Hilang

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
Suatu kali pada tiang listrik di depan gereja tempat saya beribadah terpampang sebuah reklame orang hilang. Iklan yang berukuran A4 itu memuat berita hilangnya seorang laki-laki kelahiran Ternate yang kini berusia 51 tahun. Dijelaskan dalam iklan tersebut ciri-ciri lelaki itu dan alamat serta nomor telpon yang bisa dihubungi bila ada orang yang menemukannya. Tak lupa dipasang potret lelaki itu besar-besar supaya khalayak dapat mengenalinya.

Iklan orang hilang seperti itu cukup sering kita lihat dan dengar, entah itu di pusat-pusat keramaian, tepi-tepi jalan, surat kabar atau radio. Reklame itu diperdengarkan atau diperlihatkan pada sebanyak mungkin orang supaya semakin besar kemungkinannya orang yang dicari itu ditemukan. 
Setiap kali membaca atau mendengar iklan orang hilang, saya segera membayangkan bagaimana perasaan mereka yang sedang mencari sanaknya yang hilang. Sebagai seorang yang belum pernah kehilangan famili, dan semoga saja tidak akan pernah, saya hanya bisa menebak perasaan mereka yang kehilangan. Mereka pasti gelisah, harap-harap cemas, kuatir, juga takut. Semua perasaan itu menggumpal menjadi satu. Kehilangan satu barang saja kita begitu kebingungan, apalagi kehilangan seseorang yang dikasihi.

Memang rasa kehilangan kita akan satu barang atau seseorang tergantung seberapa besar kita “mencintai” barang atau orang tersebut. Semakin besar “cinta” kita pada barang atau orang itu, semakin besar pulalah rasa kehilangan dan usaha untuk mencarinya. Melalui kisah Anak Bungsu yang Hilang (Lukas 15:11-32), Allah ingin mengungkapkan bahwa Ia sangat mencintai manusia yang berdosa. Dalam kisah itu diceritakan, meski si bungsu berbuat kurang ajar dengan meminta warisan sebelum sang bapa meninggal, tapi bapanya tetap mencintainya. Walau si bungsu telah menghamburkan harta warisan yang telah dikumpulkan sang bapa berpuluh tahun dengan susah payah, namun sang bapa tetap mencarinya. Sampai akhirnya si bungsu pulang. Lalu sang bapa segera berlari menyambut anak bungsunya. Ia memeluk dan mencium anak durhaka itu. Malahan ia mengadakan pesta penyambutan nan meriah demi anak kurang ajar itu. Itulah hati Allah. Ia selalu mencari anak-anak-Nya yang hilang. Dengan penuh harap, Allah menanti anak-anak-Nya itu kembali. (Pancha Wiguna Yahya)
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."