• PDF

Paradoks

Penilaian Pengunjung: / 1
TerjelekTerbaik 
  • Rabu, 29 April 2009 17:21
  • Ditulis oleh Pancha W. Yahya
  • Sudah dibaca: 2030 kali
Dalam Alkitab banyak paradoks. Paradoks, sesuatu yang seolah-olah berlawanan dengan pendapat umum atau kebenaran tetapi nyatanya benar, dapat kita jumpai misalnya dalam kisah pelantikan Daud menjadi raja Israel (1 Sam. 16:1-13). Menurut pendapat umum, termasuk Nabi Samuel, yang cocok jadi raja Israel tentunya salah satu dari abang-abang Daud yang gagah-gagah dan ganteng-ganteng. Namun nyatanya Tuhan memilih Daud, yang masih imut-imut menjadi raja Israel. Kekalahan Goliat di tangan Daud adalah paradoks lain lagi. Bayangkan Daud yang mungil dengan
sebutir batu kecil dapat membunuh Goliat, raksasa berbadan hampir tiga meter, dengan persenjataan
lengkap. Masih banyak lagi paradoks yang lain. Burung gagak bertugas sebagai pengantar daging bagi Elia yang tinggal di tepi sungai Kerit. Kok bisa-bisanya burung gagak yang notabene adalah pemakan daging mengantar daging sampai ke tujuan tanpa memakannya secuil pun. Keledai yang dikenal “dungu” malah dipakai Tuhan untuk berbicara kepada Nabi Bileam, juru bicara Allah. Yesus sendiri adalah paradoks terbesar. Dialah Raja segala raja, namun lahir di kandang, terbaring di tempat makanan hewan yang kotor dan bau. Dan Ia mati dengan hina dan dimakamkan dalam kuburan milik orang lain.

Dalam surat Korintus kita menjumpai satu lagi paradoks. Di sana Paulus menulis satu kalimat yang
paradoksal, “sebab jika aku lemah, maka aku kuat” (2Kor. 12:10). Bagi sebagian besar orang kalimat ini sulit diterima. Kekuatan dan kelemahan adalah dua hal yang bertentangan. Dengan kata lain kekuatan itu negasi dari kelemahan, juga kelemahan adalah negasi dari kekuatan. Bagaimana mungkin Paulus itu lemah, sekaligus kuat? Juga, bagaimana kelemahan bisa melahirkan kekuatan? 

Lalu bagaimana kita dapat mengerti paradoks ini? Yang dimaksud lemah oleh Paulus di sini adalah kelemahan secara fisik: sakit penyakit, penderitaan, penganiayaan, pemenjaraan, dan bencana. Semua kelemahan fisik itu menciptakan kekuatan dalam diri Rasul Paulus. Kekuatan apa? Kekuatan iman! Tatkala Paulus mengalami kelemahan-kelemahan fisik, justru saat itulah imannya semakin kuat. Ia tidak menjadi orang sombong, tetapi menjadi orang yang rendah hati dan bersandar sepenuhnya kepada kekuatan Tuhan. Saat tubuhnya digerus dengan rupa-rupa derita, ia semakin
beriman, karena tubuh (dan penderitaan) itu sementara, tetapi iman itu kekal. Itulah paradoks iman, saat tubuh dan hidup ini makin lemah, justru iman kita makin tak tergoyahkan. (Pancha W. Yahya)

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."