• PDF

Lalu Yesus Tertawa

Penilaian Pengunjung: / 2
TerjelekTerbaik 
  • Rabu, 29 April 2009 17:12
  • Ditulis oleh Pancha W. Yahya
  • Sudah dibaca: 4225 kali
Kali ini saya mengajak Anda main tebak-tebakan. Pertanyaannya cukup mudah. Coba tunjukkan di mana bagian Alkitab yang berbunyi, “lalu Yesus tertawa”? Anda diperbolehkan menggunakan segala cara untuk menyelisik ayat tersebut. Silakan pakai buku konkordansi atau software konkordansi yang ada di komputer juga dalam Personal Data Assistant (PDA) Anda. Sekarang, Anda diminta untuk mencari ayat tersebut terlebih dulu sebelum melanjutkan membaca tulisan ini.

Sekarang bagaimana, sudah ketemu? Kalau sudah, di manakah ayat itu? Ah, ternyata Anda belum menemukan juga? Memang, sekalipun Anda membaca seluruh Alkitab dengan teliti berulang kali, saya jamin Anda tak dapat menemukan ayat tersebut. Mengapa? Karena memang ayat itu tak ada! 

“Sudah tahu tidak ada mengapa masih ditanya juga? Ada-ada saja!” mungkin begini kira-kira bunyi gerutuan dari Anda yang telah susah payah mencari ayat tersebut. Sabar, saya minta Anda semua sabar. Maksud saya begini. Tujuan saya mengadakan kuis kecil-kecilan ini hanya ingin mengajak Anda memikirkan satu hal. Meski dalam Alkitab tak pernah dicatat bahwa Yesus tertawa, sebenarnya selama hidup di dunia pernah nggak ya Yesus tertawa?

Seorang dosen saya di seminari Alkitab, berani berkata bahwa Yesus pernah tertawa, bahkan Ia seorang yang ceria. Buktinya apa? Salah satu buktinya adalah banyak anak datang kepada Yesus (Mat. 19:14). Menurut dosen saya ini, anak-anak cenderung menyukai orang yang ceria, dan sebaliknya mereka enggan mendekati orang yang bertampang terlalu serius. Karena Yesus disukai anak-anak, pastilah Ia biasa tertawa. 

Meski tak dicatat dalam Alkitab, saya sih yakin Yesus pernah tertawa seperti Ia pernah menangis (Yoh. 11:35), marah (Mat. 21:12-13; Mark. 10:14), haus (Yoh. 19:28), lapar (Mat. 4:2), dan takut (Mark. 14:33). Semua itu pernah dilakukan dan dirasakan Yesus karena memang Ia pernah menjadi manusia seperti kita. Penulis Ibrani berkata, “Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa” (4:15). Yesus menjadi manusia, supaya Ia (dapat) merasakan segala pergumulan manusia. Sehingga Ia bisa berkata, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Mat. 11:28) dengan penuh pengertian karena Ia pernah mengalami yang kita alami. Bagaimana, masih mau main tebak-tebakan lagi?
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."