Hikayat Uang Kolekte*

Penilaian Pengunjung: / 1
TerjelekTerbaik 
Alkisah berkumpulah sejumlah uang dari berbagai penjuru di dalam sebuah kantong kolekte. Tiba-tiba terdengarlah sebuah percakapan di dalam kantong kolekte itu.

“Ah..., tempat ini bener-bener tidak nyaman. Di sini sangat gelap, sempit dan bau!,” teriak selembar uang seratus ribuan kertas seri terbaru. Mendengar seruan itu uang lima puluh ribu pun nyeletuk, “Hei teman, emang di mana kamu biasa tinggal? Bukankah memang sudah seharusnya tempat kita itu gelap, sempit dan... bau?”
Lalu dengan nada tinggi si seratus ribu pun menyahut, “Memangnya saya ini sama seperti kalian? Saya ini uang milik manusia yang super kaya. Oleh manusia itu saya biasa disimpan di dalam sebuah brankas yang luas, diterangi lampu supaya saya tidak jamuran, bukan di tempat yang jelek seperti ini!” Belum tuntas seratus ribu mengumbar kehebatannya, lalu seratus ribu lain yang berbahan campuran plastik pun memotong, “Eh, friend jangan keburu sok dulu! Saya ini yang lebih hebat. Kamu memang selalu tinggal di brankas yang mewah, tapi saya ini lebih hebat karena sudah pernah keliling dunia. Saya pernah dibawa manusia berwisata ke berbagai benua dan mengunjungi tempat-tempat tereksotik di planet ini, dari bersafari di hutan Afrika yang panas sampai berpetualang di Alaska nan beku.” Dan, terjadilah keributan dalam kantong kolekte itu. Uang-uang itu saling memamerkan kehebatan mereka masing-masing, kecuali selembar uang lima ribu yang lusuh, kotor dan bau. Uang lima ribu itu terpengkur di dasar kantong kolekte. Ia ada di sana, namun seolah tidak dianggap ada. 

Akhirnya keributan itu memuncak karena uang-uang itu tidak ada yang mau mengalah. Lalu berdirilah selembar uang dua puluh ribuan, dan berkata, “Teman-teman semua kita ini sangat keterlaluan! Kita semua saling berlomba untuk membanggakan diri dan akhirnya terjadi gontok-gontokan. Padahal kita semua ini satu kaum, sama-sama uang, bukankah sudah seharusnya kita ini bersatu? Kita telah larut dalam pertengkaran sampai kita tidak menghiraukan seorang teman kita, si lima ribu itu. Bagaimana kalau sekarang kita memberinya kesempatan untuk berbicara?” Uang-uang lain pun terdiam, seolah menyetujui kata-kata uang dua puluh ribu itu. Lalu dengan suara lirih uang lima ribu itu pun mulai berkata,”Dari tadi aku tidak bersuara karena aku tidak tahu apa yang dapat aku banggakan. Aku tidak pernah keliling dunia atau tinggal di tempat yang nyaman seperti sebagian dari kalian. Aku tinggal bersama teman-teman yang kotor dan bau. Di antara mereka akulah yang punya nilai paling besar. Aku ini milik seorang janda miskin, yang sehari-hari bekerja sebagai pemulung. Sepanjang Sabtu kemarin si janda bekerja mencari barang-barang yang dapat dapat ia jual di tumpukan-tumpukan sampah. Dan aku inilah hasil penjualan barang-barang yang dicari janda itu sepanjang hari. Pagi tadi sebelum si janda berangkat ke gereja aku mendengar septong doa keluar dari mulutnya, “Ya Tuhan, uang lima ribu ini adalah uang hasil kerjaku kemarin. Aku tidak punya uang yang lebih besar lagi yang dapat kupersembahkan sebagai ungkapan syukurku bagi-Mu. Terimalah Tuhan persembahan syukurku ini, amin.” Mendengar kisah lima ribuan itu uang-uang lain pun tertunduk. Malu. (
Pancha Wiguna Yahya)

*Kisah ini hanyalah rekaan belaka yang diinspirasi oleh Lukas 21:1-4

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."