• PDF

Gereja Virtual

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Rabu, 29 April 2009 17:22
  • Ditulis oleh Pancha W. Yahya
  • Sudah dibaca: 2793 kali
Suatu hari saya duduk dan mengkhayal. Dalam khayal itu saya membayangkan bentuk gereja satu abad mendatang. Saya menyebut gereja masa depan itu sebagai gereja virtual. Dalam bayangan saya gereja itu punya tempat parkir super canggih yang sanggup menampung ribuan mobil di tempat parkir bawah tanahnya. Tempat parkir canggih itu menggunakan teknologi tertentu sehingga mobil dapat diparkir secara efisien. 

Saat masuk gedung gereja, setiap pengunjung akan dipindai dari pucuk rambut hingga ujung kaki untuk keperluan absensi dan database gereja. Setelah itu mereka diantar oleh ushers memasuki sebuah ruangan luas yang penuh bilik-bilik bermodel futuristik. Bilik-bilik itu tak besar. Panjangnya 2 meter, lebar 1,2 meter dan tinggi 1,5 meter. Masing-masing jemaat masuk satu bilik. Dalam bilik tersebut, berdiri sebuah kursi dilapis kulit imitasi—zaman itu kulit binatang asli makin langka—warna hitam gelap. Bilik yang kedap suara itu dilengkapi dengan sistem suara yang luar biasa hebat. Paling sedikit ada delapan pengeras suara yang dipasang dalam bilik itu; macam home theatre begitu lah.  Selain kursi dan pengeras suara, dalam bilik itu hanya ada sebuah kacamata; bentuk kacamata itu unik, hampir mirip dengan kacamata snorkling tapi ini lebih kecil.

Setelah berada di dalam bilik, dan duduk di atas kursi yang empuk, pengunjung kebaktian pun memasang kacamata virtual itu. Lalu, segera muncul (melalui kacamata itu) citra seorang anggota majelis. Meski hanya sebuah film, namun sosok berwujud tiga dimensi itu begitu real. Anggota majelis itu menyambut kedatangan anggota jemaat itu dengan begitu personal. Dengan menyebut nama pengunjung itu imaji majelis itu mengucapkan selamat datang dan menuntun dalam pemilihan menu yang tersedia. Pertama-tama yang harus dipilih adalah liturgi ibadah. “Majelis” itu bertutur, “Bila Saudara ingin memilih liturgi menggunakan lagu-lagu dari Kidung Jemaat dan Nyanyian Kidung Baru silakan menyentuh pilihan nomor satu pada layar virtual. Kalau pilihan Saudara jatuh pada liturgi campuran antara lagu-lagu himne dan lagu rohani pendek silakan menyentuh nomor dua. Dan, bila Saudara memilih liturgi dengan lagu-lagu kontemporer silakan sentuh nomor tiga.

Pilihan kedua adalah pengkotbah. Pengunjung kebaktian boleh memilih pengkotbah yang ingin ia dengar. Semua pengkotbah terkenal baik dari negeri sendiri atau mancanegara tersedia dalam pilihan. Setelah pengkotbah dipilih, pengunjung pun boleh memilih tema yang disukainya. Apakah ia ingin mendengar kotbah tentang penghiburan, berkat, atau janji-janji Allah semua tinggal pilih.  Pilihan terakhir adalah gedung kebaktian. Pengunjung bebas memilih gedung kebaktian model apa yang akan ia “masuki.” Dari gedung kebaktian ala gothic yang penuh dengan mozaik-mozaik klasik dan ikon-ikon kristen sampai gedung kebaktian minimalis bahkan yang berarsitektur pascamodern.

Setelah semuanya dipilih, kini kebaktian virtual itu dimulai. Maka tampaklah oleh pengunjung kebaktian itu (melalui kacamata virtualnya) ruangan kebaktian yang luas dengan ribuan orang duduk di dalamnya. Kebaktian pun berjalan dari awal sampai selesai. Saat persembahan, pengunjung tak perlu mengeluarkan uang tunai. Pengunjung tinggal memasukkan sejumlah uang dan sederet nomor validasi kartu kredit mereka, dan persembahan langsung terkirim ke kas gereja. Itulah kebaktian ala gereja virtual. Ciri khas gereja semacam ini adalah individualis dan pragmatis, selain canggih. Tentu saja ritual semacam ini belum tentu akan terjadi nanti. Ini semua khan cuma angan-angan saya.

Meski demikian, kecenderungan gereja untuk mengarah ke sana bukanlah khayalan belaka.  Bibit-bibit gereja virtual dapat kita temui di gereja sekarang. Bahkan bibit-bibit individualis dan pragmatis itu telah berkecambah dan siap untuk bertumbuh dan berbuah. Coba lihat gereja-gereja (terutama yang besar)! Mereka tak beda dengan gedung pertunjukan atau cineplex 21, yang mana antar pengunjungnya tidak ada ikatan emosional satu dengan yang lain. Di gereja, masing-masing pengunjung kebaktian asyik dengan ritual mereka sendiri, tak peduli dengan teman-teman di samping kanan dan kiri.  Boro-boro menjadi gereja yang maguyub dan saling mengasihi, kenal jemaat lain pun tidak!

Hal ini sangat bertolak belakang dengan gereja mula-mula. Lukas, sang dokter-sejarawan, mencatat semangat persekutuan yang amat kental dalam gereja permulaan, “Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing” (Kis. 2:44-45). Namun, semangat koinonia (persekutuan) yang diwujudkan dengan perilaku saling berbagi kini telah luntur. Anggota jemaat menjadi apatis satu dengan yang lain. Alhasil, tak jarang anggota jemaat yang mengalami prahara tak tahu harus mengadu ke siapa. Masih untung mereka meminta tolong kepada pendeta, daripada meminta petunjuk kepada paranormal atau menempuh jalan nekat. Sesungguhnya banyak pengunjung kebaktian kesepian di tengah hiruk pikuknya ibadah. Ironis memang, mereka seperti ramai dan bersama-sama namun masing-masing terpisah-pisah dalam “bilik-bilik”-nya sendiri.

Semangat pragmatisme pun telah merasuki gereja. Yang menyedihkan adalah kehidupan bergereja masa kini telah menjelma menjadi pujasera. Orang Kristen setiap minggunya biasa memilih-milih gereja menurut keinginan mereka. Kalau mau mendengar pengkotbah yang lucu, mereka akan pergi ke gereja A. Kalau mau menyaksikan pengkotbah yang energik dan ganteng, lantas mereka mendatangi gereja B. Jika ingin mendapat berkat dan kesembuhan mereka pun masuk ke gereja C.  Kalau ngebet ketemu selebriti (yang diundang untuk bersaksi dan berpentas) atau mendengarkan musik yang gebyar-gebyar mereka meluncur ke gereja D. Begitu seterusnya. Akhirnya, gereja tak ubahnya pemuas keinginan para pengunjungnya. Tatkala orang-orang Kristen ini beribadah yang ada dalam benak mereka bukan, “Apa yang dapat aku berikan kepada Tuhan?” tetapi “apa yang dapat aku nikmati?” Selain itu, kebiasaan semacam ini akan membuat mereka memiliki iman yang gado-gado dan stagnan. Ibarat pohon, mereka takkan bisa bertumbuh dan berbuah karena terus dipindah dari pot yang satu ke pot yang lain. Perilaku seperti ini pun akan membahayakan gereja secara umum. Gereja Tuhan seolah-olah mengalami pertumbuhan anggota yang siginifikan tetapi nyatanya hanya perpindahan anggota semata.

Cara pandang orang-orang Kristen ini harus diubah. Seyogyanya mereka tidak (lagi) memandang gereja sebagai alat untuk kepentingan diri yang sesaat. Namun sebaliknya mereka harus memandang gereja sebagai komunitas tempat mereka bertumbuh dalam iman-kasih-pengharapan. Kiranya gereja virtual imajinasi saya tak akan pernah terwujud. Semoga! (Pancha W. Yahya)

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
wina  - mmm.....   |202.70.54.xxx |28-09-2010 02:42:43
emang yang gereja kaya gini belum muncul ya? katanya udah ada? apa bener?
thx....
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."