Supriono

Penilaian Pengunjung: / 2
TerjelekTerbaik 
Kehidupan Supriono (38) sontak berubah. Sebelumnya ia bukan siapa-siapa, tiba-tiba ia menjadi buah bibir. Riwayatnya diliput stasiun-stasiun TV. Namanya terpampang di heading koran-koran. Kisahnya dibicarakan di mailing list-mailing list. Suaranya terdengar dalam talk-show di radio-radio. Ada apa sebenarnya?

      Supriono, ayah dua anak, adalah seorang pemulung berpendapatan Rp 10.000 sehari yang tinggal di kolong jembatan kereta api di depan bioskop Megaria. Suatu pagi (5 Juni 2005) anaknya yang kedua, Khaerunisa (3), meninggal dunia di dalam gerobak pemulungnya, lantaran menderita muntaber.

Karena keterbatasan dana, Supriono hanya mampu membawanya berobat ke puskesmas satu kali. Ketika mendapati putrinya telah meninggal, Supriono hanya mengantongi uang Rp 6.000.  Dengan uang sebesar itu, jangankan menyewa mobil pengantar jenazah, untuk membeli kain kafan pun ia tak sanggup. Akhirnya Supriono membawa jenazah anaknya, yang diselimutinya dengan sarung yang kumal, menuju ke penampungan pemulung di Bogor dengan menumpang KRL. Supriono berharap di penampungan itu ia mendapat belas kasihan dari sesama pemulung. Tatkala Supriono bersama anaknya yang pertama Muriski Saleh (6) hendak menumpang KRL di stasiun Tebet, ada orang menanyakan anak yang digendongnya. Lalu Supriono menjelaskan semua dan… gemparlah seisi stasiun itu, juga orang-orang yang mendengar kisah Supriono melalui media massa.

     Kisah tragis yang menimpa Supriono membuat banyak orang iba dan memberi sumbangan kepadanya. Sebuah stasiun radio swasta di Jakarta mengkoordinir pengumpulan dana untuk Supriono, dan telah terkumpul Rp 40 juta. Saat penyerahan sumbangan itu, Supriono pun diwawancarai. Ia ditanya bagaimana perasaannya mendapat sumbangan sebesar itu, karena seumur hidupnya uang paling banyak yang pernah dimilikinya hanyalah Rp 60.000. Jawaban Supriono sungguh mengejutkan saya. Dengan suara lirih dan pilu Ia menjawab, “saya sedih karena saya mesti ‘mengorbankan’ anak saya…” Dengan kata lain, bagi Supriono anak jauh lebih bernilai dibanding dengan uang seberapa pun besarnya. Anak memang harta yang tak ternilai. Namun sayang banyak orangtua lebih “mengasihi” yang lain dibanding anak(-anak)nya sendiri. Mereka lebih memilih karier, ambisi, ketenaran, kesibukan, hobby, kenikmatan dibanding membesarkan anak dengan segenap perhatian dan cinta kasih. (Pancha W. Yahya)

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Anonymous   |110.136.168.xxx |07-02-2011 16:43:29
i love u
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."