• PDF

Pengkhianat

Penilaian Pengunjung: / 4
TerjelekTerbaik 
  • Rabu, 29 April 2009 17:04
  • Ditulis oleh Pancha W. Yahya
  • Sudah dibaca: 3422 kali
Tak ada musuh yang lebih “besar” selain pengkhianat. Ia adalah musuh dalam selimut. Musuh yang pura-pura jadi kawan, bahkan seorang sahabat. Ia seolah begitu dekat, dan amat dipercaya. Tapi diam-diam ia menusuk dari belakang. Menancapkan belati ke jantung kita, menikam berulang-ulang sampai kita kehabisan darah. Lalu ia bergembira atas kematian kita. Mereka adalah serigala berbulu domba, yang menyeringai selepas menjilat-jilat darah korbannya. Sungguh, tiada kepedihan yang lebih perih selain mengalami pengkhianatan. Kalau tak percaya silakan tanya Julius Caesar, korban pengkhianatan Brutus, sahabat karibnya. Atau bertanyalah pada Tunggul Ametung, adipati Tumapel yang mati ditancap keris milik Ken Arok, bawahan kepercayaannya.

Bagi Yesus, Yudas Iskariot adalah sang pengkhianat keji. Meski telah diperingati Yesus berulang-ulang, namun ia bergeming. Yudas tetap konsisten pada rencananya semula untuk menjual sang Guru demi sekantong uang perak. Sungguh hanya uanglah yang memenuhi benaknya. Loyalitas telah lenyap dari idealisme seorang Yudas Iskariot. Kesetiaan menjadi rongsokan yang tak berarti di tangannya. Semua kebaikan sang Guru ia lupakan. Welas asih yang terpancar dari wajah Yesus, telah terhapus oleh gelapnya nafsu akan harta. Meski Yesus telah mengetahui rancangan busuk sang pengkhianat, namun Ia tetap membiarkan diri-Nya dikhianati demi menggenapi drama penyaliban untuk keselamatan umat manusia. 

Bersama-sama Yudas Iskariot, kita semua ada di dalam barisan pengkhianat Tuhan. Meski kitalah ciptaan Tuhan yang termulia, biji mata kesayangan-Nya, namun kita tega mengkhianati-Nya. Kita telah menjual kesetiaan kepada-Nya demi kenikmatan diri sendiri. Dosa-dosa kitalah yang menusuk “jantung” Allah. Pemberontakan-pemberontakan kita yang menyesakkan hati Allah. Kitalah para seteru Allah. Bahkan musuh-musuh dalam selimut. Namun syukur kita semua telah diampuni-Nya. Melalui salib, Yesus telah memperdamaikan kita dengan Sang Khalik (Roma 5:10). Siapa pun kita, juga Yudas Iskariot, asalkan bertobat dan percaya kepada Yesus, akan diterima-Nya kembali. Ia akan memeluk kita dengan penuh cinta, seperti bapa yang menerima sang bungsu meski ia telah mengkhianati bapanya. Hanya, maukah kita kembali pada-Nya?
(Pancha Wiguna Yahya)
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
lara   |110.138.172.xxx |28-07-2010 22:10:34
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."