• PDF

Bukan Sembarang Pekerja

Penilaian Pengunjung: / 4
TerjelekTerbaik 
  • Rabu, 29 April 2009 17:16
  • Ditulis oleh Pancha W. Yahya
  • Sudah dibaca: 6369 kali
Sayup-sayup terdengar senandung. Rupanya senandung itu keluar dari mulut seorang teman yang sedang menaiki tangga asrama seminari tempat saya belajar. Begini senandungnya, "Telah lama kucari-cari/ langkah hidup yang lebih pasti/ hidup penuh kemenangan setiap hari/ suatu saat Yesus panggilku menjadi pekerja/ melayani jadi saksi bagi-Nya…" Ah, bukankah itu lagu yang cukup dikenal oleh sebagian besar para pembaca?   Dan sang teman pun meneruskan refrainnya, "Bukan sembarang pekerja/ (la… la… la…)/ tapi kerja sembarangan/ (la… la… la…)…"
Ha? Perasaan liriknya nggak kayak gitu deh! Seingat saya refrainnya berbunyi, "Bukan sembarang pekerja/ (la… la… la…) /Allahku luar biasa/ (la... la... la...)/ Dia Raja s'gala raja/ memanggilku menuai ladang-Nya/ hanya anug'rah semata/ (la... la... la...)/ aku dipakai oleh-Nya/ (la... la... la...)/ sungguh amat istimewa/ 'tuk jadi pekerja Kristus yang mulia."   Nah, begini nih lirik yang betul! Bukan seperti yang teman saya tadi lagukan!  Dia mah ngaco! 

     Eit!  Tapi tunggu dulu...  Sebaiknya kita jangan keburu menyalahkan teman saya. Soalnya setelah saya renungkan rupanya ngaco-nya dia ini nggak sembarangan (emang ada ya ngaco yang nggak sembarangan?), alias punya makna. Saya rasa penggantian kata-kata lagu itu merupakan hasil refleksi atas dirinya sendiri atau setidaknya dari apa yang ia lihat dan dengar.   Kita ini bukan sembarang pekerja, alias pekerja istimewa!  Karena kita dipanggil oleh Allah, Raja segala raja, Bos segala bos, untuk terlibat dalam pekerjaan-Nya yang mulia, agung dan luar biasa.

     Sebetulnya, kita ini tidak layak untuk menjadi pekerja-pekerja Allah.  Kita ini ciptaan sedangkan Allah itu Pencipta.   Masakan Allah yang Maha kuasa dan Maha kreatif melibatkan ciptaan-Nya yang lemah dan tidak cakap dalam pekerjaan-Nya?  Kita ini berdosa, sedang Allah suci.  Untuk menghampiri Allah saja sebetulnya kita tak layak, tapi Ia mau menjadikan kita rekan sekerja-Nya.   Benarlah yang bunyi kalimat terakhir dari lagu tadi, "Sungguh amat istimewa/ 'tuk jadi pekerja Kristus yang mulia."

     Tapi bagaimana respons kita terhadap posisi istimewa yang telah kita terima dari Kristus?   Sayang sekali kita sering tak menunjukkan bahwa kita ini pekerja yang istimewa.  Dalam pelayanan, kita acap kali melayani dengan sekadarnya.  Pokoknya asal melayani. Kita tidak melayani dengan pikir-daya-komitmen yang maksimal.   Jadi benar kan yang dilagukan teman saya tadi?  "Bukan sembarang pekerja/ (la… la… la…)/ tapi kerja sembarangan/ (la… la… la…)…" (Pancha W. Yahya)

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
cheries cleverer  - minta akord lagu   |202.70.54.xxx |27-11-2009 15:28:25
minta akord lagu PEKERJA KRISTUS YANG MULIA donkkkkkkkkk !!!!!1
tolong
kirimkan ke alamat e-mailku yahhhhhhhhh.... thankssssssssssss
selly  - bukan sembarang pekerja   |180.251.69.xxx |21-11-2011 22:03:32
lagu ni bagus
kevin satria  - Choard Bukan Sembarang Pekerja     |114.79.18.xxx |12-10-2012 22:50:39
Tolong choard bukan sembarang pekerja di kasih
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."