• PDF

Cerita

Penilaian Pengunjung: / 1
TerjelekTerbaik 
  • Rabu, 29 April 2009 17:19
  • Ditulis oleh Pancha W. Yahya
  • Sudah dibaca: 1708 kali
Pada mulanya adalah cerita. Jauh sebelum ditemukannya tulisan, manusia telah menyebar kebenaran, sejarah dan kebijaksanaan melalui cerita. Adalah cerita yang telah mempengaruhi kehidupan umat manusia dari generasi ke generasi. Bahkan setelah tulisan ditemukan, manusia masih memakai cerita untuk meneruskan nilai-nilainya nan luhur. Para orangtua Ibrani menuturkan cerita tentang kasih dan kuasa Yahweh kepada anak-anak mereka. Yesus pun mengujarkan cerita ketika mengajar murid-murid-Nya. Ah, betapa dahsyatnya kuasa cerita. Ia tak hanya bertahan dalam sangkar nalar, namun menukik dalam kalbu, mewujud dalam buah-buah aksi.

Namun di manakah tempat cerita dalam keluarga-keluarga kristen masa kini? Lantaran kesibukan, para orangtua modern tak lagi punya waktu untuk bercerita. Para orangtua itu tak sempat mengantar anak-anak tidur dengan cerita yang penuh nilai kebenaran dan iman. Kini peran pencerita telah diserahkan pada televisi, game dan komik. Tak diragukan lagi mereka ini ialah “pencerita-pencerita” yang ulung dan lihai. Anak-anak kita betah berjam-jam “mendengarkan” cerita mereka. Namun sayang yang mereka tuturkan lebih banyak cerita yang merusak daripada membangun. Cerita mereka sarat dengan pornografi, hal-hal gaib, kekerasan dan nilai-nilai yang jauh dari kesantunan.

Satu contoh pengaruh negatif cerita mereka dapat dilihat dalam sosok Renaldi Sembiring. Renaldi, yang berusia 5 tahun, diberitakan gantung diri di sebuah rumah kosong lantaran dilarang ayahnya menghadiri pesta ulang tahun teman kakaknya. Peristiwa yang naas itu terjadi pada tanggal 14 Mei 2005. Oh, betapa mengenaskan, seorang bocah lugu nekad mengakhiri hidupnya dengan cara yang sungguh tragis. Pertanyaan yang amat mengganggu saya, tatkala membaca berita itu, ialah “di mana anak itu belajar cara menggantung diri?” “Dari siapa ia tahu bahwa seutas tali cukup efektif untuk mengakhiri hidupnya. Dari mana si bocah malang itu menyerap informasi bahwa bunuh diri itu membuat semua masalah hidupnya ‘selesai’? ”Tentulah ia tak belajar dari cerita orangtuanya. Sangat mungkin ia belajar dari sinetron-sinetron dan acara-acara kriminalitas TV yang sarat tayangan kekerasan macam tindakan bunuh diri itu.

Sungguhlah ngeri dampak “cerita” buruk yang dituturkan oleh televisi, game, dan komik. Apalagi bila para orangtua tak lagi menuturkan cerita yang indah dan benar. (Pancha W. Yahya)

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."