• PDF

Ya’ahowu

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Rabu, 29 April 2009 17:04
  • Ditulis oleh Pancha W. Yahya
  • Sudah dibaca: 1981 kali
Adalah bencana gempa dan gelombang Tsunami yang telah “membawa” saya beserta rombongan para sukarelawan dari sebuah sinode ke Pulau Nias. Sebelumnya tak pernah sedikit pun terbersit dalam pikiran kami untuk dapat mengunjungi Pulau Nias. Bahkan letak pulau itu di mana, banyak di antara kami termasuk saya, yang tidak mengetahuinya.

Akhirnya setelah menempuh perjalanan melalui udara, darat, laut selama lebih kurang 22 jam, kami tiba di Gunung Sitoli, ibukota Nias.

Sesampainya di sana rombongan segera dibagi menjadi tiga kelompok menunju ke tiga lokasi bencana Tsunami. Satu kelompok ke Sirombu. Kelompok yang lain menuju kecamatan Mandrehe. Dan saya tergabung ke dalam kelompok yang diutus ke Afulu. Tugas kami di sana ialah mendata korban dan kerusakan akibat bencana Tsunami, membagikan vitamin dan memberikan pembimbingan kepada para korban.

Satu kesan yang mendalam tentang orang Nias adalah salamnya. Mereka punya salam yang khas. Salam itu berbunyi, “ya’ahowu” (dibaca: ya-ho-wu). Dari seorang penerjemah yang mendampingi kami, saya tahu bahwa arti salam itu ialah, “Semoga engkau diberkati.” Amboi, sungguh indah maknanya bukan? Uniknya lagi salam itu dipakai orang Nias pada segala waktu dan keadaan. Di kecamatan Afulu tempat saya ditugaskan, salam ya’ahowu saling diucapkan oleh dua orang yang bersua di jalan, tidak peduli apakah itu pagi, siang, ataupun malam. Tatkala seseorang berkunjung ke rumah orang lain pertama-tama ia akan mengucap salam itu. Bahkan diawal dan akhir ibadah atau acara di gereja sang pemimpin akan mengucapkan salam itu. Tak ketinggalan pendeta pun sebelum berkotbah menyampaikan salam itu terlebih dahulu.

Entah bagaimana asal muasalnya, saya percaya salam ya’ahowu tidak lepas dari pengaruh Alkitab, mengingat mayoritas orang Nias adalah Kristen. Di dalam Alkitab ada tertulis, “janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat” (1 Petrus 3:9). Kita memang dipanggil untuk mendoakan orang lain, termasuk musuh kita (Matius 5:44), agar Tuhan mencurahkan berkat-Nya. Pertanyaannya adalah manakah yang lebih banyak keluar dari mulut kita, berkat atau kutuk? Ucapan yang membangun atau menghancurkan? (Pancha Wiguna Yahya)
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."