Oh ... Nias

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
Selasa pagi itu HP-ku bergetar-getar sembari mengeluarkan bunyi yang khas. Ah, sebuah pesan pendek baru saja mampir di telepon genggamku. Segera kusambar HP itu dan kubaca isinya. “PANCHA, SUDAH DENGER BERITA DARI KRIS-NIAS: PAK, RMH KM PD HANCUR, GEMPANYA BESAR SEKALI. KM SEMUA SDNG MENGUNGSI. TLNG DOAKAN KAMI.” Ternyata pesan itu dari seorang teman sekelas di seminari, yang sama-sama pergi Nias bulan Januari lalu. Sedang Kris, yang bernama lengkap Kristina Zebua, adalah seorang mahasiswi Sekolah Alkitab milik gereja mBanua Niha Kerisso Protestan (BNKP) di Gunung Sitoli, yang menjadi penerjemah tatkala kami mengunjungi desa-desa pesisir yang diluluhlantakkan oleh gelombang Tsunami. 

     Berita itu sungguh membuatku tercekat. Jantungku tak henti berdentam-dentam. Oh, bencana apalagi yang kembali menimpa Nias? Segera kunyalakan televisi, kucari berita di internet. Lalu kutahu bahwa pada Senin, 28 Maret 2006, pk. 23.06 WIB, sehari setelah Paskah, Nias diguncang gempa berkekuatan 8,7 skala Richter (seingatku gempa dan Tsunami menyapu Banda Aceh dan Sumatera Utara sehari setelah Natal, apakah ini kebetulan, atau...?). Delapan puluh persen rumah di Gunung Sitoli rusak parah, dan diperkirakan hampir 2000 orang tewas tertimbun bangunan. Sebagian besar penduduk mengungsi, kelaparan, dan kekurangan air bersih. Para relawan yang ingin membantu menemui kendala, karena pelabuhan laut dan udara telah hancur, jalan-jalan dan jembatan rusak.

     Ingatanku segera melayang saat aku menyusuri jalan-jalan di Gunung Sitoli. Di atas sebuah angkutan sejenis becak namun si pengayuh ada di samping penumpang bukan di belakangnya, kuamati deretan toko, kantor, juga bank yang berjejer di jalan-jalan ibukota Kabupaten Nias itu.  Memang, Gunung Sitoli saat itu tak terkena sama sekali gelombang Tsunami yang menghancurkan sebagian pesisir Barat dan Selatan, karena ia terletak di bagian Timur Laut Pulau Nias. Tapi, di surat kabar dan televisi kulihat bangunan-bangunan yang dulu kokoh berdiri, kini telah hancur menjadi puing. 

     Memang manusia tak punya kuasa apa-apa melawan sang alam, apalagi Sang Pencipta alam. Sekaya, sepandai, sekuat apa pun manusia, sejatinya ia lemah tak berdaya. Saat bencana bersahutan menimpa manusia, kita diajar untuk menyadari betapa rapuh dan terbatasnya manusia.  Sungguh, tak ada yang patut diandalkan dari diri manusia itu sendiri selain kekuatan yang datang dari Sang Khalik. (Pancha W. Yahya)

* Untuk Kristina Zebua dan rekan-rekan mahasiswa STT BNKP, meski rumah dan sekolah kalian hancur, aku berdoa kiranya iman kalian tak turut hancur.
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."