• PDF

Doa Makan

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Rabu, 29 April 2009 17:11
  • Ditulis oleh Pancha W. Yahya
  • Sudah dibaca: 2867 kali
Suatu kali saya dan beberapa teman berkesempatan menikmati makan malam di sebuah resto di bilangan Jakarta Utara. Setibanya di sana kami segera memesan menu yang kami suka. Dan setelah tidak lama menunggu akhirnya semua masakan yang dipesan telah terhidang di meja. Kini tiba saatnya kami menyantap semua hidangan yang tersedia. Tapi sebelum makan, tak lupa kami masing-masing berdoa terlebih dulu. Tahukah Anda, salah seorang teman kami berdoa makan dengan amat khusyuk. Bagaimana kami bisa tahu ia berdoa dengan sangat serius, padahal pada saat yang hampir bersamaan kami semua sedang berdoa? Jawabannya adalah karena sang teman ini berdoa paling lama, sehingga ketika kami semua sudah selesai berdoa kami masih bisa melihatnya sedang berdoa. Sungguh, betapa seriusnya teman kami ini berdoa. Matanya terpejam, kedua tangannya dilipat erat. Mulutnya komat-kamit. Entah apa saja yang diucapkannya dalam doa yang lama itu. Belum pernah saya menyaksikan orang berdoa makan seserius dia. Saya sendiri tak pernah berdoa makan sesungguh-sungguh itu. Paling-paling sambil memegang sendok dan garpu, saya menutup mata lalu mengucap beberapa kalimat syukur atas makanan yang ada di hadapan saya. Itu saja. Sedang teman saya ini berdoa makan begitu seriusnya, seolah baru saja melihat makanan setelah begitu lama ia tak makan. 

Terus terang, respon pertama saya waktu itu adalah geli. Meski saya tidak terlihat tertawa, tapi dalam hati saya tertawa. “Masakan doa makan harus seserius itu?”, demikian pertanyaan dalam hati saya. “Masakan harus begitu lama?” tanya saya lagi. Tetapi segera saya tercenung. Saya memikir ulang sikap saya tadi. Tepatkah pertanyaan-pertanyaan macam itu meluncur dari pikiran saya? Bukankah saya yang salah ketika membedakan sikap berdoa. Kalau saya berdoa makan boleh tidak serius, tapi kalau berdoa minta ampun harus dengan sepenuh hati? Kalau berdoa mengucap syukur sekadar diucap, tapi berdoa memohon harus dengan kesungguhan? Oh, ternyata saya telah melupakan hakikat doa. Doa adalah komunikasi dengan Sang Bapa. Doa itu tak hanya meminta, tapi juga bersyukur. Doa tak hanya meminta ampun, tetapi juga memuji Tuhan. Semua doa haruslah dipanjatkan dengan penuh kesungguhan. Sepenuh hati. Akhirnya saya tertawa geli. Saya menertawakan diri sendiri, yang harus belajar banyak tentang berdoa. (Pancha Wiguna Yahya)
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."