• PDF

Kesederhanaan

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Rabu, 29 April 2009 17:13
  • Ditulis oleh Pancha W. Yahya
  • Sudah dibaca: 1637 kali
Seumur hidup, boleh dibilang saya cukup jarang mengikuti acara seminar dan acara-acara yang sejenis seperti: ceramah, simposium, diskusi panel, atau lokakarya. Jika akhirnya saya ikut acara-acara tersebut, itu berarti saya amat tertarik dengan topik yang dibahas. Atau kemungkinan yang lain pembicara acara tersebut amat saya kagumi. Pada pertengahan tahun lalu saya mendaftarkan diri untuk mengikuti seminar yang diadakan selama setengah hari. Tentu saja saya mengikuti acara tersebut karena saya tertarik dengan temanya. Tetapi daya tarik yang lebih utama ialah sang pembicara adalah sosok yang saya kagumi. Sang pembicara adalah doktor lulusan Amerika yang berprofesi sebagai dosen beberapa universitas, penulis banyak buku, pemimpin sebuah LSM internasional, pelatih para profesional, konsultan bagi para enterpreuner, juga komisaris di beberapa mega-perusahaan. Saya benar-benar tidak mau membuang kesempatan berharga untuk mendengar ceramah dari pembicara hebat itu.

     Akhirnya sampailah saya pada hari pelaksanaan seminar. Pagi itu, saya duduk di tengah-tengah para peserta lain untuk mendengarkan uraian sang tokoh tadi. Karena kepiawaian sang pembicara menyampaikan ceramah, tanpa terasa kami telah tiba pada paruh pertama seminar tersebut.  Maka kami semua pun dipersilakan untuk menikmati kudapan yang telah tersedia. Sambil menikmati kudapan, kami tak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk bertanya-jawab dengan sang pembicara.  Tiba-tiba, obrolan kami pun terinterupsi oleh deringan telepon. Ternyata suara itu berasal telepon genggam milik sang pembicara. Lalu segera sang pembicara merogoh saku depan celananya.  Setelah telepon gengam dikeluarkan dari kantong, pembicara itu pun menjawab panggilan telepon untuknya. Seketika itu juga saya terperanjat. Tahukah Anda, apa yang membuat saya amat kaget?  Yang mengagetkan saya ialah handphone milik pembicara itu.  Rupanya pembicara itu (masih) menggunakan HP yang modelnya, menurut saya sudah amat ketinggalan jaman. Orang sekaliber dia, menurut pendapat saya, tidaklah cocok memakai telepon genggam sekuno itu. Seharusnya ia memakai model HP terbaru supaya kelihatan trendi dan bonafide. Nyatanya, bagi pembicara itu gaya hidup mewah dan trendi bukanlah hal yang terutama. Hal itu amat bertolak belakang dengan sebagian besar orang yang begitu mengejar kemewahan dan penampilan. Kini banyak orang tak lagi menilai suatu barang dari sisi fungsi dan isi melainkan gengsi dan aksi. (Pancha Wiguna Yahya)

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."