di dunia bagai tinggal di tenda paling sedikit memiliki dua arti. Yang pertama, itu berarti hidup di dalam dunia ini hanya sementara. Hidup di dunia ini, sepanjang apa pun hanyalah sebentar dibanding dengan kekekalan surga yang akan kita diami. Hidup di dunia yang sekejap ini, bukan tujuan akhir perjalanan rohani kita. Sesungguhnya kita sedang menumpang sementara di dunia, karena rumah kita adalah di surga. Jadi marilah kita mengejar segala sesuatu yang rohani. Karena yang rohani itu bernilai kekal, sedang yang jasmaniah itu sementara dan fana. Yang kedua, selama kita tinggal di tenda “pengungsian” ini kita dirudung dengan segala derita dan pahit getirnya kehidupan (2 Kor. 5:2.4). Sakit penyakit masih mendera hidup kita. Segala problem dan bencana masih mungkin menyerang kita. Tetapi biarlah pengharapan akan surga menyemangati kita menjalani hidup yang sulit ini. Sampai akhirnya kita tiba di surga, rumah kita yang kekal. Di sana tidak ada duka dan air mata (Wahyu 21:4). Selamat menempuh perjalanan hidup! (Pancha Wiguna Yahya)
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."