• PDF

Ya’ahowu*

Penilaian Pengunjung: / 3
TerjelekTerbaik 
  • Rabu, 29 April 2009 17:11
  • Ditulis oleh Pancha W. Yahya
  • Sudah dibaca: 8350 kali
“Pokoknya kalau Anda nanti bertemu dengan orang Nias di sana, sebut saja ya’ahowu,” demikian pesan seorang pendeta asal Nias yang mengarahkan kami pada sesi pembekalan sebelum kami berangkat ke Nias. Kata pendeta itu kepada kami, seluruh peserta Bina Kader angkatan VI, “ya’ahowu adalah salam orang Nias, yang berlaku pada segala waktu baik pagi, siang atau malam juga segala keadaan.” Dalam hati daku bertanya, “masakan benar ada salam untuk segala waktu dan keadaan?”

     Setelah melewati perjalanan nan panjang dan melelahkan, akhirnya kami tiba di Gunung Sitoli, ibukota Kabupaten Nias. Selepas beristirahat sejenak, rombongan dibagi menjadi tiga kelompok.  Masing-masing kelompok menuju ke lokasi-lokasi bencana gempa dan gelombang Tsunami yang ada di Pulau Nias.  Satu kelompok ke kecamatan Sirombu dan Mandrehe. Kelompok lain diutus ke kecamatan Teluk Dalam. Sedang aku bergabung ke dalam kelompok yang pergi ke kecamatan Afulu.  Siang itu juga kami langsung bertolak ke Afulu. Sepanjang perjalanan yang ku tempuh dalam waktu tujuh jam dengan mobil dan dua jam berjalan kaki, aku menangkap kesan bahwa orang Nias itu amat religius. Hal itu terlihat dengan banyaknya gereja yang berdiri di tepi jalan yang kami lewati.  Beragam gereja kami jumpai di sana . Dalam hal denominasi ada gereja-gereja dari aliran arus utama, seperti mBanua Niha Kerisso Protestan (BNKP) yang adalah gereja Protestan paling tua di sana, Orahua Niha Keriso Protestan (ONKP), atau Angowuloa Masehi Indonesia Nias (AMIN) sampai aliran pentakosta dan karismatik macam Gereja Pantekosta dan Gereja Bethel Indonesia. Dalam hal bentuk bangunan, terdapat gereja yang lumayan megah, sampai gereja yang amat “tidak layak”.  Gedung gereja yang sudah rusak dan tidak dipakai lagi juga banyak terlihat di sana .

     Setelah aku tinggal bersama-sama dengan penduduk Afulu, suasana religius itu makin mengental. Setiap pagi, keluarga-keluarga di Afulu mengawali hari dengan menyanyikan lagu-lagu dari buku Sinunö (huruf ö dibaca seperti vokal e pada kata lemari), yang artinya buku Pujian dan berdoa bersama. Pada hari Minggu, seluruh keluarga dengan pakaian yang terbaik berbondong-bondong menuju ke gereja untuk berbakti bersama. Di gereja pun mereka memuji Tuhan dengan penuh semangat. Di sana mereka memberi persembahan dengan uang, juga hasil ternak dan pertanian mereka. Dan dari penduduk Afulu aku mendengar cerita, bahwa saat gempa dan Tsunami datang, sebagian penduduk Afulu malah berkumpul di gereja untuk berdoa terlebih dulu sebelum mereka mengungsi ke gunung.

     Kini kita kembali ke cerita tentang ya’ahowu. Ternyata, betul pesan pendeta asal Nias yang pernah mengarahkan kami, bahwa ya’ahowu adalah pesan yang berlaku universal. Setiap kali orang Afulu berpapasan di jalan, tidak peduli kapan pun waktunya,  mereka saling melempar salam ya’ahowu.  Bahkan ya’ahowu pun diucapkan oleh Pendeta atau Liturgis saat mengawali dan mengakhiri ibadah atau acara Pemahaman Alkitab (PA) di gereja. Kami pun mengucap salam ya’ahowu tatkala kami berjumpa penduduk Afulu, entah itu di jalan, atau saat kami melintas di depan rumah mereka. Dan mereka menjawab salam kami dengan ya’ahowu juga. Rasa penasaran pun menggelegak di benakku. Aku benar-benar ingin tahu, sebetulnya apa sih arti kata ya’ahowu? Akhirnya aku bertanya kepada seorang gadis Nias yang menjadi penerjemah kami selama perjalanan di Afulu.  “Kris, apa sih arti kata ya’ahowu?” “Ya’ahowu artinya kira-kira ‘Semoga Tuhan memberkati’, miriplah dengan kata shalom,” demikian gadis yang bernama Kristina Zebua itu menjawab rasa penasaranku. Amboi, betapa religiusnya orang Nias ini, sehingga salam yang mereka ucapkan bernafaskan kristiani. Setiap kali orang Nias mengucap salam ya’ahowu saat itu mereka mendoakan orang yang diberinya salam itu, “semoga Tuhan memberkatimu.”

     Sayangnya kehidupan orang Afulu sangat jauh dari salam yang mereka selalu ucapkan. Mungkin secara rohani mereka diberkati tetapi secara fisik tidak. Padahal dalam Alkitab, makna kata shalom tidak hanya diberkati secara rohani, tetapi juga diberkati secara ekonomi (Ulangan 23:6; 1 Samuel 25:6; Mazmur 37:11; 147:11; Yesaya 60:17; 66:12; Zakaria 8:12). Sebelum terkena bencana gelombang Tsunami kehidupan mereka sudah sangat menderita, apalagi setelah bencana itu. Kata pepatah, “sudah jatuh, tertimpa tangga.” Sampai saat ini mereka belum pernah mengenyam nikmatnya aliran listrik. Bayangkan di era globalisasi dan informasi seperti ini masih ada penduduk persada Indonesia yang belum menikmati listrik. Mobil pun belum dapat masuk ke Afulu, sehingga lalu lintas ekonomi mereka bergantung kepada “kereta”, istilah yang mereka pakai untuk menamai sepeda motor. Ironisnya, konon dulu pada jaman Jepang mobil telah masuk ke kecamatan Afulu. Akan tetapi setelah masa kemerdekaan malahan belum ada lagi mobil yang masuk ke sana . Secara umum penduduk Afulu hidup di bawah garis kemiskinan. Setiap hari mereka hanya makan nasi dengan lauk seadanya, seperti daun singkong, ubi atau dengan mie instan. Sesekali mereka makan dengan ikan asap. Pada acara-acara pesta barulah mereka menikmati daging babi hutan yang banyak dipelihara di rumah-rumah Afulu. Dalam kunjungan ke sebuah dusun di kecamatan Afulu, kami mendapati seorang anak berusia kira-kira dua tahun sedang disuapi oleh ibunya hanya dengan nasi putih, tanpa lauk apa pun. Ketika kami bertanya kepada sang ibu kami terkejut karena mendengar bahwa anak-anak usia 0-3 tahun di desa itu hanya makan nasi putih tanpa lauk apa pun. Astaga!

     Dalam bidang pendidikan orang Afulu juga mengalami hal yang sangat memprihatinkan. Di kecamatan Afulu tak ada SLTA. Kalau ada anak-anak dari keluarga mampu yang ingin melanjutkan ke SLTA mereka dikirim orangtua mereka ke Gunung Sitoli. Di kecamatan itu hanya ada satu SLTP, dan beberapa SD. Yang menyedihkan ialah karena masalah finansial, semua guru SD di sana mempunyai pekerjaan lain selain sebagai pengajar. Sebagian besar dari mereka bertani selain menjadi guru. Masa Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) untuk anak SD di sana adalah jam 08.00 – 12.00. Kebanyakan murid tidak diberi Pekerjaan Rumah (PR) karena malam hari tidak ada lampu.  Sebagian besar murid tidak memiliki buku pelajaran karena harganya tak terjangkau oleh mereka dan sulit didapat. Patut disayangkan keadaan itu, padahal secara sepintas aku mengamati bahwa anak-anak Afulu itu cerdas-cerdas. Namun sayang mereka tidak punya kesempatan seperti anak-anak lain di kota-kota besar.

     Suatu pemandangan yang menurutku ironis terhampar di Afulu. Di satu sisi mereka kaya secara rohani. Gereja banyak berdiri di sana. Mereka hidup dalam suasana yang amat religius, doa, memuji Tuhan, belajar Alkitab. Tetapi di sisi lain, kehidupan materi mereka amat memprihatinkan. Di situlah saya merenungkan sebuah pertanyaan, “sampai di manakah gereja harus berperan bagi warganya dan masyarakat?”  Apakah tugas gereja hanya sekadar memberi makanan rohani warganya, namun menafikan kebutuhan perut sidang jemaatnya? Bukankah, dulu dalam menjalankan pelayanan-Nya di dunia Yesus tak hanya mengajar, namun juga menyembuhkan orang sakit dan memberi makan 5000 orang?  Bukankah gereja sebagai representatif Allah wajib juga menghadirkan shalom yang meliputi kesejahteraan lahir-batin bagi dunia ini? 

     Kiranya pergumulan ini tak hanya milik gereja-gereja di tanah Nias tetapi juga milik gereja-gereja di Indonesia. Sudahkah gereja memberi sumbangsih yang positif bagi masyarakat di mana ia tinggal? Menyitir perkataan yang pernah diucapkan oleh Pdt. Eka Darmaputera, “Seandainya gereja suatu ketika tidak boleh ada lagi adakah orang-orang di sekitarnya yang merasa kehilangan?” Ataukah sebaliknya mereka senang karena gereja tidak ada lagi? Mari kita menjawab pertanyaan itu dengan karsa, bukan dengan kata.  Ya’ahowu! (Pancha W. Yahya)

* Artikel ini diambil dari buku Ikutlah Aku: Kumpulan Refleksi Peserta Bina Kader GKI dalam Rangka Belajar dan Pelayanan ke Daerah Bencana Nias (Bandung: Bina Media Informasi, 2005), hal. 31-39.

** Artikel ini dipersembahkan untuk Ama, Ina, Ga'a dan Akhi (Bapak, Ibu, Kakak dan Adik) terkasih yang tengah menderita karena bencana gempa di Nias.  Kiranya Tuhan sumber kekuatan menyokong kalian semua.  Ya'ahowu!

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."